Amerika Tinjauan dari Dalam 12 Maret 2022
https://parstoday.ir/id/news/world-i116918-amerika_tinjauan_dari_dalam_12_maret_2022
Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya mengenai keputusan resmi Presiden AS menjatuhkan sanksi migas terhadap Rusia.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Mar 12, 2022 08:26 Asia/Jakarta
  • Amerika Tinjauan dari Dalam 12 Maret 2022

Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya mengenai keputusan resmi Presiden AS menjatuhkan sanksi migas terhadap Rusia.

Selain itu, Menlu AS mengklaim Rusia mengalami kekalahan strategis di Ukraina, Polandia menolak tawaran AS mengirimkan jet tempur ke Ukraina, pasukan khusus AS dan Inggris akan menyelamatkan Zelensky dan statemen mantan perwira AS yang menyatakan bahwa milisi ekstrem Ukraina mengagalkan evakuasi warga sipil.

 

Presiden AS, Joe Biden

 

Presiden AS Resmi Umumkan Sanksi Migas Rusia

Presiden AS, Joe Biden secara resmi mengumumkan pelarangan impor minyak, gas, dan energi Rusia.

Presiden AS, Joe Biden hari Selasa mengumumkan larangan impor minyak, gas, dan energi Rusia pada saat beberapa sekutu Eropanya mungkin tidak dapat mengambil tindakan serupa.

Biden mengklaim bahwa Amerika Serikat, bekerja sama dengan Eropa, sedang mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap energi Rusia.

Tindakan Barat terhadap Rusia datang karena Barat mengkhawatirkan eskalasi sanksi Rusia terhadap sektor ekonomi, terutama sektor minyak dan gas, akan semakin mengacaukan Eropa dan pasar energi global.

Berlanjutnya kebijakan anti-Rusia di negara-negara Eropa juga membahayakan keamanan dalam negeri Eropa.

Berbagai negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, serta anggota Uni Eropa telah menjatuhkan sanksi berat kepada Moskow menyusul operasi militer Rusia di Ukraina.

Presiden Rusia sebelumnya menyebut keputusan Barat untuk menjatuhkan sanksi terhadap Moskow sebagai deklarasi perang.

Menyikapi gerakan provokasi Barat di dekat perbatasan Rusia, Presiden Vladimir Putin pada 24 Februari memerintahkan operasi militer khusus di wilayah Donbass sebagai tanggapan atas permintaan bantuan militer dari para pemimpin Republik Donetsk dan Luhansk di Ukraina timur. Setelah itu, jet tempur, artileri, dan sistem rudal Rusia menargetkan posisi militer Ukraina.

Hubungan antara Barat dan Moskow telah tegang sejak 2014 di empat sumbu ekspansi militer NATO, terutama Amerika Serikat di dekat Rusia dan di Eropa Timur, krisis Ukraina, Laut Baltik dan situasi di Suriah.

Amerika Serikat dan Uni Eropa telah memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi dan keuangan terhadap Rusia sejak 2014, yang memicu reaksi keras dari Moskow.

 

Menlu AS, Antony Blinken

 

Blinken Klaim Rusia Alami Kekalahan Strategis di Ukraina

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken mengatakan bahwa Rusia tidak akan mencapai tujuannya di Ukraina dan akan menderita kekalahan strategis di negara tetangganya itu.

Menlu AS, Antony Blinken dalam konferensi pers bersama dengan timpalannya dari Inggris Liz Truss hari Rabu (9/3/2022) mengatakan, "Jika tujuan Putin memaksakan rezim boneka dengan menggulingkan pemerintah saat ini di Ukraina, saya pikir rakyat Ukraina tidak akan pernah menerimanya,".

Blinken juga meminta Moskow segera mengizinkan warga sipil Ukraina meninggalkan kota-kota yang terkepung pasukan Rusia.

Menteri Luar Negeri AS menggambarkan tawaran Moskow untuk mengevakuasi warga Ukraina ke Rusia dan Belarusia sebagai usulan yang tidak berarti.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Inggris juga mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin akan gagal mencapai tujuannya di Ukraina.

Statemen menlu AS dan Inggris mengemuka di saat Kementerian Pertahanan Rusia hari Rabu mengatakan bahwa 90 persen pangkalan angkatan udara Ukraina,yang menampung sebagian besar jet tempur dan fasilitas militer negara berhasil dihancurkan dalam operasi militer pada hari Selasa.

Menanggapi gerakan provokatif Barat baru-baru ini di dekat perbatasan Rusia, Presiden Vladimir Putin pada 24 Februari memerintahkan serangan militer ke wilayah Donbass untuk memenuhi permintaan bantuan militer dari para pemimpin Republik Donetsk-Luhansk di Ukraina timur.

