Apa Tujuan rezim Zionis Meningkatkan Krisis dan Konflik di Suriah?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i181342-apa_tujuan_rezim_zionis_meningkatkan_krisis_dan_konflik_di_suriah
Pars Today – Hanya beberapa jam setelah melakukan pembantaian massal berdarah di desa Beit Jinn di sekitar Damaskus yang berujung mengakibatkan puluhan warga Suriah terbunuh dan terluka, militer rezim Zionis dengan kendaraan militer dan tank, kembali menyerbu sekitar wilayah ini dan selatan Suriah.
(last modified 2025-11-30T11:25:10+00:00 )
Nov 30, 2025 18:21 Asia/Jakarta
  • Apa Tujuan rezim Zionis Meningkatkan Krisis dan Konflik di Suriah?

Pars Today – Hanya beberapa jam setelah melakukan pembantaian massal berdarah di desa Beit Jinn di sekitar Damaskus yang berujung mengakibatkan puluhan warga Suriah terbunuh dan terluka, militer rezim Zionis dengan kendaraan militer dan tank, kembali menyerbu sekitar wilayah ini dan selatan Suriah.

Tentara rezim Zionis pada hari Sabtu (29 November) kembali melakukan infiltrasi di sekitar desa Beit Jinn di pinggiran Damaskus dan wilayah selatan Suriah. Serangan paling berdarah rezim Zionis terhadap tanah Suriah sejak jatuhnya Bashar al-Assad terjadi pada hari Jumat (28 November) di kota kecil Beit Jinn; serangan yang menurut sumber lokal mengakibatkan sedikitnya 14 warga Suriah tewas dan puluhan lainnya terluka, serta menimbulkan hambatan serius bagi masuknya pasukan bantuan.

 

Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, juga mengecam serangan darat dan udara rezim Zionis terhadap wilayah Beit Jinn di selatan Suriah serta pembantaian sejumlah warga Suriah.

 

Desa Beit Jinn terletak di pinggiran Damaskus, dan menurut klaim pejabat rezim Zionis, tujuan dari serangan tentara mereka ke desa tersebut adalah untuk menangkap orang-orang yang sedang diburu dari kelompok Islamis Suriah yang menentang tindakan Zionis dalam menguasai Suriah.

 

Tentara rezim Zionis, sejak 8 Desember 2024 bersamaan dengan jatuhnya Damaskus ke tangan teroris Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), melancarkan operasi militer besar-besaran di Dataran Tinggi Golan yang diduduki. Operasi ini dianggap sebagai serangan darat terbesar rezim Zionis terhadap sebuah negara Arab di luar wilayah Palestina yang diduduki sejak tahun 1982.

 

Rezim Zionis memanfaatkan tantangan internal Suriah, termasuk keruntuhan ekonomi dan sumber daya militer yang melemah, untuk memperkuat dominasinya. Dengan lebih dari 500 serangan udara, mereka menargetkan infrastruktur vital seperti pangkalan militer, sistem radar, fasilitas angkatan udara, markas intelijen, pusat penelitian ilmiah, bahkan ibu kota Damaskus.

 

Kelanjutan serangan rezim Zionis terhadap Suriah dapat dianggap sebagai tanda kegagalan dan sifat menyesatkan dari rencana perdamaian Amerika–Zionis, karena tindakan tersebut jelas bertentangan dengan klaim mereka sebagai pihak yang menginginkan perdamaian. Rencana perdamaian yang diajukan oleh Amerika dan rezim Zionis pada kenyataannya disertai dengan agresi berulang, pendudukan, serta serangan udara dan darat terhadap wilayah Suriah.

 

Reaksi yang lemah dan terkadang acuh tak acuh dari kekuatan Barat terhadap agresi Tel Aviv juga menunjukkan adanya politik standar ganda serta dukungan terselubung terhadap tindakan anti-kemanusiaan rezim Zionis. Dengan berlanjutnya pendudukan militer rezim Zionis di Suriah yang didukung oleh Amerika, opini publik regional maupun global semakin meragukan ketulusan Amerika dan rezim Zionis dalam menawarkan rencana perdamaian. Tujuan akhir dari tindakan ini bukanlah perdamaian, melainkan fragmentasi Suriah, pelemahan pemerintah pusat, dan pembentukan sabuk keamanan bagi Tel Aviv.

 

Di sisi lain, bertolak belakang dengan penilaian para pejabat Amerika dan Zionis, serangan ini justru dapat mendorong semakin kuatnya konsolidasi kelompok-kelompok perlawanan di kawasan.

 

Serangan terhadap Beit Jinn dan wilayah lain di Suriah, bersamaan dengan klaim perdamaian, menunjukkan kontradiksi mendasar dalam kebijakan Amerika dan rezim Zionis. Tindakan ini tidak hanya melemahkan perdamaian, tetapi juga mengungkap hakikat sebenarnya dari rencana perdamaian sebagai alat dominasi dan pendudukan.

 

Rezim Zionis, dengan memperburuk krisis di Suriah, berupaya melemahkan poros perlawanan, memperkuat kehadiran militer di selatan Suriah, memanfaatkan secara politis wilayah yang diduduki, serta menciptakan kedalaman strategis bagi keamanan Tel Aviv. Tel Aviv berusaha agar sebagian wilayah Suriah, khususnya di selatan dan Dataran Tinggi Golan, ditambahkan ke dalam perbatasannya atau dijadikan sebagai kartu tawar-menawar dalam perundingan di masa depan.

 

Tindakan rezim Zionis dalam menduduki Dataran Tinggi Golan dan melakukan serangan berulang ke wilayah Suriah telah berulang kali dikecam di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meskipun tekanan tersebut tidak sepenuhnya mampu menghentikan agresi, hal itu meningkatkan biaya politik dan diplomatik bagi Tel Aviv.

 

Serangan rezim Zionis tidak hanya gagal melemahkan Suriah, tetapi justru memperkuat semangat perlawanan rakyat dan kawasan. Hal ini menyebabkan kegagalan Tel Aviv dalam mencapai tujuan jangka panjangnya. (MF)