Tiongkok Manfaatkan Krisis AS: Dari Kekosongan Pasifik hingga Dominasi Ekonomi Global
-
Persaingan AS dan Tiongkok
Pars Today - Eskalasi krisis dari Asia Barat dan Ukraina hingga Asia Timur telah membatasi sumber daya AS dan menyebarkan kemampuannya, kondisi yang coba dimanfaatkan Tiongkok untuk memperluas pengaruh dan mengkonsolidasikan posisinya.
Melaporkan dari Mehr News, Senin, 07 September 2026, AS saat ini berada di tengah serangkaian krisis, dari ketegangan dengan Iran, intervensi di Gaza dan Lebanon, hingga perang gesekan di Ukraina dan persaingan yang semakin meningkat dengan Tiongkok, dan telah membagi sebagian fokus dan kemampuannya di antara front-front ini. Situasi ini, meskipun ada klaim Washington tentang menahan Tiongkok, telah mengungkapkan tanda-tanda bahwa AS secara praktis menjauh dari prioritas Samudra Hindia dan Pasifik.
Contoh terbaru adalah pengiriman kapal induk USS George Washington dari Pasifik ke Asia Barat untuk menggantikan USS Abraham Lincoln, yang telah bertugas lebih dari 250 hari, sebuah langkah yang secara sementara meninggalkan Pasifik barat tanpa kapal induk AS.
Krisis Beruntun; Pembagian Kemampuan AS di Berbagai Front
Kelanjutan intervensi di Asia Barat dan serangan agresif AS terhadap Iran, di samping komitmen militer Washington di Eropa dan persaingan yang meningkat dengan Tiongkok, telah meningkatkan biaya untuk mempertahankan kekuatan AS secara simultan di beberapa front. Pemindahan kapal induk USS George Washington ke Asia Barat adalah tanda terbaru dari biaya dan tekanan ini.
Pentingnya perpindahan ini menjadi lebih besar ketika Pasifik barat dianggap sebagai arena terpenting persaingan militer antara AS dan Tiongkok. Associated Press dan Stars and Stripes melaporkan bahwa kepergian USS George Washington di tengah meningkatnya aktivitas militer Tiongkok di kawasan telah menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan Washington untuk mempertahankan pencegahan dan meyakinkan sekutunya.
Tekanan akibat perang tidak hanya terlihat dalam pemindahan kapal induk dan pasukan, tetapi juga telah mencapai persediaan amunisi AS. Reuters pada 4 Agustus melaporkan bahwa militer AS, selama konflik lima bulan dengan Iran, hampir menghabiskan seluruh persediaan rudal presisi jarak jauhnya, termasuk rudal ATACMS dan PrSM. Sekitar 65 persen rudal pencegat Patriot dan 38 persen pencegat THAAD juga telah digunakan, dan hampir setengah dari rudal jelajah Tomahawk telah dikerahkan.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya pemindahan satu kapal induk atau perubahan sementara lokasi pasukan, tetapi bahwa kelanjutan operasi militer AS di Asia Barat telah memberi tekanan pada sebagian kapasitas yang dibutuhkan Washington untuk pencegahan terhadap pesaing utamanya.
Reuters memperingatkan bahwa pengurangan persediaan amunisi dapat memengaruhi kesiapan AS untuk konflik di masa depan dengan kekuatan seperti Tiongkok dan Rusia, sebuah masalah yang menjadi lebih penting bersamaan dengan kekosongan sementara Pasifik barat dari kapal induk.
Dari perspektif ini, perkembangan terkini tidak dapat dianggap hanya sebagai tanda penarikan AS dari Asia, tetapi dapat dianggap sebagai tanda yang jelas dari biaya intervensi militer dan penyebaran kemampuan Washington. Sementara AS menggunakan sebagian dari kapasitas militernya untuk melanjutkan perang di Asia Barat, Tiongkok masih memiliki kesempatan di arena persaingan strategis terpentingnya dengan Washington untuk memperluas ruang lingkup aktivitas dan pengaruhnya, sebuah situasi yang membentuk pertanyaan utama laporan tentang bagaimana Beijing memanfaatkan ruang baru ini.
