Perubahan Arah Kebijakan Turki, dari NATO ke Rusia
Peringatan yang disampaikan Duta Besar Turki di Rusia bahwa Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO tidak berhak mengatur Turki dalam menjalin hubungan dengan negara lain, adalah reaksi atas pesan yang diperkirakan rahasia, yang diperoleh oleh petinggi politik Turki dari sejumlah sumber, pasca kunjungan Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki ke Moskow.
Meskipun hingga kini pemerintah Turki dan sumber-sumber media negara itu tidak memberitakan bagaimana pesan-pesan itu sampai diterima, akan tetapi pernyataan Dubes Turki di Moskow mengindikasikan adanya sejumlah reaksi terbuka dan tersembunyi dari negara-negara Eropa atas strategi baru Turki yang berusaha mendefiniskan ulang hubungan Ankara-Moskow. Sebuah proses positif pasca permintaan maaf Erdogan kepada Vladimir Putin, Presiden Rusia karena penembakan jatuh jet tempur Rusia oleh Turki.
Kunjungan terbaru Presiden Turki ke Rusia dan dialog petinggi kedua negara terkait sejumlah banyak isu, bilateral maupun regional serta internasional, patut dievaluasi dalam kerangka masalah ini.
Sekalipun pasca permintaan maaf Erdogan atas Putin dan kekhawatiran atas pulihnya hubungan Ankara-Moskow, memicu gelombang protes dari negara-negara Eropa dengan dalih tindakan kekerasan pemerintah Turki terhadap para pengkudeta, namun protes-protes itu tidak mampu merubah keputusan final Erdogan untuk berkunjung ke Rusia serta upaya untuk meredefinisi dan menghidupkan kembali hubungan Turki-Rusia.
Jika masalah pelanggaran standar-standar Uni Eropa oleh Turki untuk bergabung dengan grup Eropa disampaikan sebelum Erdogan berangkat ke Moskow, maka saat ini isu ketidakamanan di pangkalan udara Incirlik, lokasi penyimpanan sejumlah persenjataan Barat termasuk senjata-senjata nuklir, pasti sudah dimunculkan.
Mevlut Cavusoglu, Menteri Luar Negeri Turki mengatakan, sebuah delegasi militer-keamanan bersama perwakilan Kemenlu Turki akan bertolak ke Rusia untuk bertemu dengan pejabat negara itu dan membicarakan krisis Suriah. Kepala Dinas Intelijen Turki adalah salah satu yang dijadwalkan ikut dalam delegasi tersebut.
Kepada wartawan kantor berita Anadolu, Cavusoglu menuturkan, sudah dicapai kesepakatan dengan Rusia terkait gencatan senjata di Suriah dan masuknya bantuan-bantuan kemanusiaan ke beberapa wilayah negara itu, dan krisis Suriah hanya bisa diselesaikan lewat jalur politik.
Menlu Turki mengungkapkan, Rusia meminta kami menyerahkan kepada mereka kordinat lokasi-lokasi yang menjadi sasaran serangan bom Turki di Suriah.
Menurutnya, Rusia sudah mencabut sanksi ekspor bahan makanan ke Turki. Menlu Turki menegaskan bahwa pemulihan hubungan dengan Rusia bukanlah sebuah pesan untuk Barat.
Cavusoglu juga mengatakan, Uni Eropa sudah melakukan kesalahan-kesalahan serius soal kudeta militer gagal di Turki. Dua pertiga rakyat Turki, katanya, menginginkan diakhirinya negosiasi terkait bergabungnya Turki dengan Uni Eropa.
Ia menambahkan, kelompok Gulen ingin merusak hubungan kami dengan Rusia dan negara-negara Asia Tengah. Pilot-pilot pesawat Turki yang menembak jatuh jet tempur Sukhoi-24, Rusia, dikecam karena bekerjasama dengan jaringan Gulen (FETO) bukan karena menembak jatuh jet tempur Rusia.
Umit Yardim, Dubes Turki untuk Rusia mengatakan, NATO sama sekali tidak berhak mendikte Ankara untuk menjalin hubungan dengan negara mana yang mereka tentukan. Kami tetap akan meningkatkan level hubungan kami dengan Rusia sekalipun Barat mencegahnya.
Ia menambahkan, satu-satunya poin yang ingin saya sampaikan adalah kami tidak mengecualikan negara-negara yang bukan anggota NATO. NATO sampai kapanpun tidak akan mampu membatasi interaksi kami dengan negara-negara lain.
Terkait spekulasi tentang keanggotaan Turki di NATO pasca kudeta, Yardim menjelaskan, berita tentang Turki sedang bermasalah dengan NATO, bahwa Turki akan meninjau ulang hubungan dengan NATO, dan bahwa Turki mungkin akan berpisah dari NATO, semuanya hanya dugaan.
Interfax, Rusia mengabarkan, Dubes Turki menekankan kemungkinan perubahan sikap Ankara terkait Bashar Al Assad, Presiden Suriah dan warga Kurdi.
Umit Yardim menuturkan, sikap sebuah negara tidak dapat berubah dalam semalam.
Sehubungan dengan kunjungan terbaru Erdogan ke Moskow, Dubes Turki itu mengatakan, pertemuan terbaru Erdogan dan Putin adalah sebuah kemenangan diplomatik dan bersejarah.
Ia melanjutkan, Moskow dan Ankara sepakat untuk memulai dilaog tentang Suriah setelah perundingan tanggal 9 Agustus. Pertemuan-pertemuan semacam ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Perlu diketahui, sebelumnya Umit Yardim adalah Dubes Turki untuk Iran. (HS)