Amerika Tinjauan dari Dalam, 2 Juli 2021
https://parstoday.ir/id/news/world-i100338-amerika_tinjauan_dari_dalam_2_juli_2021
Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai sikap AS dalam masalah perundingan JCPOA.
(last modified 2026-03-03T12:22:08+00:00 )
Jul 02, 2021 03:18 Asia/Jakarta
  • Menlu AS, Antony Blinken
    Menlu AS, Antony Blinken

Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai sikap AS dalam masalah perundingan JCPOA.

Isu lain tentang kritik terbaru Trump terhadap upaya Biden untuk memulihkan Kesepakatan nuklir Iran, AS mendukung Israel menormalisasi hubungan dengan banyak negara, AS mempertahankan 650 pasukan di Afghanistan, komandan skuadron udara AS tewas mencurigakan di Qatar, dan AS membela keputusannya menyerang daerah Abu Kamal Suriah.

 

Perundingan JCPOA di Wina

 

Menlu AS: Masih Ada Perbedaan Mendasar dalam Perundingan JCPOA

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken mengatakan sejumlah kemajuan dicapai dalam perundingan tidak langsung di Wina untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir JCPOA.

“Tetapi masih ada beberapa perbedaan fundamental yang harus diselesaikan,” tambahnya pada Selasa (29/6/2021) seperti dilaporkan televisi Aljazeera.

Dia mengklaim bahwa sekarang bola ada di tangan Iran. “Terserah kepada Iran untuk memutuskan apakah mereka siap untuk kembali memenuhi kewajibannya di bawah JCPOA atau tidak,” kata Blinken.

Namun, ia tidak menyinggung pelanggaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap JCPOA.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Tehran tidak pernah meninggalkan JCPOA sehingga harus bergabung kembali ke dalam kesepakatan.

“Republik Islam tidak pernah meninggalkan JCPOA, Amerika-lah yang harus membuat keputusan dan kembali ke dalam kesepakatan dengan mencabut sanksi ilegal dan secara efektif memenuhi komitmennya,” tegas Saeed Khatibzadeh.

Pada 8 Mei 20218, Presiden AS waktu itu, Donald Trump secara sepihak menarik negaranya keluar dari kesepakatan nuklir dengan Iran. Washington kemudian menerapkan kembali sanksi nuklir terhadap Tehran.

 

Donald Trump dan Joe Biden

 

Trump Kritik Upaya Biden Pulihkan Kesepakatan Nuklir Iran

Mantan Presiden AS Donald Trump menyebut pemerintahan Biden sebagai "bencana total" dan mengkritik upaya kubu Demokrat untuk kembali ke dalam kesepakatan nuklir dengan Iran.

"Joe Biden menghancurkan bangsa kita persis di depan mata kita. Pemerintahannya benar-benar bencana setelah lima bulan," kata Trump dalam pidato di hadapan para pendukungnya di Ohio, Sabtu (26/6/2021) malam waktu setempat.

"Biden merusak kemajuan kebijakan luar negeri dengan mencoba bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir Iran. Biden tunduk pada musuh AS, ini memalukan," ujarnya.

"Dia menempatkan Amerika di urutan terakhir, kami menempatkan Amerika di urutan pertama, itu sangat simpel," kata Trump.

Ia meminta para pendukungnya untuk merebut kembali mayoritas di Kongres AS. "Kami berniat merebut kembali Dewan Perwakilan Rakyat, kami akan mengambil kembali Senat dan Amerika Serikat," tegasnya.

Trump juga mengulangi niatnya untuk mencalonkan diri dalam pemilu 2024 dan kembali ke Gedung Putih.

Setelah pemilu presiden pada November 2020, Trump selalu menekankan bahwa ia tidak kalah dalam pemilu dan Biden telah melakukan kecurangan.

 

Antony Blinken dan Yair Lapid

 

AS Dukung Israel Normalisasi Hubungan dengan Banyak Negara

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken mendukung rezim Zionis Israel untuk menormalisasi hubungan dengan lebih banyak negara.

Hal itu disampaikan Blinken dalam pertemuan dengan Yair Lapid, mitranya dari Israel di kota Roma, Italia pada hari Minggu (27/6/2021).

