Suu Kyi dan Nasib Malang Rohingya
Kekerasan terhadap minoritas Muslim Rohingya kian cenderung semakin memburuk. Bahkan, selain dilakukan oleh ekstrimis Budha juga melibatkan petugas keamanan Myanmar.
Dilaporkan, polisi Myanmar yang seharusnya menjaga keamanan justru membantu ekstremis Budha menyerang dan menekan minoritas etnis Rohingya. Masalah ini disembunyikan, tapi kemudian terbongkar.
Pemerintah Myanmar baru-baru ini mengambil tindakan yang jarang terjadi sebelumnya dengan menangkap sejumlah polisi. Penangkapan ini dilakukan menyusul tersebarnya sejumlah gambar aksi penyiksaan yang dilakukan sejumlah polisi terhadap Muslim Rohingya. Tampaknya, jika gambar ini tidak tersebar, maka pemerintah Myanmar tidak akan mengambil tindakan tersebut.
Sebuah laporan bergambar menjelaskan operasi genosida terhadap Muslim Rohingya yang melibatkan polisi Myanmar dan terjadi pada 5 November 2016. Laporan ini juga dibenarkan oleh komite informasi kantor penasehat pemerintah Myanmar, Aung San Suu Kyi.
Sejak 2009 hingga kini, bersamaan dengan menguatnya kedudukan Aung San Suu Kyi di arena politik Myanmar, negara kawasan Asia tenggara ini menghadapi sebuah dinamika baru, termasuk transformasi politik dan sosial. Di pemerintahan baru Myanmar, Suu Kyi memainkan dua posisi penting sebagai penasehat negara dan menteri luar negeri.
Publik regional dan dunia berharap dinamika ini akan memperbaiki nasib tiga juga minoritas Muslim Rohingya. Tapi faktanya, justru jauh panggang dari api. Alih-alih membaik, nasib Rohingya justru semakin memburuk. Mereka menjadi sasaran kekerasan ekstremis Budha, yang didukung sebagian pasukan keamanan Myanmar.
Rohingya hidup miskin dan kelaparan di negaranya sendiri. Mereka juga terlantar dan hidup di kamp-kamp pengungsian karena rumahnya menjadi sasaran serangan ekstrimis Budha dan pasukan keamanan. Dengan deretan sebagian kecil fakta ini, tidak sulit untuk menyebut rapor peraih nobel perdamaian ini buruk, dan dia juga ikut terlibat dalam membiarkan berlanjutnya diskriminasi dan kekerasan terhadap Rohingya.
Tampaknya, jika gambar penyiksaan terhadap Muslim Rohingya tidak tersebar, barangkali pemerintah Myanmar akan berkelit dengan menyebutkan aksi tersebut dilakukan oleh ekstrimis. Sebab sebelumnya, segala bentuk penyerangan, dan kekerasan yang dilakukan oleh polisi, tentara dan warga Budha Myanmar ditimpakan kepada ekstrimis. Sebaliknya, Muslim Rohingya yang jadi korban justru dituduh sebagai pihak yang bekerja sama dengan separatis. tapi tudingan tersebut dibantah oleh minoritas Rohingya sendiri.
Muncul pertanyaan besar, mengapa hingga kini, Aung San Suu Kyi yang menjabat sebagai menteri luar negeri sekaligus penasehat negara tidak mau menerika realitas getir ini ?
Media regional dan internasional, bahkan sebagian media Barat sendiri memberitakan berlanjutnya kekerasan terhadap Muslim Rohingya, dan penantian aksi nyata peraih nobel perdamaian Myanmar yang kini memagang kunci kekuasaan negara itu untuk meredam kekerasan terhadap minoritas Rohingya.
Apakah pemerintah Myanmar akan mengambil tindakan serius untuk mengatasi masalah ini dengan tersebarnya gambar penyiksaan yang dilakukan polisi negara ini terhadap minoritas Rohingya. Keseriusan ini akan diuji dengan tindakan nyata di lapangan. Tampaknya, masuknya jurnalis dalam dan luar negeri ke Rakhine akan mendorong dibukanya fakta sebenarnya yang terjadi menimpa Rohingya, sehingga pemerintah Myanmar bertindak nyata untuk meredakan konflik dan kekerasan yang menimpa minoritas Muslim di negara kawasan Asia Tenggara itu.(PH)