Pengunduran Diri Direktur Intelijen Nasional AS
Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, James Clapper mengundurkan diri setelah enam tahun memimpin lembaga itu. Ia mengatakan surat pengunduran dirinya telah diserahkan kepada Presiden Barack Obama dan komisi khusus DPR AS pada Kamis (17/11/2016).
Clapper menuturkan bahwa ia akan memimpin lembaga intelijen nasional AS selama Obama masih bertugas di Gedung Putih sampai 20 Januari 2017, tapi tidak berniat untuk meneruskan masa jabatannya di masa Presiden Donald Trump. Clapper adalah pensiunan angkatan udara AS dan ia ditunjuk oleh Obama untuk mengepalai lembaga intelijen nasional pada tahun 2010.
Pengunduran diri Clapper – sebagai kepala lembaga intelijen terpenting di AS – dapat dianggap sebagai dimulainya proses transisi kekuasaan di Washington dan perubahan komposisi pejabat yang tidak cocok dengan gaya kepemimpinan Trump.
Clapper bertugas mengkordinasikan 17 lembaga intelijen dan keamanan di AS termasuk Dinas Intelijen Pusat (CIA) dan Badan Keamanan Nasional (NSA). Selama masa kampanye pemilu presiden AS, ia terang-terangan menuduh Rusia meretas sistem komputer AS dengan motif mempengaruhi hasil pemilu. Namun, Moskow membantah keras tuduhan itu dan menegaskan, Rusia tidak akan mengintervensi urusan internal negara lain khususnya proses pemilu.
Clapper mengatakan bahwa Presiden Vladimir Putin sangat ingin agar Rusia diperlakukan sebagai sebuah kekuatan global yang setara dengan AS.
Mungkin ada dua alasan utama yang membuat Clapper mundur. Pertama, penentangan terang-terangan Clapper terhadap agenda-agenda Trump sebagai sayap kanan ekstrim, yang ingin melakukan perubahan fundamental terhadap program dan langkah-langkah Obama dari kubu Demokrat.
Jika memperhatikan slogan dan pidato Trump yang disampaikan selama pertarungan pemilu, maka dapat ditangkap bahwa ia akan mengambil kebijakan yang berbeda dengan Obama baik dalam hubungannya dengan urusan internal Amerika maupun dalam kebijakan luar negeri dan isu-isu keamanan.
Clapper tentu saja tidak cocok dengan pendekatan seperti itu dan ia tidak bersedia bekerjasama dengan Trump.
Dan kedua, berhubungan dengan sikap khusus Trump terhadap Rusia. Ia menjanjikan normalisasi hubungan dengan Moskow jika terpilih sebagai presiden. Pada masa kampanye, ia memuji Putin sebagai sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan yang jauh lebih kuat ketimbang Obama. Trump bahkan ingin bersahabat dengan Rusia dan bekerjasama untuk mengurangi ketegangan antara Washington dan Moskow.
Pada era Obama, perseteruan antara AS dan Rusia mencapai puncaknya dalam berbagai isu dan krisis regional dan internasional. Para pejabat dinas intelijen Amerika seperti Clapper, sangat curiga terhadap Rusia dan kinerja negara itu terutama selama masa pertarungan pemilu presiden Amerika.
Meskipun saat ini hubungan AS dan Rusia sarat dengan konflik dan level kerjasama juga terus menurun di semua bidang. Namun, diperkirakan hubungan kedua pihak akan membaik di era Trump. Oleh karena itu, para pejabat Amerika seperti Clapper, tidak berniat untuk melakukan aktivitas di era seperti itu. (RM)