Peringatan Rusia kepada NATO
Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (26/5/2017), mengkritik keras manuver NATO di negara-negara tetangga Rusia di Eropa Timur.
Statemen itu memperingatkan kebijakan pembendungan (containment) Rusia yang diadopsi oleh NATO dan mengatakan konsekuensi langsung dari kebijakan itu adalah meningkatnya potensi konflik di wilayah Euro-Atlantik.
"Saat ini hubungan Rusia-NATO berada pada titik terburuk sejak berakhirnya Perang Dingin," kata Kemenlu.
Pernyataan tersebut dikeluarkan satu hari setelah KTT NATO di Brussels, yang turut dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kebijakan NATO untuk membendung Rusia tampaknya telah menjadi alasan kemarahan Moskow dan memaksanya merilis sebuah pernyataan yang keras.
Pada hari Kamis, Sekjen NATO, Jens Stoltenberg secara tegas mengatakan bahwa melawan Rusia akan selalu menjadi agenda kerja NATO. Dia menegaskan, NATO selalu mempertimbangkan kebijakan pencegahan dan perundingan dalam berurusan dengan Rusia.
Sejalan dengan sikap NATO, Uni Eropa – yang pernah menjadi sekutu utama ekonomi dan perdagangan Rusia – juga mempertahankan sanksi yang ketat terhadap Moskow. Presiden Dewan Eropa Donald Tusk meminta negara-negara G7 untuk menekankan kebijakan sanksi terhadap Rusia dalam hubungannya dengan masalah Ukraina.
Menurut Tusk, sinyal perubahan dalam kebijakan Rusia belum terlihat pasca berakhirnya KTT G7 di Jepang.
Rusia berada di bawah sanksi luas Barat setelah menganeksasi Krimea pada tahun 2014.
Moskow saat ini menghadapi kebijakan konfrontatif Barat di dua aspek militer-keamanan dan ekonomi-perdagangan. Namun, hal yang lebih penting bagi Kremlin sekarang adalah meningkatnya manuver NATO di wilayah perbatasan Rusia, yang bertujuan untuk mengisolasi negara itu.
Perselisihan tajam Rusia dan NATO mengenai krisis Ukraina menyebabkan hubungan kedua pihak berada di titik terendah. Padahal, hubungan mereka telah memanas sejak NATO menyebarkan sistem pertahanan rudal di Eropa Timur.
Seiring naiknya tensi ketegangan, Rusia dan NATO sama-sama melakukan pamer kekuatan militer dan dalam hal ini, NATO – sebagai lengan militer Barat – tampil lebih agresif dan mengancam keamanan nasional Rusia. Padahal, ekspansi NATO ke wilayah Timur ditentang keras oleh Moskow.
Dalam pandangan Kremlin, langkah NATO bertujuan untuk membendung dan mengisolasi Rusia. Oleh karena itu, mereka memandang kebijakan ekspansionis NATO sebagai salah satu ancaman potensial bagi Rusia. Sikap agresif aliansi militer Barat ini mendorong Moskow memperkenalkan NATO dalam doktrin keamanan nasionalnya sebagai sebuah ancaman bagi keamanan nasional Rusia.
Para pejabat Moskow percaya bahwa permusuhan Barat terhadap Rusia bukan sebuah langkah temporal, tapi sebuah pendekatan tetap dan kebijakan permanen NATO dan AS. (RM)