Manuver Politik Duterte Dekati Cina dan Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i21679-manuver_politik_duterte_dekati_cina_dan_rusia
Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan Manila siap meningkatkan hubungan lebih dekat dengan Rusia dan Cina. Terlepas dari masalah ideologi, tutur Duterte, Filipina antusias untuk menjalin hubungan lebih erat dengan Cina dan Rusia, serta menjadikan Beijing dan Moskow sebagai sekutu utamanya.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Sep 27, 2016 15:31 Asia/Jakarta
  • Manuver Politik Duterte Dekati Cina dan Rusia

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan Manila siap meningkatkan hubungan lebih dekat dengan Rusia dan Cina. Terlepas dari masalah ideologi, tutur Duterte, Filipina antusias untuk menjalin hubungan lebih erat dengan Cina dan Rusia, serta menjadikan Beijing dan Moskow sebagai sekutu utamanya.

Presiden Filipina dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev mengajak pelaku ekonomi Rusia dan Cina, terutama yang bergerak di bidang telekomunikasi dan pesawat terbang untuk terjun di arena perekonomian Filipina. Duterte mengatakan, masalah ini juga akan dibicarakan dalam kunjungan dekat presiden Cina ke Manila.

Di bagian lain statemennya, Duterte menyinggung segera diakhirinya kerja sama patroli bersama antara Filipina dan AS di Laut Cina Selatan. Tidak hanya itu, presiden Filipina juga menyerukan supaya tentara AS segera meninggalkan wilayah perairan Filipina.

Hubungan Manila dan Washington renggang setelah presiden Filipina menyampaikan statemen di luar etika diplomatik mengenai Barack Obama belum lama ini. Padahal sebelumnya, Duterte dan Obama dijadwalkan akan bertemu di sela-sela KTT ASEAN di Laos. Tapi akhirnya pertemuan tersebut dibatalkan.

Setelah batalnya pertemuan tersebut, Duterte menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Filipina independen. Selain itu presiden Filipina juga menegaskan penolakan segala bentuk intervensi asing terhadap urusan Manila, dan menyerukan penarikan seluruh tentara AS dari negaranya.

Maksud Duterte dalam statemennya menolak segala bentuk intervensi asing sebagai balasan atas campur tangan Washington dalam pemberantasan narkotika yang dilakukan pemerintah baru Filipina.

Statemen terbaru presiden Filipina mengenai antusiasme Manila meningkatkan hubungan dengan Cina dan Rusia berlangsung di saat negara ini sebelum Duterte naik, cenderung mengambil jalan konfrontatif dengan Beijing. Terutama setelah Filipina menyampaikan gugatan mengenai konflik teritorial di kawasan Laut Cina Selatan dengan Beijing, dan pengadilan internasional mengeluarkan vonis mendukung klaim Manila. Tapi Beijing menolak hasil putusan tersebut, dan menilainya bertentangan dengan kepentingan nasional Cina. 

Pernyataan Duterte baru-baru ini mengenai kecenderungannya untuk meningkatkan hubungan dengan Cina dan Rusia menunjukkan bahwa Washington tidak bisa mempertahankan sekutunya di kawasan Asia tenggara.

Dalam kondisi demikian muncul pertanyaan, statemen Duterte yang antusias meningkatkan hubungan kerja sama dengan Cina apakah bermakna presiden Filipina akan mengesampingkan masalah klaim kepemilikan pulau yang juga diakui sebagai milik Cina, apalagi sudah mendapat dukungan dari pengadilan internasional Den Haag. Ataukah ini hanya teknik politik Duterte untuk memaksa Gedung Putih menerima realitas baru di Filipina dan tidak mengintervensi urusan dalam negeri Manila.(PH)