Bagaimana Tiongkok Memperluas Pengaruhnya?
Menghadapi serangan agresif AS dan rezim Zionis terhadap Iran, Tiongkok, tidak seperti Washington, yang telah mengerahkan sebagian besar kemampuan militernya di Asia Barat, tidak terlibat dalam konfrontasi langsung, dan pada saat yang sama berupaya memanfaatkan konsekuensi ekonomi dan geopolitik dari krisis ini untuk memperkuat posisinya.
Brookings Institution dalam sebuah laporan menyatakan bahwa perang Iran telah menimbulkan biaya bagi Beijing, seperti kenaikan harga energi, tetapi pada saat yang sama telah menciptakan peluang untuk memperkuat posisi Tiongkok dalam teknologi energi bersih, hubungan dengan negara-negara berkembang, dan narasi tatanan multipolar.
Salah satu tanda paling jelas dari tren ini terlihat di pasar energi dan transportasi. Reuters baru-baru ini melaporkan bahwa ekspor truk listrik Tiongkok meningkat lebih dari dua kali lipat setelah perang Iran dimulai pada 28 Februari, dan impor produk-produk ini ke negara-negara Asia Selatan meningkat lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan harga bahan bakar akibat gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz telah meningkatkan permintaan kendaraan listrik, dan perusahaan Tiongkok, dengan menawarkan model yang lebih murah dan menyediakan paket kendaraan lengkap serta infrastruktur pengisian daya, merebut pasar yang sebelumnya dikuasai oleh produsen tradisional.
Peluang ini meluas ke pasar yang lebih besar di Global South, di mana perbandingan antara Tiongkok dan AS memberikan gambaran yang lebih jelas. Pada tahun 2025, perdagangan Tiongkok-Afrika mencapai 348 miliar dolar dan meningkat 17,7 persen, sementara ekspor Tiongkok ke Afrika tumbuh lebih cepat daripada impor Afrika. Beijing juga, mulai Mei 2026, menerapkan kebijakan tarif nol untuk barang-barang dari negara-negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Langkah-langkah ini terjadi ketika kebijakan tarif AS telah meningkatkan biaya akses banyak ekonomi berkembang ke pasar AS.
Pada saat yang sama, Beijing memanfaatkan penurunan konsentrasi militer AS untuk mengkonsolidasikan posisinya di lingkungan sekitarnya. Menurut Reuters, bersamaan dengan fokus global pada perang di Asia Barat dan Ukraina, Tiongkok telah meningkatkan aktivitas militer dan strategisnya di Samudra Hindia dan Pasifik. Contoh terbaru adalah penyelesaian fase pertama pembangunan di Antelope Reef di Laut Tiongkok Selatan.
Citra satelit menunjukkan sebuah pulau buatan dengan panjang hampir 6 kilometer, sebuah pelabuhan dengan dermaga sekitar 680 meter, dan infrastruktur dengan jalur lurus lebih dari 3 kilometer yang dapat diubah menjadi landasan pacu di masa depan. Infrastruktur semacam itu, pada saat AS telah memindahkan sebagian kemampuan maritimnya ke Asia Barat, meningkatkan kapasitas Tiongkok untuk kehadiran berkelanjutan di wilayah tersebut.
Namun, keuntungan Tiongkok dalam kondisi saat ini tidak boleh hanya disimpulkan sebagai peningkatan kekuatan militer atau ekonomi. Pencapaian terpenting Beijing adalah kemampuannya untuk mengubah krisis orang lain menjadi peluang untuk memperluas hubungannya tanpa membayar biaya politik dan militer yang serupa.
AS, untuk mengelola perang, terpaksa memindahkan kapal induk, menguras persediaan amunisi, dan memusatkan sumber daya di Asia Barat, tetapi Tiongkok secara bersamaan dapat memperluas perdagangannya di pasar negara berkembang, mengganti teknologi dan produknya dengan alternatif Barat yang lebih mahal, dan meningkatkan kehadiran strategisnya di Asia Timur. Perbedaan inilah yang mengubah pertanyaan "bagaimana Beijing memanfaatkan krisis Washington" dari klaim umum menjadi tren yang terukur.
