Ancaman Serangan Nuklir Pakistan
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif mengancam akan melakukan serangan nuklir terhadap India jika terjadi konflik militer.
Dalam wawancaranya dengan saluran Express TV pada Rabu (28/9/2016), Asif mengatakan bahwa Pakistan tidak ragu untuk menggunakan perangkat taktis (senjata nuklir taktis) dalam melawan India jika merasa keamanannya terancam.
"Pakistan tidak membangun senjata nuklir untuk pertunjukan, tapi ia untuk membela negara. Jika pasukan India memasuki wilayah Pakistan, pemerintah Islamabad tidak punya pilihan lain kecuali menggunakan senjata atom," tegasnya.
Pernyataan itu muncul setelah kedua negara baru-baru ini kembali bersitegang. Pekan lalu pasca serangan ke pangkalan militer India di kota Uri di utara Kashmir yang dikontrol India, New Delhi secara langsung menuduh Islamabad terlibat dalam serangan tersebut. Namun, pemerintah Pakistan membantah terlibat dalam serangan ke pangkalan militer India dan menuntut investigasi internasional.
Pakistan ingin memastikan pelaku asli serangan teror di kota Uri, yang telah menewaskan 17 tentara India. Para pejabat Islamabad percaya bahwa pemerintah New Delhi – demi menciptakan iklim ketidakpercayaan regional dan internasional terhadap Pakistan – mengaitkan setiap serangan teror di wilayah India kepada Islamabad.
Menurut partai penguasa Pakistan, New Delhi tidak menyerahkan bukti yang mendukung klaimnya tentang intervensi Islamabad dalam serangan teror di India, karena mereka benar-benar tidak punya bukti. Akan tetapi, propaganda miring New Delhi terhadap Islamabad sudah menciptakan citra negatif terhadap Pakistan.
Propaganda miring India sejauh ini mendorong Amerika Serikat untuk meningkatkan tekanan terhadap Pakistan dan juga mengurangi bantuan militernya.
India juga menuding Pakistan tidak transparan dalam perang melawan terorisme. Tudingan serupa juga dilakukan oleh Afghanistan terhadap Pakistan. Aksi memboikot KTT Asosiasi Kerjasama Regional Asia Selatan (SAARC) yang digelar di Islamabad oleh Afghanistan, Bangladesh, dan Nepal adalah salah satu dari dampak propaganda anti-Pakistan di kawasan.
Dalam beberapa bulan terakhir, para pejabat India juga secara terang-terangan berbicara tentang upaya untuk mengucilkan Pakistan di kancah internasional.
Para pengamat politik mengatakan bahwa kontrontasi lebih lanjut antara India dan Pakistan akan mengancam kepentingan kedua negara dan juga bisa membahayakan keamanan regional.
Perlu dicatat bahwa salah satu dari pemicu konfrontasi dua kekuatan nuklir di Asia Selatan ini adalah karena kebijakan AS yang mendorong India dan Pakistan untuk terus berseteru.
Penandatanganan dua kontrak terkait pembangunan enam reaktor nuklir di India oleh AS dan penjualan sistem rudal Harpoon, merupakan bagian dari langkah provokatif Washington di Asia Selatan. Langkah ini tentu saja akan meningkatkan eskalasi perlombaan senjata antara India dan Pakistan. (RM)