Ketegangan Hubungan NATO dan Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i33034-ketegangan_hubungan_nato_dan_rusia
Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg mengatakan, aliansi militer ini tidak pernah memikirkan perlombaan senjata dengan Rusia dan tidak punya maksud untuk berkonfrontasi dengan negara itu.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 17, 2017 10:42 Asia/Jakarta
  • Ketegangan Hubungan NATO dan Rusia

Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg mengatakan, aliansi militer ini tidak pernah memikirkan perlombaan senjata dengan Rusia dan tidak punya maksud untuk berkonfrontasi dengan negara itu.

Dia menuturkan NATO bertujuan untuk mencegah terjadinya konflik dan mengklaim bahwa penyebaran pasukan NATO di Eropa Timur dilakukan untuk misi pertahanan dan jumlah kekuatan juga diumumkan.

Klaim Stoltenberg tentang pendekatan bersahabat NATO dengan Rusia dan tujuan kehadiran organisasi itu terutama di Eropa Timur, benar-benar bertentangan dengan fakta.

Krisis Ukraina telah memperburuk hubungan Rusia-Barat ke titik terendah dan menyebabkan keretakan lebih lanjut dalam hubungan mereka. Seiring naiknya tensi ketegangan ini, kedua pihak mulai pamer kekuatan dan dalam situasi sekarang, NATO – sebagai lengan militer Barat – lebih banyak mengambil posisi ofensif terhadap Rusia.

Sejak tahun 2014 sampai sekarang, NATO memperkuat kehadiran militernya di negara-negara Eropa Timur yang bertetangga dengan Rusia. Penumpukan pasukan NATO di Eropa Timur terjadi pada saat Rusia berkali-kali memperingatkan tindakan tersebut.

Pasca runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, NATO berdasarkan kebijakan ekspansif ke Timur melakukan upaya konstan untuk menawarkan keanggotaan kepada negara-negara di Eropa Timur dan Tengah.

Pendekatan NATO ini mengundang penentangan keras Rusia. Dalam pandangan Moskow, aliansi militer Barat ingin menyeret Rusia dalam konflik dan mengisolasi negara itu. Oleh karena itu, kebijakan ekspansi NATO ke Timur masih terus menjadi salah satu ancaman potensial bagi Rusia.

Sebelum pecahnya krisis Ukraina dan memburuknya hubungan Moskow-NATO, kedua pihak bekerjasama dalam sebuah wadah yang disebut Dewan Kerjasama NATO-Rusia. Dewan ini dibentuk pada tahun 2002 dan pertemuan terakhir mereka berlangsung pada Juni 2014.

Dialog antara Rusia dan NATO terhenti selama dua tahun sampai kedua pihak kembali menggelar dua pertemuan pada Mei dan Juli 2016 di Brussels, Belgia. Pertemuan tersebut tidak berhasil mengurangi perteseruan di antara mereka.

Pendekatan konfrontatif NATO dan ekspansinya ke arah Timur mendorong Moskow memperkenalkan NATO sebagai ancaman bagi keamanan nasional Rusia sesuai dengan doktrin keamanan nasionalnya. Para pejabat Moskow percaya bahwa permusuhan Barat terhadap Rusia bukan sebuah fenomena sesaat, tapi itu merupakan sebuah pendekatan permanen yang diadopsi oleh NATO dan Amerika Serikat untuk melawan Rusia.

NATO juga bersikeras memperbesar kehadiran militer di Laut Hitam meskipun Rusia menyuarakan keprihatinan serius. NATO mengklaim tujuan kehadiran itu untuk meningkatkan kesiapan pasukan dan mempertahankan kesiapan NATO dalam menghadapi ancaman potensial.

Menurut Stoltenberg, negara-negara anggota NATO menyetujui penambahan jumlah pasukan di Laut Hitam dan misi ini sejalan dengan Konvensi Montreux.

Setelah semenanjung Krimea digabungkan dengan Rusia, kapal-kapal perang NATO mulai berkonsentarasi di Laut Hitam dan keputusan ini lagi-lagi mengundang reaksi negatif dari Moskow.

AS sebagai anggota utama NATO telah mengumumkan rencananya untuk kehadiran parmanen di Laut Hitam. Pemerintah Moskow memandang kehadiran dan penumpukan peralatan militer Barat di kawasan sebagai sebuah ancaman bagi keamanan nasional Rusia dan sudah sering memberi peringatan kepada AS dan NATO terkait kebijakan ekspansif Barat. (RM)