Persaingan di Tengah Krisis; Mengkonsolidasikan Posisi Tiongkok dalam Tatanan Baru
Para ahli percaya bahwa Tiongkok tidak berusaha mengisi kekosongan yang disebabkan oleh konflik AS dengan cepat, tetapi menggunakan penyebaran kemampuan Washington untuk secara bertahap memperkuat hubungan ekonomi, keuangan, dan diplomatiknya. Reuters melaporkan bahwa negara-negara Arab di Teluk Persia, seiring dengan meningkatnya keraguan tentang kemampuan AS, semakin memperhatikan peran Tiongkok dalam mengelola ketegangan regional dan menjaga jalur perdagangan.
Tren ini juga terlihat dalam perdagangan Tiongkok dengan negara-negara Asia. Perdagangan Tiongkok-ASEAN pada paruh pertama 2026 tumbuh 18,2 persen menjadi 4,34 triliun yuan, dan ekspor listrik Tiongkok ke negara-negara ini juga meningkat 42,9 persen menyusul kekhawatiran akibat krisis energi. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Beijing mengubah kapasitas ekonominya menjadi alat untuk memperdalam saling ketergantungan dengan negara-negara kawasan.
Tiongkok secara bersamaan berupaya mengurangi ketergantungannya pada infrastruktur keuangan yang didominasi AS. Menurut data Administrasi Valuta Asing Negara Tiongkok, pada paruh pertama 2026, volume penerimaan dan pembayaran lintas batas sektor non-perbankan Tiongkok mencapai 9,2 triliun dolar, dan yuan menyumbang 52,9 persen dari penyelesaian lintas batas negara itu. Angka-angka ini, bahkan jika tidak mengancam posisi dolar, menunjukkan perluasan kapasitas keuangan independen Tiongkok.
Di arena politik, Tiongkok, karena hubungan simultannya dengan Iran dan negara-negara Arab Teluk, memiliki posisi yang berbeda dari AS. Tanpa terlibat langsung dalam konflik dan membayar biaya militer yang serupa dengan Washington, Beijing dapat menggunakan hubungan ekonomi dan diplomatiknya untuk meningkatkan peran politiknya. Dari perspektif ini, semakin lama berbagai krisis di kawasan ini berlanjut, semakin besar peluang Tiongkok untuk memperkuat hubungan dan meningkatkan kekuatan tawarnya di kawasan dan sekitarnya.
"Analisis ini mengupas bagaimana Tiongkok memanfaatkan keterlibatan AS dalam berbagai krisis untuk memperkuat posisinya secara global.
AS Terlalu Banyak Front: AS terlibat dalam konflik di Asia Barat (menyerang Iran), Eropa (Ukraina), dan persaingan dengan Tiongkok di Asia. Ini telah menyebarkan sumber daya militer AS, menguras persediaan amunisi (hingga 65% Patriot dan 38% THAAD habis), dan memaksa pemindahan kapal induk dari Pasifik ke Timur Tengah.
Tiongkok Memanfaatkan Kekosongan: Tiongkok tidak terlibat langsung dalam konflik, tetapi secara strategis memanfaatkan situasi untuk:
Ekonomi: Mengekspor lebih banyak truk listrik ke Asia Selatan (meningkat 5x) dan memperluas perdagangan dengan Afrika dan ASEAN, sementara tarif AS membuat pasar AS kurang menarik.
Militer: Membangun infrastruktur di Laut Tiongkok Selatan (misalnya, Antelope Reef) pada saat AS mengalihkan perhatiannya.
Keuangan: Meningkatkan penggunaan yuan dalam penyelesaian lintas batas (52,9%), mengurangi ketergantungan pada dolar.
Keuntungan Strategis: Tiongkok memperkuat hubungan dengan negara-negara Teluk dan negara berkembang lainnya tanpa membayar biaya politik dan militer yang sama dengan AS. Ini adalah contoh bagaimana Tiongkok menggunakan pendekatan "menang tanpa bertarung" untuk memperluas pengaruhnya, menjadikannya pemenang diam dari kebuntuan strategis AS."(Sail)