Malaysia Perketat Keamanan di Perbatasan
Pemerintah Malaysia mengkonfirmasikan peningkatan keamanan di perbatasan negara ini pasca serangan teror di negara tetangga.
Menteri Pertahanan Malaysia, Hishammuddin Hussein setelah serangan teror di tiga negara tetangga, menginstruksikan militer negara ini menambah personil dan meluaskan domain patroli di seluruh wilayah perbatasan.
Ledakan bom di rumah sakit Phramongkutklao yang berada di pusat Kota Bangkok, Thailand, Senin (22/5/2017), ledakan bom di teminal Kampung Melayu, Jakarta, Indonesia pada Rabu (24/5/2017) dan bentrokan antara militer Filipina dengan kelompok teroris Maute di kota Marawi, Mindanao adalah alasan utama Hishammuddin Hussein mengisyaratkan peningkatan keamanan di perbatasan Malaysia di statemennya.
Instruksi menhan Malaysia untuk meningkatkan keamanan di wilayah perbatasan negara ini mengindikasikan kekhawatiran besar pejabat Kuala Lumpur atas merembetnya domain serangan teror dari negara-negara tetangga ke Malaysia. Khususnya ada potensi para teroris yang diburu di Indonesia, Filipina dan Thailand yang terlibat dalam serangan, ledakan bom dan bentrokan terbaru di tiga negara ini lari memasuki wilayah Malaysia.
Oleh karena itu, menhan Malaysia menginstruksikan jajaran keamanan negara ini menambah personilnya di berbagai wilayah perbatasan dan meningkatkan jadwal patroli perbatasan demi mencegah upaya teroris memasuki wilayah negara ini. Khususnya Malaysia baik di dalam negeri juga menghadapi aktivitas sejumlah kelompok radikal yang terkait dengan Daesh di mana hal ini dapat berujung pada ketertarikan teroris di negara tetangga yang melakukan operasi destruktif.
Pejabat Malaysia khawatir seiring dengan meningkatnya aktivitas Daesh di Asia Tenggara dan sejumlah kelompok teroris lain di kawasan termasuk kelompok Abu Sayyaf di Filipina, fenomena buruk ini setelah mengalami kekalahan di Irak dan Suriah akan mengubah wilayah geografinya untuk melanjutkan aktivitas.
Oleh karena itu, beberapa waktu lalu menhan Malaysia memperingatkan, sisa-sisa anasir Daesh mengubah perairan Sulu di barat daya Filipina menjadi pangkalan baru mereka setelah kekalahan di Irak dan Suriah. Di kondisi seperti ini, banyak pengamat yang mengatakan bahwa upaya individu sebuah negara tanpa koalisi dengan negara lain tidak akan membuat mereka terlindungi dari ancaman Daesh. Oleh karena itu, mereka harus bekerjasama melawan radikalisme.
Sejumlah negara kawasan Asia Tenggara seperti Filipina, Malaysia dan Indonesia seraya memahami realita bahwa kerjasama melawan teroris sebuah keniscayaan, beberapa waktu lalu mereka mencapai kesepakatan bekerjasama menanggulangi radikalisme.
Juga harus diperhatikan bahwa selain hal ini, potensi kepulangan sejumlah warga Malaysia, Indonesia dan Filipina yang bergabung dengan Daesh di Irak dan Suriah selain meningkatkan kekhawatira ketiga negara ini atas eskalasi serangan teror juga berpengaruh pada tekad mereka untuk mencapai kesepakatan melawan fenomena radikalisme.
Perbatasan laut antara negara bagian Sabah Malaysia dan wilayah selatan Filipina termasuk kepulauan Mindanao menjadi kekhawatiran keamanan terbesar pemerintah Kuala Lumpur atas masuknya teroris ke wilayah Malaysia, di mana selama beberapa hari terakhir pulau Mindanao menjadi ajang bentrokan mematikan antara pasukan Filipina dan kelompok teroris.
Meski kesepaktan Malaysia, Indonesia dan Filipina untuk memrangi terorisme dilakukan di tingkat pejabat tinggi, namun hingga kini belum ada laporan mengenai pertmeuan tingkat pejabat keamanan ketiga negara tersebut untuk mempersiapkan peta jalan terkait kerjasama tersebut. (MF)