Apa Tujuan Trump Mengklaim Adanya Proses Negosiasi dengan Iran?
https://parstoday.ir/id/news/world-i180772-apa_tujuan_trump_mengklaim_adanya_proses_negosiasi_dengan_iran
Klaim Trump tentang adanya proses pembicaraan dengan Iran bukanlah sebuah kesalahan sederhana maupun kesalahpahaman diplomatik.
(last modified 2025-11-21T17:08:50+00:00 )
Nov 21, 2025 23:59 Asia/Jakarta
  • Apa Tujuan Trump Mengklaim Adanya Proses Negosiasi dengan Iran?

Klaim Trump tentang adanya proses pembicaraan dengan Iran bukanlah sebuah kesalahan sederhana maupun kesalahpahaman diplomatik.

Tehran, Parstoday- Bersamaan dengan kehadiran Mohammad bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi, di Gedung Putih, Donald Trump kembali menyampaikan sebuah klaim yang langsung dibantah oleh pemerintah Iran.

Trump mengatakan,“Saya pikir Iran sangat menginginkan sebuah kesepakatan, dan kami telah memulai sebuah proses.” Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran secara tegas menyatakan bahwa “tidak ada proses negosiasi antara Tehran dan Washington” dan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar kenyataan. Mengapa Trump secara terang-terangan mengatakan hal yang tidak benar?

Diciptakannya Prestasi Palsu dalam Kebijakan Luar Negeri

Untuk memahami perilaku Trump, perlu melihat pola tetapnya selama beberapa tahun terakhir. Pada masa jabatan pertamanya, ia berulang kali berusaha menciptakan prestasi yang sebenarnya tidak ada dengan membesar-besarkan dan memutarbalikkan realitas. Ia berbicara mengenai “perdamaian bersejarah di Semenanjung Korea”, padahal seluruh proses itu berhenti setelah beberapa pertemuan simbolis. Ia mengklaim bahwa “perang di Timur Tengah telah berakhir”, tetapi tidak ada satu pun perang yang berakhir, bahkan beberapa krisis meningkat.

Ia juga memasarkan apa yang disebut sebagai Kesepakatan Abraham sebagai “perubahan besar”, padahal kesepakatan tersebut tidak menyelesaikan persoalan mendasar kawasan dan lebih bersifat simbolis. Pola perilaku ini menunjukkan bahwa Trump lebih memilih membangun narasi untuk menciptakan citra kemenangan politik daripada berpegang pada kenyataan. Ia mengetahui bahwa sebagian besar basis pemilihnya tidak terlalu tertarik pada verifikasi fakta, tetapi lebih memperhatikan narasi tentang dirinya sebagai sosok kuat. Dalam kerangka ini, klaim adanya pembicaraan dengan Iran membantunya menunjukkan citra “pengendali permainan” dan “pemilik otoritas personal”.

Kecenderungan ini semakin menguat karena popularitas domestik Trump pada masa jabatan keduanya mengalami penurunan signifikan, dari 47 persen menjadi sekitar 38 persen. Penurunan tajam ini membuatnya semakin membutuhkan penciptaan kemenangan luar negeri dan menggunakan “narasi diplomatik” sebagai sarana pemulihan kredibilitas politiknya. Trump tidak mengubah kenyataan, tetapi merekayasa narasi agar dapat mempertahankan posisinya.

Kebutuhan Psikologis Trump untuk Selalu Menjadi Pusat Perhatian  

Analisis psikologi politik menunjukkan bahwa Trump memiliki kebutuhan kronis untuk selalu terlihat. Ia selalu ingin berada di pusat pemberitaan dan namanya terus muncul di tajuk media. Bagi orang seperti ini, ketidakhadiran di pusat perhatian merupakan ancaman psikologis.

Dalam kerangka ini, bahkan ketiadaan peristiwa nyata pun tidak menghentikan Trump. Ia sering menciptakan berita ketika tidak ada peristiwa nyata yang dapat menarik perhatian publik. Klaim adanya pembicaraan dengan Iran sepenuhnya berada dalam pola tersebut. Dengan pernyataan ini, ia menampilkan dirinya sebagai aktor utama di Timur Tengah dan, di mata media domestik Amerika, sebagai figur yang kembali memegang peran penting dalam pengelolaan krisis global.

Waktu penyampaian klaim tersebut juga bukan kebetulan. Kehadiran bin Salman di Gedung Putih memberikan momentum bagi Trump untuk kembali menjadikan isu Iran sebagai pusat perhatian dan memberi kesan kepada media Amerika bahwa ia sedang menangani salah satu isu paling strategis di kawasan. Dengan cara ini, ia menutupi ketiadaan prestasi nyata dan berupaya menunjukkan dirinya sebagai poros utama dinamika kompleks Timur Tengah.

Pengelolaan Sekutu Regional  

Dimensi lain dari klaim ini berkaitan dengan kalkulasi regional Trump. Setelah bertahun-tahun ketegangan, Arab Saudi kini memasuki fase baru yang mengarah pada pengurangan konflik dan tidak lagi tertarik pada konfrontasi langsung. Dalam situasi seperti ini, Trump khawatir sekutu-sekutu tradisional Washington akan menilai bahwa Amerika telah kehilangan peran utama dalam dinamika kawasan.

Karena itu, dengan mengklaim bahwa “Iran menginginkan kesepakatan”, ia berusaha mengirim pesan bahwa kendali atas isu Iran masih berada di tangannya dan bahwa Washington tetap menjadi aktor utama dalam keamanan kawasan. Ia ingin menunjukkan bahwa tanpa kehadiran Amerika, tidak ada proses yang dapat berjalan dan bahwa bahkan Iran – menurut narasi yang ia bangun – karena tekanan Washington, konon terpaksa kembali ke jalur pembicaraan.

Tekanan Psikologis terhadap Iran

Trump dan tim keamanan nasionalnya mengetahui bahwa pengumuman adanya pembicaraan dengan Iran – pada saat Tehran langsung membantahnya – dapat menciptakan tekanan psikologis. Metode ini bukan bertujuan membuka negosiasi, melainkan menciptakan persepsi adanya perbedaan internal atau ketidakpastian posisi di Tehran.

Pada masa jabatan pertama Trump, teknik serupa sering digunakan. Ia sering mengklaim adanya “telepon dari Iran” yang sebenarnya tidak pernah terjadi, dan pernyataan tersebut hanya digunakan untuk menciptakan tekanan psikologis serta memperkuat citra kekuasaan dirinya. Tujuan metode ini adalah menempatkan Iran pada posisi yang seolah-olah harus memberikan reaksi dan terseret ke ruang media untuk membela posisinya.(PH)