Janji Trump Bekerjasama dengan Netanyahu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pembicaraan telepon dengan perdana menteri rezim Zionis Israel, menjanjikan dukungan mutlak Washington kepada Tel Aviv dalam transformasi di kawasan.
Gedung Putih dalam sebuah rilis menyatakan Trump terlibat pembicaraan telepon dengan Benjamin Netanyahu pada Ahad (22/1/2017) malam, dan kedua pihak sepakat untuk melakukan konsultasi dekat terkait berbagai isu termasuk apa yang mereka sebut ancaman Iran.
Netanyahu sudah lama menanti momen-momen seperti itu. Pembicaraan tersebut dapat menjadi pertanda menghangatnya kembali hubungan dengan AS setelah terlibat ketegangan dengan pemerintahan Obama.
Iranphobia – sebagai isu utama pembicaraan – merupakan sebuah pendekatan yang diadopsi oleh pemerintahan Obama, namun yang membuat berbeda adalah lahirnya kesepakatan nuklir, di mana Netanyahu sangat marah dengan itu.
Pernyataan-pernyataan Trump selama masa kampanye pilpres Amerika, menumbuhkan harapan baru bagi rezim Zionis yang menjadikan penentangan terhadap Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) sebagai prioritas utama kebijakannya.
Namun faktanya jika melihat jauh ke belakang, akan ditemukan bahwa semua penguasa Amerika bahkan sebelum Obama, mengadopsi kebijakan konfrontatif terhadap Republik Islam dan jika ada perubahan lahiriyah dalam perilaku Obama, sebenarnya ini hanya tangan besi dalam sarung tangan beludru AS untuk memukul Iran.
Mengaitkan Iran dengan poros kejahatan dan memberikan analisa-analisa palsu seputar program nuklir Iran di Majelis Umum PBB, merupakan landasan garis pemikiran kolektif Amerika dan Israel tentang Iran. Akan tetapi, perkembangan regional dan internasional telah mempengaruhi kebijakan luar negeri AS termasuk keikutsertaan negara itu dalam perundingan nuklir Iran.
Meski begitu, Trump menyebut JCPOA sebagai sebuah kesepakatan yang buruk. Tentu ada banyak kontradiksi dalam komentar-komentar Trump terkait dengan isu-isu internasional termasuk mempertanyakan kesepakatan nuklir Iran.
Tentu masih butuh waktu untuk melihat sejauh mana Trump akan melaksanakan slogan-slogannya dan berkomitmen dengan janji-janji yang diberikan kepada Netanyahu.
Yang jelas, Trump terlihat sangat agresif untuk mengabaikan komitmen internasional AS. Namun, dengan memperhatikan gelombang kritik dan penentangan dunia terhadap sikap-sikap prematur Trump, tentu ia tidak memiliki kemampuan untuk membangun konsensus terhadap Iran atau memberikan dukungan besar-besaran kepada Israel.
Retorika Netanyahu terhadap Iran sarat dengan halusinasi, padahal Israel sedang terjebak dalam banyak masalah dan manuver-manuvernya justru akan membuat masalah semakin menumpuk.
Trump juga dituntut realistis dengan memperhatikan realitas di tengah masyarakat Amerika dan perkembangan di luar perbatasan negara itu mulai dari Timur sampai Timur Tengah. Paling tidak ia memikirkan dampak-dampak dari kebijakan Amerika di Timur Tengah. (RM)