Kebijakan Mendeportasi Pengungsi dari Eropa
https://parstoday.ir/id/news/world-i29329-kebijakan_mendeportasi_pengungsi_dari_eropa
Juru bicara Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di Serbia, Mirjana Milenkovska memperingatkan tentang peningkatan deportasi ilegal pengungsi, yang berusaha mencapai Eropa Barat melalui rute Balkan.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Des 27, 2016 17:29 Asia/Jakarta
  • Kebijakan Mendeportasi Pengungsi dari Eropa

Juru bicara Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di Serbia, Mirjana Milenkovska memperingatkan tentang peningkatan deportasi ilegal pengungsi, yang berusaha mencapai Eropa Barat melalui rute Balkan.

Dalam sebuah pernyataan, Senin (26/12/2016), Milenkovska mengatakan sekitar 1.000 pengungsi dari Timur Tengah, Asia dan Afrika telah diusir pada bulan November saja di sepanjang rute Balkan.

Sebelum rute Balkan ditutup pada Maret 2016, ratusan ribu pengungsi menempuh perjalanan melalui Makedonia, Serbia, Kroasia, dan Hungaria untuk mencapai Eropa Barat dari Yunani.

Tekanan dan pembatasan terhadap pengungsi di negara-negara Eropa dilaporkan terus meningkat. Negara-negara Eropa Timur dan wilayah Balkan memberlakukan pengetatan untuk melawan kedatangan pengungsi. Negara-negara Eropa Timur khususnya Polandia, Hungaria, dan Republik Ceko sejak awal menentang kebijakan penjatahan pengungsi yang digagas Uni Eropa.

Pada dasarnya, negara-negara blok Eropa berbeda pandangan tentang cara menangani pengungsi. Kubu pertama yang mencakup negara-negara besar Eropa – Jerman dan Perancis bersama Italia, Yunani, Spanyol, dan beberapa negara Eropa lainnya – menyerukan pendistribusian pengungsi di antara anggota. Namun, kubu kedua – yang dimotori Inggris bersama negara-negara Eropa Tengah dan Timur seperti, Hungaria, Slovakia, Republik Ceko, dan Polandia – menentang pembagian jatah kuota pengungsi.

Peristiwa teror di Eropa khususnya serangan teroris di Berlin telah memperkuat alasan untuk menolak dan mendeportasi pengungsi. Saat ini para pendukung kebijakan pembatasan dan bahkan larangan penerimaan pengungsi di Eropa semakin bertambah. Sementara kubu pendukung pengungsi sudah berada pada posisi yang lemah. Terlebih karena jumlah pengungsi yang datang ke Eropa sangat besar, maka secara prinsip masalah penerimaan dan penempatan mereka di negara-negara Eropa menjadi sebuah persoalan yang tidak terpecahkan.

Negara-negara Eropa Timur mengadopsi langkah-langkah untuk menolak pengungsi setelah terjadinya serangan teror di beberapa negara Eropa. Pemerintah Polandia menolak menerima pengungsi seperti yang ditetapkan oleh Uni Eropa gara-gara serangan teror di Paris.

Presiden Republik Ceko Milos Zeman dalam sebuah statemen pada hari Senin, mengatakan bahwa hari ini tidak ada yang meragukan hubungan antara gelombang pengungsi dan serangan teroris.

Sejalan dengan kebijakan anti-Islam yang diadopsinya, Zeman menegaskan bahwa menerima pengungsi Muslim yang dengan sulit bisa menyesuaikan diri dengan wilayah kami, sama saja dengan menciptakan tempat berkembang biak bagi serangan teroris potensial.

Kampanye Islamphobia di negara-negara Barat telah menempatkan pengungsi Muslim dalam kesulitan di Eropa. Padahal, akar kekerasan dan kekacauan di banyak negara-negara Islam khususnya Suriah dan Irak, karena campur tangan Barat dan dukungan mereka kepada kelompok-kelompok teroris.

Sebenarnya, negara-negara Eropa menyembunyikan banyak fakta dari warganya. Mereka lantang berbicara tentang gelombang pengungsi sebagai sebuah ancaman keamanan bagi Eropa, tapi tidak pernah menjelaskan kepada publik Eropa mengapa orang-orang tersebut meninggalkan negaranya dan mempertaruhkan nyawanya untuk mencapai daratan Eropa. Mengapa jutaan warga Suriah menempuh perjalanan maut ke Eropa? (RM)