Natal di Bawah Bayang Inflasi; Keluarga Amerika Beralih ke Barang Bekas
Warga Amerika mengatakan bahwa tekanan kenaikan harga dan kekhawatiran terhadap penurunan pendapatan membuat tradisi belanja Natal dan liburan Tahun Baru mereka berubah tahun ini.
Diperkirakan masyarakat Amerika pada libur Natal mendatang akan mengalami penurunan pengeluaran terbesar sejak masa pandemi, karena harus menghadapi tekanan harga yang tinggi dan tarif impor. Menurut laporan Pars Today mengutip Fars, masyarakat di seluruh Amerika Serikat merasakan ketidakpastian dan ketidakpercayaan yang tinggi terhadap kondisi ekonomi negara tersebut.
Menurut laporan The Guardian, mendekati musim liburan Natal—yang biasanya disertai peningkatan pengeluaran—kekhawatiran itu semakin meningkat, dan banyak orang mengatakan biaya kebutuhan pokok seperti bahan makanan naik begitu tinggi sehingga mereka tidak mampu membeli hadiah untuk keluarga dan teman.
Berdasarkan perkiraan Deloitte, tingkat pengeluaran masyarakat Amerika dapat turun hingga 4% dibanding tahun lalu. Sementara itu, menurut Federasi Ritel Nasional AS, jumlah belanja yang direncanakan untuk tahun ini diperkirakan turun sekitar 1,3% setelah rekor tahun lalu.
Dalam survei baru PwC, diperkirakan masyarakat Amerika akan menurunkan pengeluaran liburan rata-rata menjadi 1.552 dolar AS per orang.
Jika perkiraan ini benar, maka ini akan menjadi penurunan pengeluaran liburan terbesar sejak 2020.
Diperkirakan bahwa generasi Z—usia 17 hingga 28 tahun—akan memangkas pengeluaran mereka lebih besar daripada kelompok usia lain. Mereka menyatakan bahwa mereka akan mengurangi anggaran liburan hingga 23%.
Secara keseluruhan, 84% konsumen mengatakan bahwa mereka akan mengurangi pengeluaran dalam enam bulan mendatang. Penurunan ini dapat menjadi masalah bagi para peritel yang bergantung pada penjualan akhir tahun untuk meningkatkan pendapatan mereka.
Sejak 2019, penjualan selama libur Natal pada bulan November dan Desember mencakup 19% dari total pendapatan ritel tahunan. Dengan penurunan pengeluaran yang diperkirakan, terlihat bahwa kepercayaan masyarakat Amerika terhadap kondisi ekonomi semakin melemah.
Kekhawatiran mengenai inflasi dan tarif yang diberlakukan Donald Trump atas barang impor telah mendorong konsumen untuk berbelanja lebih hemat.
Lembaga Thrivent memprediksi mayoritas warga Amerika akan mengurangi pengeluaran liburan karena ketidakpastian ekonomi.
Dua pertiga warga Amerika percaya bahwa tarif Trump membuat liburan lebih mahal. Separuh penduduk AS menyatakan kekhawatiran tentang kemampuan mereka mengelola keuangan liburan.
Secara keseluruhan, naiknya harga setelah Trump menjabat berarti perubahan gaya hidup. Linda McKim Bell, 79 tahun dari Oregon, mengatakan: “Sejak Trump berkuasa, saya berusaha untuk tidak membeli apa pun yang baru dan membeli dari toko-toko barang bekas online.”(PH)