Berbagai negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, dan anggota Uni Eropa telah menjatuhkan sanksi berat kepada Moskow menyusul operasi militer Rusia di Ukraina.

 

Jet tempur MIG-29

 

Polandia Tolak Tawaran AS Kirimkan Jet Tempur ke Ukraina

Kantor Perdana Menteri Polandia menyatakan bahwa mereka tidak akan mengirim jet tempur ke Ukraina, dan tidak akan mengizinkan penggunaan bandaranya.

Kantor Perdana Menteri Polandia di akun resmi Twitternya hari Minggu (6/3/2022) menyatakan, "Polandia tidak akan mengirim jet tempur ke Ukraina. Kami memberikan bantuan yang signifikan di banyak bidang lain.".

Sebelumnya, Euronews melaporkan, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken selama kunjungan ke Moldova pada hari Minggu mengatakan bahwa Washington secara aktif mengerjakan kesepakatan dengan Polandia tentang pengiriman jet tempur ke Ukraina.

Sebelumnya, media AS melaporkan bahwa berdasarkan perjanjian tersebut, Polandia dapat mengirimkan bekas jet tempur MiG-29 buatan Uni Soviet ke Ukraina, yang dikuasai penggunaannya oleh pilot Ukraina, dengan imbalan jet tempur F-16 dari Amerika Serikat.

Kiev ingin Barat memberikan bantuan militer, termasuk jet tempur, untuk membela Ukraina dari serangan pasukan Rusia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky telah meminta negara-negara Eropa Timur untuk memberinya pesawat bekas buatan Uni Soviet, karena pilot Ukraina tahu cara menerbangkannya.

Menyikapi provokasi langkah-langkah Barat di dekat perbatasan Rusia, Vladimir Putin memerintahkan operasi militer khusus di Ukraina, yang menyulut pertempuran sengit di negara ini.

 

Zelensky

 

Pasukan Khusus AS dan Inggris akan Selamatkan Zelensky

Pasukan khusus Amerika Serikat, dan Inggris, SAS dikabarkan tengah menyusun rencana untuk menyelamatkan Presiden Ukraina jika situasi terus memburuk.

Dikutip situs dailyadvent, Minggu (6/3/2022), pasukan khusus AS dan Inggris sedang berlatih untuk melancarkan operasi penyelamatan penuh bahaya Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

 Lebih dari 70 komando Inggris, dan 150 pasukan khusus Angkatan Laut AS saat ini tengah bersiap melaksanakan misi penyelamatan Zelensky di sebuah pangkalan militer di Lithuania.

Salah satu surat kabar AS, Sabtu malam mengabarkan rencana AS untuk menyelamatkan Presiden Ukraina termasuk dengan operasi gerilya, dan evakuasi Zelensky ke Polandia serta membentuk pemerintahan di pengasingan.

Menurut koran Washington Post, seorang pejabat AS yang tidak bersedia diungkap identitasnya mengatakan, "Kami sekarang tengah menyusun skenario darurat untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi termasuk pembentukan pemerintahan Ukraina di pengasingan Zelensky."

 

Scot Bennett

 

Mantan Perwira AS: Milisi Ekstrem Ukraina Gagalkan Evakuasi Sipil

Seorang mantan perwira militer Amerika Serikat mengatakan, milisi ekstrem ultranasionalis Ukraina adalah pihak yang menggagalkan proses evakuasi warga sipil dari lokasi-lokasi perang di negara itu.

Pada hari Senin, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan telah membuka enam koridor kemanusiaan untuk mengvekuasi warga sipil dari kota Kiev, Mariupol, Kharkiv dan Sumy ke arah kota lain.

Menurut Kemenhan Rusia, pasukan negara ini telah menghancurkan sekitar 2.400 infrastruktur militer Ukraina, akan tetapi resimen ultranasionalis Ukraina menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup.

Scott Bennet, mantan perwira militer AS, Rabu (8/3/2022) dalam wawancara dengan PressTV menuturkan, "Saat ini milisi sayap kanan ekstrem, dan anasir-anasir neo-Nazi memanfaatkan warga sipil sebagai perisai hidup, dan menyerang kota-kota, hal ini menunjukkan keputusasaan Presiden Volodymyr Zelensky, selain itu mengungkap sifat jahat rezim ini."

Ia menambahkan, "Pasukan ultranasionalis Ukraina sama sekali tidak peduli dengan kepentingan rakyat negara itu, dan keharusan menjaga budayanya. Mereka hanya ingin berperang, dan melaksanakan tugas dari tuan-tuan mereka, terutama Amerika Serikat."

Scott Bennett menjelaskan, "Orang-orang Rusia menjaga keamanan dengan membuka koridor-koridor untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan, dan membuka pintu keluar bagi mereka yang ingin keluar dari Ukraina, sehingga mereka mendapat simpati dari warga di lokasi-lokasi perang."(PH)