Republik Azerbaijan dan Provokasi Zionis terhadap Iran
Pada saat pejabat tinggi Republik Azerbaijan mulai berbicara dengan pihak berwenang Armenia, para ahli politik yang berafiliasi dengan pemerintah Baku semakin aktif dalam menyebarkan kebencian terhadap Iran di medianya.
Propaganda media Baku terhadap Iran menunjukkan kesenjangan yang tajam antara pandangan warga Muslim Republik Azerbaijan dan pemerintahan Ilham Aliyev tentang hubungan dengan negara-negara tetangga.
Dalam hal ini, beberapa ahli Azerbaijan sangat serius mengambil peran dan pengaruh pemerintah asing dalam urusan dalam negeri Republik Azerbaijan.
Misalnya, Haj Ilqar Ebrahim Oglu, pemimpin komunitas agama Republik Azerbaijan dan pakar Azeri terkemuka dalam urusan agama dan politik, menyebut upaya beberapa arus yang mempromosikan Islamofobia di Aras Utara dengan dalih ketegangan di Baku dengan Tehran sia-sia.
Tokoh terkemuka Republik Azerbaijan dalam wawancara langsung dengan Masawat TV mengatakan, “Rakyat Republik Azerbaijan telah mempertahankan Islam selama tujuh puluh tahun pemerintahan komunisme yang ateis, dan tidak ada kekuatan yang dapat mengambil Islam dari rakyat negeri ini,” .
Pemimpin komunitas agama Republik Azerbaijan menyinggung pernyataan ancaman baru-baru ini dari Perdana Menteri rezim Zionis terhadap Iran, dengan mengatakan, "Rezim rasis Israel tidak memiliki kemampuan untuk melakukan ancaman terhadap Iran,".
Baru-baru ini, Presiden Republik Azerbaijan, Ilham Aliyev dalam sebuah pesan pada peringatan pertama serangan militer terhadap pasukan Armenia, pada 27 September 2021, dalam sebuah langkah yang aneh dan belum pernah terjadi sebelumnya, mendefinisikan Iran daripada Armenia sebagai negara asing baru sebagai musuh untuk Republik Azerbaijan.
Tidak ada keraguan bahwa pernyataan Presiden Azerbaijan baru-baru ini adalah hasil dari tipu daya para diplomat Zionis di Baku dan beberapa politisi yang aktif di kawasan yang tidak akan menguntungkan Republik Azerbaijan dalam jangka panjang.
Masalah ini berulangkali ditegaskan oleh Haj Ilqar Ebrahim Oglu, "Kami telah mengatakan berkali-kali bahwa rezim Zionis tidak boleh mengirim pesan ke Iran dari tanah kami dan di daerah yang kami bebaskan dengan darah para pahlawan kami. Ini sepenuhnya merugikan kami,".
Namun, rezim rasis Israel masih aktif di Aras utara, dan tampaknya berusaha mengejar kepentingannya di wilayah tersebut sambil menyebarkan kebencian terhadap pemerintah dan rakyat Iran.
Dalam hal ini, media yang berafiliasi dengan pemerintah Ilham Aliyev bekerja dalam upaya bersama untuk memperkenalkan Turki, Pakistan, dan rezim Zionis sebagai sekutu nyata rakyat Muslim Republik Azerbaijan dalam Perang Karabakh Kedua.
Pejabat Azeri bersama penegak hukum dan pasukan keamanannya juga telah memaksa orang-orang Muslim Republik Azerbaijan untuk menyebarkan kebencian terhadap Iran dengan mengibarkan bendera yang disebut sekutu Baku ini. Padahal, selama Perang Karabakh Kedua, Iran, sebagaimana Perang Pertama, mendukung hak-hak rakyat Republik Azerbaijan.
Terlepas dari dukungan ini, tampaknya pembicaraan tentang bantuan Iran kepada Republik Azerbaijan di Aras utara telah dilarang. Bahkan Presiden Azerbaijan, yang selalu bersikeras pada masalah ini, baru-baru ini "membalikkan pernyataannya sehingga merusak hubungan kedua negara.
Dalam situasi ini, musuh-musuh perluasan hubungan antara Tehran dan Baku berusaha untuk menekan Muslim Syiah di utara Aras, dengan alasan palsu, sambil menghubungkan beberapa peristiwa negatif dengan masalah agama, selain mengintensifkan permusuhan terhadap Iran.
Selama ini warga Muslim Republik Azerbaijan tetap menentang kebijakan pemerintah Ilham Aliyev dan berusaha mencegah kehadiran rezim rasis Israel di wilayah Republik Azerbaijan dengan bantuan pemerintah Ilham Aliyev.
Perbedaan pendapat ini menunjukkan jarak yang sangat jauh antara tuntutan rakyat dengan kebijakan pemerintahan Ilham Aliyev. Kenyataannya, pernyataan-pernyataan baru-baru ini oleh pemimpin komunitas keagamaan Republik Azerbaijan menunjukkan jauhnya jarak antara pemerintahan dan rakyat Muslim negara ini.(PH)