Pilihan Berat AS untuk Menghadapi Korea Utara
Ujicoba baru rudal Korea Utara, menghadapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada ujian besar.
Menyusul ujicoba sukses tersebut, untuk pertama kalinya wilayah Amerika Serikat telah berada dalam jangkauan rudal Korea Utara. Rudal yang ditembakkan pada hari Selasa (4/7/2017) oleh Korea Utara bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat itu, memiliki daya tempuh 6.000 kilometer dan mampu mebawa hulu ledak nuklir hingga ke negara bagian Alaska.
Pasca ujicoba tersebut, tahap baru perang verbal para pejabat kedua negara pun dimulai sampai pada tahap pemimpin kedua negara saling mengolok. Bersamaan dengan itu, kabinet Amerika Serikat menggelar sidang darurat. Wasington menyatakan tidak akan membiarkan aksi Pyongyang itu tanpa balasan.
Meski demikian, ternyata banyak opsi yang ada di hadapan Amerika Serikat untuk mencegah apa yang disebut sebagai ancaman nuklir Korea. Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat telah menggunakan berbagai macam program untuk mencegah Korea Utara berkembang di bidang teknologi nuklir militer dan rudal. Bahkan beberapa pekan lalu, Trump berupaya memukul mundur Pyongyang dengan meningkatkan potensi perang antardua Korea.
Akan tetapi bukan hanya tujuan itu gagal terwujud, melainkan Pyongyang justru sukses menguji coba rudal balistik antarbenua untuk pertama kalinya. Dan kini, wilayah Amerika Serikat secara resmi dalam jangkauan serangan rudal balistik nuklir Korea Utara.
Sekarang, pemerintah Amerika Serikat berada di persimpangan jalan antara harus hidup di bawah bayang-bayang kemampuan rudal Korea Utara untuk melancarkan serangan nuklir ke wilayah Amerika Serikat, atau kali ini harus benar-benar terjun dalam perang baru di Semenanjung Korea.
Pengalaman menunjukkan bahwa tekanan-tekanan seperti sanksi ekonomi atau resolusi Dewan Keamanan PBB, justru akan semakin membulatkan tekad para pemimpin Pyongyang untuk meningkatkan kemampuan nuklir dan rudal mereka.
Namun harus digarisbawahi pula bahwa solusi militer dan perang dengan Korea Utara bukan solusi yang tepat karena akan menimbulkan dampak yang sangat luar biasa buruk. Meski jika konfrontasi terjadi, Amerika Serikat lebih unggul dari sisi militer dan persenjataan dibanding Korea Utara. Akan tetapi tingkat kerentanan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan termasuk Jepang dan Korea Selatan juga sangat tinggi.
Selain itu, besar kemungkinannya bahwa segala bentuk konfrontasi militer Amerika Serikat dan Korea Utara pasti akan menyeret Cina. Peristiwa yang akan mengulang kembali momok tahun 1953 di Semenanjung Korea.
Menurut para analis, kekuatan besar dunia termasuk Amerika Serikat tidak siap untuk menggelar konfrontasi bersenjata di Semenanjung Korea. Karena hal tersebut akan menimbulkan perang berdarah yang melebihi Perang Dunia Kedua.(MZ)