Aljazair Membersihkan Area Terkontaminasi Radiasi Uji Coba Nuklir Era Kolonial Prancis
-
Lahan uji coba nuklir Prancis di Aljazir
ParsToday - Pemerintah Aljazair, bertepatan dengan peringatan uji coba nuklir pertama Prancis di negara itu, memulai operasi pembersihan area yang terkontaminasi bahan radioaktif.
Pemerintah Aljazair setelah bertahun-tahun penelitian dan perencanaan, pada Jumat, 13 Februari 2026, memulai operasi lapangan pertama untuk membersihkan area bekas uji coba nuklir pemerintahan kolonial Prancis dengan mengandalkan kemampuan domestik di wilayah Taourirt di selatan negara itu. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi radioaktif serta dampak lingkungan dan kemanusiaan akibat ledakan-ledakan tahun 1960-an.
Melaporkan dari jaringan Al Jazeera, ParsToday, Minggu, 15 Februari 2026, memberitakan dimulainya operasi ini bertepatan dengan peringatan ke-66 ledakan nuklir pertama Prancis di tanah Aljazair. Ledakan-ledakan tersebut, menurut sumber-sumber lokal, masih meninggalkan bekas kontaminasi di sebagian besar wilayah negara itu dan mengakibatkan konsekuensi fisik serta kecacatan permanen bagi sejumlah penduduk di area tersebut.
Aljazair memulai implementasi rencana ini sementara sebelumnya telah berulang kali meminta pemerintah Prancis untuk memberikan peta dan informasi terkait lokasi pembuangan limbah nuklir. Menurut pejabat Aljazair, ketiadaan dokumen teknis ini mempersulit proses identifikasi akurat titik-titik terkontaminasi.
Berdasarkan sebuah dokumenter yang dirilis tentang wilayah tersebut, Taourirt sebelumnya merupakan lokasi ledakan bawah tanah besar dengan kekuatan setara sekitar 150 ribu ton TNT yang mengakibatkan pelepasan gas radioaktif dan kerusakan lingkungan yang luas. Wilayah ini masih menghadapi kontaminasi dari bahan-bahan seperti sesium-137 dan plutonium, yang dampaknya tetap tersisa di tanah dan lingkungan sekitarnya.
Rencana pembersihan Aljazair mengandalkan penggunaan peralatan khusus untuk mengumpulkan dan memindahkan limbah nuklir serta menyimpannya dalam kontainer beton dengan mematuhi standar keamanan. Namun, ketiadaan arsip teknis dan informasi akurat dari Prancis semakin mempersulit proses penentuan batas-batas area terkontaminasi dan tingkat kontaminasi yang sebenarnya.
Amar Mansouri, peneliti fisika nuklir, menyatakan bahwa proses pembersihan sedang berlangsung dengan melibatkan para ahli dan tenaga terampil Aljazair, setelah dilakukan penilaian terhadap tingkat kontaminasi lingkungan dan risiko kesehatan akibat ledakan-ledakan tersebut.
Aljazair setiap tahun pada tanggal 13 Februari mengadakan upacara memperingati uji coba nuklir pertama Prancis tahun 1960 di gurun Reggane yang terletak di Provinsi Adrar. Ledakan yang dikenal dengan nama "Gerbil Pasir" ini berkekuatan beberapa kali lipat bom atom Hiroshima dan merupakan salah satu uji coba nuklir pertama Prancis.
Pejabat Aljazair menganggap uji coba ini sebagai contoh "kejahatan terhadap kemanusiaan" di era kolonial dan meyakini dampaknya masih tersisa pada kesehatan penduduk dan lingkungan di wilayah selatan negara itu.
Sehubungan dengan hal tersebut, parlemen Aljazair beberapa waktu lalu mengesahkan rancangan undang-undang yang mengkriminalisasi kolonialisme Prancis pada rentang tahun 1830 hingga 1962, dan memasukkan uji coba nuklir ke dalam daftar kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat negara ini.(sl)