“Anda (Lapid) dengan tepat mencatat dukungan kuat kami untuk perjanjian normalisasi, Kesepakatan Abraham dengan para tetangga Israel dan sekitarnya. Kami sangat mendukung ini dan semoga ada peserta lain,” kata menlu AS.

Lapid menuduh Benjamin Netanyahu telah merusak dukungan AS kepada rezim Zionis. Lapid mengatakan ia telah berbicara dengan kubu Demokrat dan Republik AS sejak menjabat dan mengingatkan mereka semua bahwa kita berbagi “nilai-nilai dasar” Amerika.

Sejauh ini, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Sudan telah menormalisasi hubungan dengan rezim Zionis setelah mendapat tekanan dari mantan Presiden AS Donald Trump.

 

 

Amankan Kedutaan, AS Pertahankan 650 Pasukan di Afghanistan

Amerika Serikat akan mempertahankan 650 tentaranya di Afghanistan untuk menjaga keamanan kedutaannya dan melawan potensi serangan.

Seperti dilansir Afghan Voice Agency (AVA), Kuasa Usaha Kedutaan Besar AS di Kabul, Ross Wilson pada Minggu (27/6/2021) mengatakan selain mengawal para diplomat AS, melindungi pangkalan udara Kabul juga penting bagi Washington.

Berdasarkan kesepakatan antara Washington dan Taliban di Qatar, AS berkomitmen menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan sampai 11 September 2021.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid sebelum ini mengatakan jika sejumlah tentara AS masih berada di Afghanistan, pasukan pendudukan tidak akan aman.

Pada Jumat lalu, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan Ketua Dewan Tinggi untuk Rekonsiliasi Nasional Abdullah Abdullah, bertemu dengan Presiden Joe Biden di Gedung Putih.

Kedua pemimpin Afghanistan ini juga akan bertemu Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin di Pentagon.

 

 

Komandan Skuadron Udara AS Tewas Mencurigakan di Qatar

Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon mengabarkan tewasnya seorang komandan Angkatan Udara negara itu di pangkalan udara Al Udeid, kota Doha, Qatar.

"Komandan Skuadron Red Horse AU Amerika Serikat di New Mexico ditemukan meninggal dunia saat dikirim ke Qatar untuk bergabung dalam operasi Inherent Resolve," kata Pentagon seperti dikutip situs Airforce Times, Senin (28/6/2021).

Letnan Kolonel James C. Willis, 55 tahun yang berasal dari Albuquerque, New Mexico, meninggal dunia pada Sabtu (26/6) pukul 7:30 di pangkalan udara Al Udeid, Qatar.

Pihak berwenang AS saat ini tengah melakukan penyelidikan terkait insiden non-tempur yang menyebabkan Letkol James Willis meninggal dunia. Beberapa waktu lalu dua tentara AS juga meninggal secara mencurigakan di Kuwait dan Suriah.

 

Linda Thomas-Greenfield

 

AS Bela Keputusannya Serang Daerah Abu Kamal

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield dalam sebuah surat kepada Dewan Keamanan, melontarkan klaim-klaim baru tentang serangan udara AS di perbatasan Irak-Suriah.

"Serangan udara baru-baru ini di perbatasan Irak-Suriah dilakukan untuk mencegah serangan milisi terhadap pasukan AS," tulis Thomas-Greenfield pada Selasa, 29 Juni 2021.

"Tanggapan militer ini diambil setelah opsi non-militer terbukti tidak memadai untuk mengatasi ancaman, dengan tujuan untuk meredakan situasi dan mencegah serangan lebih lanjut," tambahnya seperti dikutip laman Farsnews.

Pada Senin lalu, pesawat tempur AS menyerang posisi Brigade 14 Hashd al-Shaabi di daerah Abu Kamal. Empat anggota Hashd al-Shaabi dan seorang anak Suriah gugur dalam serangan itu.

Departemen Pertahanan AS dalam sebuah siaran pers, mengaku bertanggung jawab atas serangan udara di beberapa daerah di Suriah dan Irak. Serangan ini dilakukan atas perintah Presiden Joe Biden.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Irak mengecam serangan tersebut dan menganggap tindakan AS sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan keamanan warga Irak.(PH)