Tekad Indonesia, Malaysia dan Filipina Perangi Daesh
https://parstoday.ir/id/news/world-i31837-tekad_indonesia_malaysia_dan_filipina_perangi_daesh
Malaysia, Indonesia dan Filipina mencapai kesepakatan kerja sama segitiga memerangi aktivitas kelompok teroris Daesh dan penyebaran ideologi radikal kelompok Takfiri ini di kawasan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 27, 2017 11:12 Asia/Jakarta
  • Tekad Indonesia, Malaysia dan Filipina Perangi Daesh

Malaysia, Indonesia dan Filipina mencapai kesepakatan kerja sama segitiga memerangi aktivitas kelompok teroris Daesh dan penyebaran ideologi radikal kelompok Takfiri ini di kawasan.

Kesepakatan kerja sama ini disepakati pemimpin tiga negara, Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak, Presiden Indonesia Joko Widodo dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Rencananya ketiga negara ini bekerja sama menangkap anasir teroris dan mencegah perluasan ideologi mereka di kawasan.

 

Kesepakatan petinggi Malaysia, Indonesia dan Filipina bekerja sama melawan kelompok teroris Daesh mengindikasikan kekhawatiran mereka atas perubahan geografi aktivitas Daesh setelah fenomena buruk ini semakin terjepit di Irak dan Suriah. Sejumlah sumber mengatakan sekitar 1000 teroris dari Malaysia, Indonesia dan Filipina bergabung dengan Daesh di kawasan Asia Barat dan membentuk unit Melayu Daesh.

 

Potensi kepulangan sejumlah warga Malaysia, Indonesia dan Filipina yang bergabung dengan Daesh di Irak dan Suriah, kian menambah kekhawatiran eskalasi ancaman Daesh di ketiga negara tersebut. Berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia, Malaysia dan Filipina di tahun 2016 menarik perhatian petinggi keamanan negara Asia Tenggara terkait kerja sama serta hubungan kelompok teroris di kawasan dengan sejumlah anasir Daesh.

 

Pada Juli 2016, serangan teror pertama Daesh dilancarkan di Malaysia. Hal ini menjadi titik awal kekhawatiran pengaruh kelompok ini di Malaysia dan upaya memperkuat jaringan interaksi anasir teroris ini di Asia Tenggara. Sejumlah laporan terkait keberadaan anasir Daesh di Kepulauan Mindanao di Filipina selatan dan kondisi khusus kawasan ini untuk membentuk pangkalan kelompok teroris di negara ini membuat ancaman Daesh di Asia Tenggara menjadi kekhawatiran bersama ketiga negara ini. Khususnya negara bagian Sabah memiliki perbatasan perairan dengan pulai Mindanao di selatan Filipina.

 

Sementara di Indonesia, penangkapan sejumlah anasir yang berafiliasi dengan Daesh serta penggalangan dana bagi kelompok teroris ini menjadi tanda bahaya atas aksi-aksi kelompok radikal di negara ini. Penculikan puluhan awak kapal Indonesia, Malaysia dan Filipina oleh kelompok Abu Sayyaf yang dikenal sebagai sekutu Daesh, menjadi salah satu motivasi ketiga negara ini untuk menggalang kerja sama menumpas kelompok teroris.

 

Maraknya ancaman kelompok radikal di Asia Tenggara berkaitan langsung dengan kebijakan Arab Saudi untuk memperluas pengaruh ideologi Wahabi dan Salafi di kawasan ini di mana Daesh adalah satu satu produk dari ideologi ini.

 

Adanya ideologi dan pemikiran yang memiliki kedekatan dengan ideologi radikal serta Wahabi di sejumlah negara Asia Tenggara termasuk Malaysia yang didukung oleh dana jutaan dolar Arab Saudi, menjadikan kebijakan berbahaya Riyadh di kawasan membuka peluang bagi instabilitas regional serta aktivitas kelompok teroris.

 

Laporan yang ada menunjukkan bahwa pemerintah Arab Saudi memanfaatkan berbagai metode untuk menyebarkan ideologi berbahaya Wahabi di Malaysia dan Indonesia termasuk melalui paket bantuan kepada sejumlah pusat pendidikan yang menyebarkan ideologi radikal serta pemberian bea siswa kepada pemuda di kedua negara ini. Artinya Arab Saudi tengah berusaha mendidik individu-individu yang akan menyebarkan kekerasan dan terorisme melalui kedok mubalig agama. (MF)