Langkah Baru Trump Melawan Rusia
Pemerintah Amerika Serikat mendirikan Pusat Perang Informasi untuk melawan Rusia meskipun Presiden Donald Trump selama masa kampanye dan setelah pelantikan, menjanjikan pemulihan hubungan dengan Moskow.
Pusat yang disebut Global Engagement Center (GEC) ini melakukan aktivitasnya di bawah Departemen Luar Negeri AS dan bertugas melancarkan perang informasi terhadap Rusia.
Pada era Perang Dingin, AS mendirikan sebuah pusat informasi serupa untuk melawan propaganda Rusia dan lembaga itu secara perlahan telah kehilangan efektivitasnya.
GEC dibentuk pada masa pemerintahan Barack Obama untuk melawan propaganda kelompok teroris Daesh, dan sekarang GEC berubah menjadi Pusat Perang Informasi untuk melawan Rusia di bawah pemerintahan Trump.
Tugas pokok GEC adalah meluncurkan kampanye propaganda di luar negeri, menganalisa berbagai persoalan dan melawan gerakan-gerakan anti kebijakan AS, yang sejalan dengan perang informasi terhadap Rusia.
Kehadiran GEC ini mengindikasikan ketidakpercayaan pemerintahan Trump terhadap Presiden Vladimir Putin dan sebenarnya merupakan kelanjutan dari permusuhan Washington terhadap Moskow.
Meski Trump berjanji mengadopsi kebijakan yang berbeda dengan Obama dan memperbaiki hubungan dengan Rusia – sebuah janji yang membuat Moskow sedikit optimis – namun Presiden baru AS mulai menetapkan syarat tertentu untuk pemulihan hubungan yaitu; Moskow harus meninggalkan kebijakan agresif dan mewujudkan keinginan-keinginan Washington.
Dia sebelum ini juga berencana menarik diri dari NATO, tapi pasukan dan peralatan tempur AS dan NATO sekarang disebarkan di Eropa Timur dengan tujuan mengisolasi dan memperlemah Rusia. Trump baru-baru ini justru berbicara tentang dukungan kuat AS kepada NATO dan menolak mencabut sanksi terhadap Moskow. Ia juga menjanjikan bantuan kepada pemerintah Ukraina untuk melawan ancaman Rusia.
Pada dasarnya, Trump sedang melanjutkan kebijakan anti-Rusia yang dijalankan Obama. Masalah ini akan mendorong ketidakpercayaan Moskow terhadap rival tradisionalnya, Washington dan sebagian pejabat Rusia mengatakan, normalisasi hubungan akan menjadi sulit karena perbedaan kepentingan dan kerumitan hubungan kedua pihak.
Berlanjutnya sanksi AS dan sekutunya terhadap Rusia, ekspansi NATO atas komando AS ke wilayah Eropa Timur dan sekarang kehadiran GEC, semua ini merupakan sinyal atas meningkatnya tekanan terhadap Moskow. Presiden Putin juga telah mengeluarkan perintah kepada pasukan Rusia untuk bersiap perang.
Menurut keterangan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, langkah-langkah yang diperlukan sudah diambil untuk meningkatkan kesiapan tempur pasukan Rusia.
Para pejabat Kremlin menyadari bahwa mentalitas Perang Dingin belum pudar di tengah politisi dan militer Amerika. Dalam hal ini, pemerintahan Putin harus mempertahankan kesiapan pertahanan dan keamanan negaranya dalam menghadapi ancaman musuh.
Putin baru-baru ini merespon penumpukan pasukan AS dan NATO di dekat perbatasannya. Rusia telah menempatkan pasukan dan peralatan baru militer di sekitar perbatasan Eropa.
Dengan demikian, AS dan Rusia belum mengambil langkah keamanan yang stabil pasca Perang Dingin demi menyelesaikan perseteruan kedua pihak. Rivalitas dan permusuhan di antara mereka tetap berlanjut untuk memperluas pengaruh khususnya di Eropa Timur. (RM)