Pembantaian Al-Amiriyah, Baghdad, Cermin Kekejaman Amerika
https://parstoday.ir/id/news/world-i181820-pembantaian_al_amiriyah_baghdad_cermin_kekejaman_amerika
Pars Today - Pembantaian Al-Amiriyah, Baghdad adalah salah satu contoh paling jelas tentang kekerasan dan kekejaman pasukan Amerika di Irak.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Des 08, 2025 10:55 Asia/Jakarta
  • Foto para korban pembantaian Al-Amiriyah, Baghdad
    Foto para korban pembantaian Al-Amiriyah, Baghdad

Pars Today - Pembantaian Al-Amiriyah, Baghdad adalah salah satu contoh paling jelas tentang kekerasan dan kekejaman pasukan Amerika di Irak.

Menurut laporan Pars Today, Pembantaian Al-Amiriyah Baghdad telah tercatat tidak hanya dalam ingatan rakyat Irak tetapi juga dalam hati nurani dunia sebagai dokumen kekerasan yang tak berdasar dan tidak manusiawi.

Peristiwa ini, seperti banyak tragedi lainnya selama pendudukan Irak, menunjukkan bahwa kebijakan militer Amerika di kawasan telah menyebabkan kehancuran, menewaskan warga sipil, dan menciptakan teror dan teror, alih-alih menciptakan keamanan dan stabilitas.

Pada pukul 4.30 pagi tanggal 13 Februari 1991, tempat penampungan Al-Amiriyah di Baghdad, yang menampung ratusan perempuan, anak-anak, dan warga sipil tunawisma, berubah menjadi kobaran api dan baja. Pada puncak Perang Teluk, dua bom berpemandu laser GBU-27 seberat 2.000 pon yang dijatuhkan dari jet tempur F-117 Amerika Serikat menyasar dan menghancurkan tempat penampungan bawah tanah itu.

Dalam serangan itu, bom pertama mengenai atap tempat penampungan, menyebabkan lubang besar di atap. Bom kedua masuk melalui lubang ini dan mengenai pintu masuk lantai satu, yang beratnya enam ton dan berdiameter setengah meter.

Saat orang-orang di dalamnya sedang tidur pada saat serangan, pintu-pintu tempat penampungan terbakar dan tidak ada yang bisa keluar. Tidak ada pula cara untuk masuk ke tempat penampungan untuk penyelamatan. Al-Amiriyah adalah lingkungan padat penduduk, sebagian besar berupa permukiman di Baghdad, yang diserang oleh Amerika Serikat.

Yang membuat pembantaian ini semakin mengejutkan adalah tidak adanya target militer khusus di area itu. Dengan kata lain, para korban hanyalah warga biasa yang menjalani kehidupan sehari-hari dan tiba-tiba terjebak dalam kobaran api serangan Amerika.

Apa yang terjadi di dalam bunker ini tak terlukiskan. Panas yang membakar dan api yang merenggut nyawa ratusan orang dalam sekejap.Iintensitas panasnya begitu hebat hingga kulit terkelupas dan dinding beton selamanya terukir jejak tangan para korban yang berjuang untuk lolos dari kobaran api ini.

Beberapa mayat begitu terbakar dan hancur sehingga tampak seperti telah dilemparkan ke dalam air mendidih. Sebuah pemandangan yang menghantui setiap orang yang melihatnya seumur hidup. Ketika asap menghilang, muncul gambar-gambar yang mengguncang hati nurani dunia.Ttubuh para ibu yang meleleh menggendong anak-anak mereka, dan mainan-mainan yang terbakar di samping tubuh anak-anak yang tak bernyawa.

“Saya merasa mereka dilupakan, tidak ada yang mengingat mereka. Tidak ada yang tahu siapa mereka,” kata Omar Mahmoud, salah satu korban insiden tersebut.

