Potensi Pembatalan JCPOA oleh AS dan Dampaknya
https://parstoday.ir/id/news/world-i27175-potensi_pembatalan_jcpoa_oleh_as_dan_dampaknya
John Brenann, Ketua Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA) mereaksi sikap Donald Trump soal kesepakatan nuklir dengan Iran atau Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), menjelaskan bahwa pembatalan kesepakatan yang telah ditandatangani Washington dengan Tehran, adalah sikap tidak bijak.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 01, 2016 14:36 Asia/Jakarta
  • John Brennan
    John Brennan

John Brenann, Ketua Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA) mereaksi sikap Donald Trump soal kesepakatan nuklir dengan Iran atau Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), menjelaskan bahwa pembatalan kesepakatan yang telah ditandatangani Washington dengan Tehran, adalah sikap tidak bijak.

Menurutnya, penganuliran kesepakatan tersebut akan membuat banyak negara menindaklanjuti program nuklir mereka. Ditambahkannya, "Saya pikir pembatalan kesepakatan ini sungguh merupakan tragedi dan ketika itu [terjadi] akan menjadi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Amerika Serikat."

 

Peringatan salah satu pejabat intelijen tertinggi Amerika Serikat soal pelaksanaan salah satu janji kampanye Trump soal penganuliran kesepakatan JCPOA, mengindikasikan kekhawatiran pemerintah AS saat ini yang berperan besar dalam tercapainya kesepakatan dengan Iran.

 

Jika Trump benar-benar akan membatalkan JCPOA atau menuntut perombakan total seluruh kontennya, ini sama artinya dengan inkredibilitas politik Amerika Serikat di tingkat global. Selain itu, JCPOA bukan kesepakatan bilateral antara Iran dan Amerika Serikat saja di mana Washington dapat membatalkannya secara sepihak.

 

Amerika Serikat bersama mitranya dari Eropa serta Rusia dan Cina dalam Kelompok 5+1 setelah perundingan panjang pada akhirnya menandatangani JCPOA yang menentukan garis besar program nuklir Iran. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga pada Juli 2015 menetapkan resolusi nomor 2231 untuk membuka jalan bagi pelaksanaan JCPOA.

 

Sejak implementasi JCPOA pada Januari 2016, Iran telah melaksanakan seluruh komitmennya sesuai kesepakatan dan hal ini bahkan telah dijelaskan dengan gamblang dalam sejumlah laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Pada saat yang sama, negara-negara Eropa juga berkeinginan meningkatkan kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan Iran, namun terhalang interferensi dari pihak Amerika Serikat. Oleh karena itu Uni eropa memperingatkan potensi langkah dari Amerika Serikat.

 

Dalam hal ini, Federica Mogherini, pada pertengahan November 2016, setelah kemenangan Trump dalam pilpres AS, menyatakan bahwa kesepakatan JCPOA bukan kesepakatan bilateral antara Tehran dan Washington, dan Trump tidak dapat membatalkannya, melainkan sebuah kesepakatan multilateral yang terekam dalam resolusi Dewan Keamanan PBB.

 

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jika Trump benar-benar membatalkan JCPOA, maka dia harus siap menerima reaksi balasan dari mitranya di Eropa. Selain itu, jika ini benar-benar terjadi maka kredibilitas politik Amerika Serikat akan mengalami degradasi. Ungkapan Brennan itu berarti bahwa jika JCPOA dianulir, maka AS akan menjadi negara yang tidak dapat dipercaya. Selain itu, negara-negara yang memiliki program nuklir tidak akan bersedia menandatangani kesepakatan yang akhirnya akan bernasib sama seperti JCPOA.(MZ)