Mantan PM Jepang Kritik Ketergantungan Buta Tokyo pada Washington
-
Shigeru Ishiba
Pars Today - Mantan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba dalam sebuah wawancara televisi menegaskan bahwa “ketaatan buta terhadap Amerika Serikat” tidak akan pernah menghasilkan aliansi sejati dan kuat antara kedua negara. Ia menilai Tokyo harus memiliki peran yang lebih mandiri dan jelas dalam hubungan keamanan dengan Washington.
Menurut laporan IRNA pada hari Senin (10/11/2025), Ishiba dalam wawancaranya dengan jaringan berita Jepang MBS News mengatakan bahwa ia merasa “beban berat telah terangkat dari pundaknya” dan kini telah terbebas dari kondisi “ketegangan maksimum”.
Ishiba, seorang politisi senior dari Partai Demokrat Liberal (LDP) Jepang, terpilih sebagai perdana menteri pada September tahun lalu setelah memenangkan pemilihan internal partai. Namun, masa jabatannya tidak berlangsung lama, ia mengundurkan diri pada Oktober tahun ini karena penurunan popularitas dan tekanan politik dalam negeri.
Seruan untuk Kemandirian Strategis Jepang
Dalam pernyataannya, Ishiba menegaskan bahwa “Jepang dan Amerika Serikat bukan satu negara, bahkan jika mereka sekutu”.
Sebagai mantan Menteri Pertahanan, ia dikenal sebagai salah satu tokoh politik yang kerap memperingatkan bahaya ketergantungan berlebihan Jepang pada payung keamanan Amerika. Ia juga menekankan pentingnya mendefinisikan peran Jepang secara lebih otonom dalam kerangka hubungan bilateral kedua negara.
Ishiba menambahkan bahwa demi kepentingan nasional, setiap negara harus memiliki peran yang jelas dalam bidang keamanan, seraya menilai bahwa Amerika Serikat bertindak secara dingin dan pragmatis. Karena itu, menurutnya, Tokyo harus berupaya keras untuk menunjukkan bahwa Jepang adalah mitra yang tak tergantikan bagi Washington.
Ia memperingatkan bahwa “mengiyakan semua keinginan Amerika tanpa syarat” tidak akan menciptakan aliansi yang kuat dan tulus. Ishiba juga menyatakan keyakinannya bahwa Sanae Takaichi, Perdana Menteri Jepang saat ini, memahami hal itu dengan baik dan akan menjalankan kebijakan luar negerinya berdasarkan pendekatan yang lebih seimbang.
Konteks Politik dan Keamanan Jepang
Hubungan Tokyo–Washington selama beberapa dekade terakhir didasarkan pada perjanjian keamanan bilateral, yang menempatkan pasukan Amerika Serikat di wilayah Jepang. Namun, perdebatan mengenai peningkatan peran militer Jepang dan pembagian tanggung jawab keamanan antara kedua pihak terus menjadi isu utama dalam politik negeri ini.
Pernyataan terbaru Ishiba mencerminkan arus pemikiran yang berkembang di Jepang yang menyerukan pengurangan sikap tunduk terhadap Washington serta penguatan peran independen Jepang dalam kebijakan dan keputusan keamanan nasionalnya, sebuah perubahan strategis yang dapat mengarah pada perimbangan baru dalam hubungan Jepang-Amerika di Asia Timur.(sl)