Perang Ekonomi Trump: Senjata yang Sudah Tumpul
https://parstoday.ir/id/news/world-i195296-perang_ekonomi_trump_senjata_yang_sudah_tumpul
Pars Today - Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, menanggapi ancaman terbaru Donald Trump terhadap Iran, menekankan, "Desakan untuk melanjutkan kebijakan-kebijakan yang gagal hanya akan menghasilkan lebih banyak kegagalan dan akan menimbulkan permusuhan rakyat Iran."
(last modified 2026-08-21T03:55:57+00:00 )
Aug 21, 2026 10:50 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

Pars Today - Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, menanggapi ancaman terbaru Donald Trump terhadap Iran, menekankan, "Desakan untuk melanjutkan kebijakan-kebijakan yang gagal hanya akan menghasilkan lebih banyak kegagalan dan akan menimbulkan permusuhan rakyat Iran."

Pernyataan Abbas Araghchi ini merujuk pada kelemahan utama dari strategi baru Washington. AS ingin mencapai hasil politik melalui alat ekonomi, yang tidak dapat dicapai oleh tekanan ekonomi dan militer selama beberapa dekade terakhir. Trump kini berbicara tentang "operasi ekonomi paling dahsyat" terhadap Iran dan bahkan mengancam akan menghukum negara-negara yang berbisnis dengan Tehran.

Namun, masalah mendasarnya adalah bahwa sanksi bukan lagi alat yang asing bagi Iran. Selama empat dekade, Tehran telah mengembangkan mekanisme untuk melawan sanksi, mengalihkan jalur perdagangan, mendiversifikasi mitra ekonomi, dan menjual minyak dalam kondisi terbatas. Karena itu, masalah saat ini bukan hanya seberapa besar tekanan AS, tetapi kemampuan Washington untuk mengubah tekanan ekonomi menjadi sikap menyerah secara politik.

Pusat Studi Strategis dan Internasional AS (CSIS) sebelumnya telah menyatakan bahwa kampanye "tekanan maksimum", meskipun telah menyebabkan kerusakan ekonomi yang signifikan pada Iran, tidak mengarah pada perubahan perilaku strategis Tehran. Bahkan di bidang minyak, tujuan AS untuk menekan ekspor Iran hingga nol menghadapi kesulitan serius. Sebagian besar ekspor minyak Iran masih menemukan jalannya ke pasar luar negeri.

Di sinilah peringatan Araghchi menjadi penting. Sanksi memiliki kekuatan terbesar ketika negara sasaran tidak memiliki alternatif dan koalisi luas menjamin pelaksanaannya. Namun semakin sepihak tekanan ekonomi, semakin besar motivasi negara-negara lain untuk menciptakan jalur alternatif. CSIS juga telah memperingatkan bahwa penggunaan sanksi yang berlebihan dan sepihak oleh Washington, dalam jangka panjang, dapat mendorong negara-negara untuk mengurangi ketergantungan mereka pada sistem keuangan yang didominasi dolar.

Ancaman baru Trump, dari perspektif ini, bahkan memiliki kontradiksi yang lebih besar. Washington ingin meningkatkan biaya ekonomi dari perlawanan Iran, tetapi tekanan ini diterapkan pada saat ekonomi AS sendiri menghadapi utang federal lebih dari 40 triliun dolar (sekitar 124 persen dari PDB), biaya bunga tahunan mendekati 1 triliun dolar, dan tingkat inflasi tahunan sekitar 3,4 persen. Data resmi dari Departemen Keuangan AS mencatat utang secara harian, dan biaya bunga utang kini menjadi salah satu item pengeluaran pemerintah terbesar, bahkan melampaui anggaran pertahanan.

Di sisi lain, mengubah sanksi ekonomi menjadi blokade laut membawa risiko di luar level bilateral. Selat Hormuz bukan hanya masalah antara Iran dan AS. Ini adalah salah satu jalur utama ekonomi energi dunia. Setiap gangguan berkelanjutan di jalur ini akan memengaruhi harga minyak, biaya asuransi dan transportasi, serta inflasi ekonomi pengimpor energi. Laporan terbaru menunjukkan bahwa penurunan drastis lalu lintas kapal tanker melalui Hormuz telah meningkatkan premi asuransi dan harga energi, serta membuat pasar global terkena guncangan baru.

Dalam kondisi seperti ini, perang ekonomi dapat berubah dari alat tekanan terhadap Iran menjadi sumber tekanan terhadap AS dan sekutunya. Analisis CSIS tentang situasi Hormuz juga menekankan bahwa konfrontasi saat ini, lebih dari sekadar persaingan militer, adalah ujian "toleransi biaya" dan daya tawar kedua pihak. Washington memiliki kemampuan militer yang lebih tinggi, tetapi itu tidak berarti ia kebal terhadap biaya ekonomi dan politik.

Karena itu, respons Araghchi harus dipahami dalam kerangka pertempuran yang lebih besar atas kehendak politik. AS dapat memberlakukan lebih banyak sanksi, menutup lebih banyak jalur keuangan, dan memberikan tekanan lebih besar pada mitra ekonomi Iran, tetapi tidak ada satupun yang menjamin bahwa tekanan ekonomi akan berubah menjadi penyerahan politik. Pengalaman empat dekade terakhir menunjukkan bahwa ancaman militer dan ekonomi tidak selalu mengubah kalkulasi keamanan dan politik Tehran.

Masalah dengan strategi Trump juga terletak di sini: jika Washington sekali lagi mengejar sanksi dengan asumsi keruntuhan kehendak Iran, alih-alih memaksa Tehran mundur, ia mungkin akan mendistribusikan biaya ekonomi perang ke AS dan ekonomi global. Pesan Araghchi sebenarnya adalah peringatan tentang kalkulasi ini. Kebijakan yang sekali gagal mencapai tujuan politiknya, dengan intensitas yang lebih besar pun belum tentu berhasil.(Sail)