Krisis Energi di Ambang Musim Dingin: Seberapa Tangguh Eropa?
https://parstoday.ir/id/news/world-i198698-krisis_energi_di_ambang_musim_dingin_seberapa_tangguh_eropa
Pars Today - Kenaikan harga energi, penurunan cadangan gas, ketidakamanan di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab, serta kelanjutan perang Rusia-Ukraina, telah menghadapkan Eropa pada ujian yang sulit di ambang musim dingin.
(last modified 2026-10-15T13:45:44+00:00 )
Okt 15, 2026 20:44 Asia/Jakarta
  • LNG
    LNG

Pars Today - Kenaikan harga energi, penurunan cadangan gas, ketidakamanan di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab, serta kelanjutan perang Rusia-Ukraina, telah menghadapkan Eropa pada ujian yang sulit di ambang musim dingin.

Menurut laporan Pars Today yang dikutip dari Kantor Berita Mehr, kenaikan biaya penyediaan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya, di ambang musim dingin sekali lagi mengungkap kerentanan ekonomi Eropa terhadap perkembangan di luar perbatasan benua ini. "Ursula von der Leyen" Presiden Komisi Eropa, beberapa hari lalu (6 Oktober) mengumumkan bahwa sejak dimulainya serangan-serangan agresif Amerika dan rezim Zionis terhadap Iran, harga gas di Eropa meningkat 140 persen, harga solar menjadi dua kali lipat, dan biaya impor bahan bakar fosil Uni Eropa naik 100 miliar euro; kenaikan yang terjadi tanpa masuknya lebih banyak energi ke benua ini.

 

Pasar energi Eropa sejak dimulainya serangan-serangan agresif Amerika dan rezim Zionis terhadap Iran pada Februari 2026 menghadapi kenaikan harga dan kekhawatiran tentang pasokan gas yang berkelanjutan. Berdasarkan data pasar pada 12 Oktober, harga indeks gas Eropa di pasar Belanda mencapai sekitar 83 euro per megawatt-jam; sementara sebelum krisis berada dalam kisaran 30 hingga 35 euro. Pada saat yang sama, cadangan gas Uni Eropa pada 11 Oktober mencapai sekitar 73,6 persen kapasitas; tingkat yang masih lebih rendah dari jumlah cadangan pada periode yang sama tahun lalu.

 

Jaringan operator sistem transmisi gas Eropa juga dalam laporan prospek pasokan gas untuk musim dingin 2026-2027 memperingatkan bahwa jika pasokan gas alam cair tetap terbatas, cadangan Eropa mungkin mencapai kurang dari 30 persen hingga akhir musim dingin. Kenaikan harga, rendahnya tingkat cadangan, dan persaingan global untuk pasokan gas, mengurangi margin keamanan Eropa dalam bulan-bulan mendatang dan membuat benua ini lebih rentan terhadap cuaca dingin ekstrem atau gangguan lebih lanjut dalam pasokan.

 

Kerentanan energi Eropa tidak terbatas pada jumlah cadangan gas benua ini, melainkan juga bergantung pada keamanan jalur transit dan stabilitas wilayah penghasil. Sekitar 20 persen aliran gas alam cair global pada tahun 2025 melewati Selat Hormuz dan gangguan di jalur lintas ini dapat dengan mengurangi pasokan global dan memperburuk persaingan atas kargo yang tersedia, meningkatkan biaya penyediaan gas Eropa.

 

Dari sudut pandang para pengamat, konsekuensi situasi ini melampaui kenaikan biaya listrik dan pemanas dan menekan daya beli rumah tangga serta kemampuan bersaing industri. Kenaikan harga energi, meningkatkan biaya produksi di industri-industri seperti bahan kimia, plastik, dan pupuk kimia dan dapat mengarah pada kenaikan harga barang, penurunan margin keuntungan perusahaan, dan terbatasnya aktivitas perusahaan.

 

Pada saat yang sama, ketidakamanan di Selat Bab al-Mandab dan Laut Merah dapat memaksa kapal-kapal mengubah jalur melalui Tanjung Harapan dan meningkatkan waktu serta biaya transfer energi; sedemikian rupa sehingga berdasarkan laporan-laporan yang dipublikasikan pada musim panas 2026, jalur beberapa kapal tanker meningkat dari sekitar 19 hari menjadi hampir 48 hari. (MF)