Naryshkin: Agresi Barat ke Rusia Jadi Katalis Ekspansi BRICS
-
Kepala Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR), Sergey Naryshkin
Pars Today - Kepala Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR), Sergey Naryshkin, menyatakan bahwa tekanan dan kebijakan "neo-kolonial" dari negara-negara Barat terhadap Rusia memainkan peran penting dalam perluasan keanggotaan BRICS.
Melaporkan Pars Today dari IRIB, Jumat, 28 Agustus 2026, Naryshkin mengatakan bahwa ketika ambisi hegemoni Barat menjadi semakin jelas, daya tarik BRICS sebagai platform alternatif pun meningkat tajam. Banyak negara di dunia, menurutnya, mulai menjauh dari upaya-upaya yang dianggap sia-sia untuk memaksa Rusia mengorbankan kepentingan nasionalnya. Sebaliknya, mereka justru secara aktif mencari platform kerja sama internasional yang tidak dipimpin oleh negara-negara Barat.
Naryshkin menegaskan bahwa keanggotaan dalam BRICS saat ini menjadi simbol bagi negara-negara yang ingin menentukan nasibnya sendiri tanpa harus tunduk pada "tuan-tuan dunia yang mengaku-ngaku". Hal ini mencerminkan pergeseran geopolitik menuju tatanan dunia yang lebih multipolar.
Anggota BRICS Saat Ini
Kelompok ini telah berkembang jauh melampaui lima negara pendirinya. Berdasarkan informasi yang tersedia, berikut adalah anggota penuhnya:
Negara Pendiri: Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.
Anggota Baru (2024): Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab secara resmi bergabung pada awal 2024 .Indonesia juga menjadi anggota penuh.
Analisis: Bukan Sekadar Blok Ekonomi
Pernyataan Naryshkin ini menggarisbawahi bahwa BRICS telah berevolusi dari sekadar konsep ekonomi menjadi platform geopolitik yang signifikan. Ekspansinya didorong oleh keinginan negara-negara berkembang untuk menciptakan alternatif dari lembaga-lembaga yang didominasi Barat, seperti Bank Dunia dan IMF, yang dianggap tidak lagi mewakili kepentingan mereka.
Upaya untuk mengembangkan mata uang bersama dan sistem pembayaran alternatif merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk "de-dollarisasi" dan mengurangi kerentanan terhadap sanksi ekonomi. Dengan lebih dari setengah populasi dunia dan sekitar 30% PDB global, BRICS memiliki potensi besar untuk membentuk kembali arsitektur ekonomi global.
"Pernyataan Naryshkin menegaskan narasi utama Rusia bahwa tekanan dari Barat secara tidak sengaja memperkuat solidaritas di antara negara-negara yang tidak puas dengan tatanan global yang ada. Ini adalah pandangan bahwa agresi yang dirasakan justru menjadi katalis bagi pembentukan aliansi dan platform tandingan."(Sail)