Wartawan Prancis: Kemarahan Iran Meningkat Lewat Gerakan "Jan Fada"
https://parstoday.ir/id/news/world-i188856-wartawan_prancis_kemarahan_iran_meningkat_lewat_gerakan_jan_fada
Pars Today - Gerakan "Jan Fada" (Pengorbanan Jiwa), yang dimulai di Iran untuk mempromosikan empati dan pengorbanan, mendapat sambutan luas dan bahkan ditiru di sejumlah negara lain, serta mendapat liputan media yang luas.
(last modified 2026-04-23T13:26:42+00:00 )
Apr 23, 2026 20:25 Asia/Jakarta
  • Warga Iran siap berkorban demi negaranya
    Warga Iran siap berkorban demi negaranya

Pars Today - Gerakan "Jan Fada" (Pengorbanan Jiwa), yang dimulai di Iran untuk mempromosikan empati dan pengorbanan, mendapat sambutan luas dan bahkan ditiru di sejumlah negara lain, serta mendapat liputan media yang luas.

Reaksi internasional terhadap gerakan "Jan Fada" Iran semakin meluas. Melaporkan dari IRNA, Pars Today pada Kamis, 23 April 2026, seorang jurnalis jaringan Prancis BFMTV melaporkan bahwa rakyat Iran semakin marah terhadap AS dan rezim Zionis, dan emosi ini terwujud dalam kampanye sukarela "Jan Fada".

Menurutnya, setiap hari semakin banyak orang yang menyatakan kesiapan mereka untuk dimobilisasi membela negara mereka, sebuah fenomena yang diperkirakan akan semakin mempersatukan rakyat di sekitar kepemimpinan.

Tokoh Terkemuka hingga Warga Biasa

Situs Middle East Monitor melaporkan bahwa beberapa juta orang Iran, termasuk tokoh-tokoh terkenal dan pejabat, telah berpartisipasi dalam gerakan ini. Di antara nama-nama yang tercatat adalah Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta banyak atlet dan seniman Iran.

Komentator politik konservatif AS, Candace Owens, membandingkan para pemimpin Iran dan AS. Ia menyatakan bahwa Presiden Iran siap mengorbankan hidupnya untuk bangsanya, sementara menurutnya, Trump rela mengorbankan nyawa dan mata pencaharian setiap warga Amerika demi "Israel Raya".

Perbandingan di Media Sosial

Reaksi warga biasa dari berbagai negara juga patut dicatat. Seorang pengguna, merujuk pada latar belakang Trump dalam skandal Pulau Epstein dan menanggapi unggahan Pezeshkian, menulis, "Presiden Iran rela mengorbankan nyawanya untuk rakyatnya. Sementara itu, Trump bahkan tidak mau menangkap mereka yang terlibat dalam kasus Epstein."

Pengguna lain, menanggapi unggahan Ghalibaf tentang partisipasinya dalam gerakan rakyat ini, menulis, "Ini berbeda dengan Trump yang bahkan tidak mengirim putranya, Barron, untuk wajib militer."

Sementara itu, sejumlah warga dari negara lain juga menyatakan kesiapan mereka untuk bergabung. Seorang pengguna menulis, "Jika jumlah orang Iran tidak cukup, kami, rakyat dari negara lain, siap bergabung dengan mereka."

Sebuah gerakan yang dimulai di Iran, kini bergema hingga ke penjuru dunia. Bukan karena propaganda, tetapi karena ketulusannya: "Jan Fada", kesiapan untuk mengorbankan jiwa demi tanah air.

Dari presiden hingga rakyat biasa, dari atlet hingga seniman, Iran menunjukkan persatuan yang langka. Sementara di seberang lautan, seorang presiden yang suka mengancam perang bahkan tidak bisa mengirim anaknya sendiri ke garis depan.

Perbandingan ini tidak dibuat-buat. Ia muncul secara organik dari media sosial, dari warga biasa yang melihat kontras tajam antara kepemimpinan yang berkorban dan kepemimpinan yang mengorbankan rakyatnya untuk kepentingan asing.

Pertanyaannya: apakah dunia akan terus melihat Iran melalui lensa lama? Atau akankah mereka mulai melihat tekad, persatuan, dan kesiapan untuk berkorban, yang justru menjadi sumber kekuatan sejati bangsa ini?(sl)