Bergabungnya Montenegro dan Provokasi NATO
Montenegro, salah satu negara yang terletak di wilayah Balkan, Eropa Selatan, Senin (5/6) secara resmi bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO.
Srdjan Darmanovic, Menteri Luar Negeri Montenegro dalam sebuah acara yang digelar hari Senin (5/6) di Kemenlu Amerika Serikat, menyerahkan dokumen keanggotaan Montenegro di NATO kepada Deputi Menlu Amerika. Dengan bergabungnya Montenegro, anggota NATO sekarang menjadi 29 negara.
Dusko Markovic, Perdana Menteri Montenegro terkait hal ini menjelaskan, keanggotaan negara ini di NATO akan membawa stabilitas permanen. Jens Stoltenberg, Sekjen NATO menegaskan bahwa keanggotaan Montenegro di NATO akan membawa manfaat bagi lembaga ini.
Sebelumnya Stoltenberg menyebut keputusan NATO menerima Montenegro sebagai anggota, dalam rangka meningkatkan kekuatan NATO dan merupakan tahap baru bagi keamanan kawasan. Menurutnya keanggotaan Montenegro membantu negara ini untuk mendapatkan jaminan stabilitas dan keamanan jangka panjang.
Meski dari sisi kemampuan militer, Montenegro tidak terlalu dianggap signifikan, namun letak geografis negara itu dan geopolitiknya yang berada di sisi Laut Adriatik dan berbatasan dengan Serbia, bagi NATO memiliki urgensitas tinggi. Selain karena pandangan setiap petinggi NATO bahwa bertambahnya anggota berarti kesuksesan dalam memperluas wilayah kehadiran dan pengaruh NATO.
Dalam kerangka ini, keanggotaan Montenegro dapat memperkuat kehadiran militer NATO di wilayah Balkan. Akan tetapi dalam pandangan Rusia, masalah ini semata-mata merupakan langkah agresif baru NATO dalam rangka memperluas pengaruhnya hingga ke Timur Eropa. Pada kenyataannya, keanggotaan Montenegro di NATO telah memperkeruh ketegangan antara NATO dan Rusia.
Moskow berulang kali memperingatkan dampak perluasan NATO dan kehadiran pasukan organisasi itu di dekat perbatasannya dan mengaku akan membalas langkah tersebut. Dalam pandangan Rusia, NATO sedang berusaha menunjukkan bahwa Eropa Timur berada dalam situasi krisis dan berupaya menciptakan ketegangan di sana. Pada saat yang sama, Rusia menegaskan, balasan yang tepat dalam masalah ini akan diberikan kepada NATO.
Seperti disampaikan para pejabat Moskow, sekalipun Montenegro yang berpenduduk sekitar 700.000 jiwa, dari sisi militer bukan termasuk ancaman, namun pada dasarnya, perluasan NATO di Eropa Timur adalah ancaman bagi keamanan Moskow. Pejabat Rusia menegaskan, pemerintah Montenegro dengan langkah ini, sebenarnya mengabaikan penolakan mayoritas rakyat negaranya atas keanggotaan di NATO. Terutama karena rakyat Montenegro masih menyimpan kenangan buruk terkait pemboman negara itu ke Serbia dalam perang NATO dengan Serbia tahun 1999.
Montenegro sebelumnya adalah bagian dari Yugoslavia dan setelah Yugoslavia bubar pada tahun 2005, bergabung dengan Serbia dalam sebuah negara persemakmuran, Uni Negara Serbia dan Montenegro. Sebelumnya pemerintah Rusia mengancam akan melakukan sejumlah tindakan untuk menghukum Montenegro karena langkahnya ini.
Realitasnya, di tengah semua pro-kontra yang ada, prioritas terpenting Montenegro yang pro-Barat ini adalah melakukan percepatan untuk berintegrasi dengan Uni Eropa dan NATO. Montenegro juga menjalin hubungan yang dekat dengan negara-negara Barat, dan dalam beberapa tahun terakhir mengajukan permohonan untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa.
Secara umum dapat dikatakan bahwa langkah terbaru NATO dengan menerima keanggotaan Montenegro, dapat semakin memperburuk hubungan Rusia dan NATO yang saat inipun sudah berada pada level serius. Sekalipun demikian NATO tetap tidak puas dengan kondisi ini dan selanjutnya siap menerima keanggotaan Bosnia-Herzegovina. (HS)