Serangan yang menewaskan sedikitnya 408 warga sipil Irak itu merupakan tragedi kemanusiaan yang brutal. 261 di antaranya adalah perempuan dan 62 anak-anak serta bayi. Korban termuda adalah bayi berusia tujuh hari, yang tidak diketahui keberadaannya.

Para pejabat AS membenarkan kejahatan mereka dengan mengklaim bahwa mereka yakin tempat tersebut digunakan sebagai pusat komando. Namun, Amnesty International dan pemantau hak asasi manusia dengan tegas membantah klaim ini, menekankan bahwa tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa tempat perlindungan itu digunakan untuk tujuan militer.

Pembantaian itu dapat dianalisis dalam kerangka kebijakan AS secara keseluruhan di Irak. Dalam pembantaian tahun 1991 di kawasan Al-Amiriyah, Baghdad, Amerika melakukan serangan membabi buta yang tidak menghasilkan keuntungan militer dan hanya menumpahkan darah orang tak berdosa.

Setelah invasi Irak tahun 2003, pasukan AS berulang kali mengebom wilayah permukiman dengan dalih memerangi terorisme atau melawan pemberontakan. Namun kenyataannya, tindakan itu justru menyebabkan terbunuhnya warga sipil, alih-alih penghancuran kelompok bersenjata.

Dari perspektif hukum internasional, pembantaian Al-Amiriyah di Baghdad merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum perang. Konvensi Jenewa secara eksplisit menekankan perlunya melindungi warga sipil di masa perang. Namun, Amerika Serikat, dengan mengabaikan prinsip-prinsip ini, berulang kali melakukan kejahatan perang.

Pembantaian Al-Amiriyah di Baghdad merupakan salah satu contoh paling jelas dari kejahatan semacam ini yang harus diselidiki dan dituntut di pengadilan internasional. Diamnya atau tidak adanya tindakan lembaga-lembaga internasional dalam menghadapi tragedi semacam itu dianggap sebagai bentuk keterlibatan dalam kejahatan tersebut.

Pembantaian Al-Amiriyah di Baghdad juga tercermin di media global dan sekali lagi mengungkap wajah sebenarnya dari kebijakan AS di Irak. Gambar dan laporan yang dipublikasikan mengenai jasad anak-anak dan perempuan tak berdosa mengguncang opini publik dunia.

Banyak analis menganggap insiden ini sebagai contoh kegagalan moral dan kemanusiaan Amerika, menunjukkan bahwa kekuatan militer tanpa kepatuhan pada prinsip-prinsip kemanusiaan tidak menghasilkan apa-apa selain kehancuran dan kebencian.

Di sisi lain, pembantaian ini memiliki konsekuensi sosial dan psikologis yang luas bagi rakyat Irak. Tragedi semacam itu menyebabkan meningkatnya kebencian publik terhadap Amerika. Pembantaian Al-Amiriyah Baghdad tetap menjadi luka mendalam di tubuh Irak.

35 tahun setelah hari itu, rakyat Irak belum melupakan kejahatan George Bush Sr. Mereka menulis di media sosial bahwa para pembunuh dan pelaku kejahatan ini belum diadili. Luka ini hanya dapat disembuhkan dengan keadilan dan kebenaran. Selama para pelaku kejahatan ini tidak dimintai pertanggungjawaban, insiden ini akan tetap berada dalam ingatan sejarah rakyat Irak dan dunia sebagai simbol kekejaman dan kebrutalan Amerika.

Akhirnya, pembantaian Al-Amiriyah Baghdad harus dianggap sebagai bukti lain dari ketidakpedulian Amerika. Insiden ini bukan hanya pengingat penderitaan rakyat Irak, tetapi juga peringatan bagi dunia bahwa ketidakpedulian terhadap kejahatan semacam itu membuka jalan bagi terulangnya kejahatan serupa di masa mendatang.

Jika masyarakat internasional menginginkan perdamaian dan keadilan, mereka harus mengakui kejahatan ini, mengadili para pelakunya, dan mencegah terulangnya tragedi semacam itu.(sl)