Mengapa Pembentukan Kabinet Baru Lebanon Membentur Dinding ?
-
Saad al-Hariri
Saad al-Hariri kembali menunda pengumuman susunan kabinet baru Lebanon yang menimbulkan pertanyaan besar dari rakyatnya dan publik regional.
Tampaknya ada dua alasan utama penudaaan ini yang berkaitan dengan goyahnya posisi politik al-Hariri dan usulan formalnya untuk pembentukan kabinet baru Lebanon.
Saad al-Hariri ditunjuk membentuk kabinet untuk ketiga kalinya dalam empat tahun terakhir. Perbedaan antara tahap ini dan dua tahap sebelumnya pada 2016 dan 2018, mengenai posisi Al-Hariri yang hanya memenangkan lebih sedikit suara pada tahap ini dengan meraih 65 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk kabinet.
Hal ini menunjukkan bahwa prediksi al-Hariri tentang pembentukan kabinet di Lebanon tidak tepat, padahal al-Hariri dan pendukungnya bekerja keras untuk menciptakan persepsi bahwa hanya Saad al-Hariri yang bisa menyusun kabinet, bukan yang lain. Perolehan mosi percaya hanya 65 anggota parlemen mengindikasikan bahwa proses pembentukan kabinet Lebanon akan sulit dan terjal.
Majalah Foreign Policy menulis, "Bukankah masalah Lebanon dan situasi di negara ini yang menyebabkan al-Hariri mengundurkan diri. Lalu mengapa dia kembali mengisi jabatan itu?" Faktanya, alasan meningkatnya oposisi terhadap Al-Hariri karena dia sebelumnya telah menjabat sebagai Perdana Menteri Lebanon dan mengundurkan diri karena protes rakyat meningkat.
Alasan lain terlambatnya pembentukan kabinet Al-Hariri berhubungan dengan usulannya sendiri. Ketua gerakan Al-Mustaqbal ini menekankan pembentukan kabinet non-politik dan teknokrat.
Proposal Saad al-Hariri sebagai bagian dari inisiatif Prancis untuk membentuk kabinet di Lebanon, yang diusulkan dan disetujui dalam pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron setelah terjadi ledakan besar Beirut.
Usulan Al-Hariri mendapat tentangan serius. Pasalnya, di satu sisi, al-Hariri bukanlah teknokrat melainkan politisi murni. Di sisi lain, beberapa arus politik Lebanon, terutama Gerakan Patriotik Merdeka yang dipimpin oleh Gebran Bassil berkeras mengusulkan pembentukan kabinet kombinasi politisi-teknokrat.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Arab Saudi, yang ingin banyak terlibat dalam proses pembentukan kabinet Lebanon sedang menunggu kesempatan untuk menempatkan representasinya sebagai alat jangka panjang guna menyingkirkan Hizbullah dari pemerintahan Lebanon.
Sedangkan, bentuk lain yang diusulkan al-Hariri untuk membentuk kabinet adalah rotasi beberapa kursi menteri. Tapi masalahnya, perputaran kursi menteri bukanlah preseden baru di Lebanon, dan selama ini terbukti tidak berhasil meredam friksi politik di negara tersebut.(PH)