Rusia: Siap Melanjutkan Perundingan Damai; Ukraina: Situasinya Sangat Sulit
https://parstoday.ir/id/news/world-i180214-rusia_siap_melanjutkan_perundingan_damai_ukraina_situasinya_sangat_sulit
Pemerintah Rusia menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan perundingan damai dengan Ukraina di Istanbul, Turki.
(last modified 2025-11-12T23:58:33+00:00 )
Nov 13, 2025 06:53 Asia/Jakarta
  • Rusia: Siap Melanjutkan Perundingan Damai; Ukraina: Situasinya Sangat Sulit

Pemerintah Rusia menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan perundingan damai dengan Ukraina di Istanbul, Turki.

Tehran, Pars Today, Aleksei Polishchuk, pejabat senior Kementerian Luar Negeri Rusia, pada hari Rabu mengatakan bahwa otoritas Turki berulang kali menekankan pentingnya dimulainya kembali pembicaraan damai antara Kyiv dan Moskow di Istanbul.

Polishchuk menegaskan: “Tim Rusia siap untuk perundingan tersebut; sekarang bola ada di tangan Ukraina.”

Pertemuan langsung terakhir antara pejabat Rusia dan Ukraina berlangsung di Istanbul pada 23 Juli, namun hanya berlangsung selama 40 menit. Dalam pertemuan tersebut, delegasi Ukraina mengusulkan pertemuan antara Presiden Volodymyr Zelensky dan Presiden Vladimir Putin pada bulan Agustus, namun Kremlin menyatakan bahwa Putin hanya bersedia bertemu Zelensky di Moskow — syarat yang ditolak oleh Kyiv.

Ukraina: Situasi Sangat Sulit

Sementara itu, pejabat Ukraina mengumumkan bahwa pasukan Rusia berhasil menguasai tiga wilayah di Zaporizhzhia di tengah pertempuran sengit, dan memperingatkan bahwa “situasi sangat sulit.”

Vladyslav Voloshyn, juru bicara pasukan militer Ukraina di wilayah selatan, mengatakan bahwa pasukan Ukraina mundur dari lima posisi di provinsi Zaporizhzhia.

Latar Belakang Konflik

Perang di Ukraina bermula akibat pengabaian negara-negara Barat terhadap kekhawatiran keamanan Rusia mengenai perluasan perbatasan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Sebagai reaksi terhadap ketidakpedulian Barat terhadap tuntutan keamanan Moskow, Rusia melancarkan operasi militer terhadap Ukraina pada Februari 2022.

Sejak itu, Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO terus mengirim bantuan militer dalam jumlah besar ke Kyiv, yang justru memperpanjang konflik dan memperburuk situasi keamanan di kawasan.(PH)