Kapitalisme, Eksploitasi Sumber Daya Alam dan Tekanan terhadap Lingkungan
https://parstoday.ir/id/news/world-i184432-kapitalisme_eksploitasi_sumber_daya_alam_dan_tekanan_terhadap_lingkungan
Pars Today - Kapitalisme, sebagai salah satu model ekonomi dominan di dunia kontemporer, telah terbentuk berdasarkan akumulasi modal, berorientasi pada keuntungan, dan perluasan pasar yang tak terputus.
(last modified 2026-02-16T10:03:54+00:00 )
Jan 21, 2026 14:02 Asia/Jakarta
  • Kapitalisme dan kerusakan lingkungan hidup
    Kapitalisme dan kerusakan lingkungan hidup

Pars Today - Kapitalisme, sebagai salah satu model ekonomi dominan di dunia kontemporer, telah terbentuk berdasarkan akumulasi modal, berorientasi pada keuntungan, dan perluasan pasar yang tak terputus.

Meskipun sistem ini telah menyebabkan pertumbuhan teknologi dan peningkatan produksi di beberapa bidang, ia memiliki mekanisme di dalamnya yang mengarah pada eksploitasi sumber daya alam dan peningkatan tekanan terhadap lingkungan. Hubungan kapitalisme dengan alam didasarkan pada eksploitasi. Alam tidak dilihat sebagai ekosistem yang hidup, tetapi sebagai sumber tak terbatas untuk mengekstrak keuntungan. Pandangan ini adalah akar dari banyak krisis lingkungan saat ini.

Salah satu dimensi penting dari masalah ini adalah laju ekstraksi sumber daya alam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam sistem kapitalis, pertumbuhan ekonomi harus permanen dan meningkat. Pertumbuhan ini tidak mungkin tanpa konsumsi energi, air, tanah, hutan, dan mineral yang lebih besar.

Perusahaan-perusahaan besar melakukan ekstraksi berlebihan untuk mempertahankan profitabilitas, dan proses ini menyebabkan deforestasi, erosi tanah, penurunan keanekaragaman hayati, dan penghancuran habitat alami. Deforestasi di Amazon, ekstraksi minyak berlebihan di daerah-daerah sensitif, dan penambangan intensif di Afrika adalah contoh dari proses ini.

Dimensi lain adalah polusi yang meluas yang disebabkan oleh produksi industri. Kapitalisme, dengan mendorong produksi massal dan konsumerisme, menghasilkan volume besar limbah industri, kimia, dan plastik. Banyak industri mengabaikan standar lingkungan untuk mengurangi biaya dan membebankan polusi udara, air, dan tanah kepada masyarakat sebagai "biaya eksternal".

Polutan ini tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga mengganggu siklus alam Bumi. Pemanasan global, peningkatan emisi gas rumah kaca, dan perubahan iklim adalah konsekuensi langsung dari logika yang berorientasi pada keuntungan ini.

Kapitalisme juga mempromosikan konsumerisme sebagai nilai budaya. Iklan yang luas mendorong orang untuk membeli lebih banyak dan mengganti barang dengan cepat. Siklus konsumsi yang tak berujung ini meningkatkan kebutuhan akan produksi yang lebih banyak, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan pada sumber daya alam.

Produk-produk yang memiliki masa pakai singkat atau sengaja dirancang untuk cepat rusak meningkatkan volume limbah elektronik dan industri, dan pengelolaan limbah ini telah menjadi masalah lingkungan tersendiri.

Dimensi penting lainnya adalah ketidaksetaraan lingkungan. Dalam sistem kapitalis, negara-negara kaya dan perusahaan-perusahaan besar paling diuntungkan dari sumber daya alam, tetapi negara-negara miskin dan komunitas yang terpinggirkan paling menderita.

Negara-negara dan wilayah miskin sering menjadi lokasi pembuangan limbah berbahaya, penambangan yang merusak, atau pabrik-pabrik yang mencemari lingkungan. Ketidaksetaraan ini menyebabkan krisis lingkungan menjadi krisis sosial dan kemanusiaan.

Konsekuensi dari tren ini sangat luas dan mendalam. Konsekuensi pertama adalah intensifikasi perubahan iklim. Peningkatan suhu, pencairan lapisan es kutub, kenaikan permukaan laut, dan peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan badai merupakan akibat langsung dari konsumsi bahan bakar fosil yang berlebihan, terutama di negara-negara maju, dan perusakan hutan. Perubahan ini tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga membahayakan ketahanan pangan, sumber daya air, dan kesehatan manusia.

Konsekuensi lainnya adalah penurunan keanekaragaman hayati. Ribuan spesies tumbuhan dan hewan berisiko punah akibat perusakan habitat, polusi, dan perubahan iklim. Perusakan spesies apa pun menciptakan serangkaian konsekuensi dalam ekosistem dan mengganggu keseimbangan alam.

Konsekuensi ketiga adalah intensifikasi krisis sosial dan ekonomi. Degradasi lingkungan dapat menyebabkan migrasi massal, konflik atas sumber daya air dan pangan, dan peningkatan kemiskinan. Banyak wilayah di dunia menghadapi krisis kemanusiaan akibat kekeringan atau polusi air.

Secara umum, kapitalisme tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan tanpa reformasi struktural. Selama keuntungan diprioritaskan di atas kesehatan bumi dan manusia, eksploitasi sumber daya alam akan terus berlanjut. Solusinya terletak pada perubahan pola produksi, pengurangan konsumerisme, penguatan hukum lingkungan, dan bergerak menuju ekonomi berkelanjutan. Ekonomi yang menganggap alam bukan sebagai sumber daya yang tak terbatas, tetapi sebagai warisan bersama dan terbatas bagi umat manusia.(sl)