Kebijakan Trump dan Terisolasinya AS di Arena Internasional
https://parstoday.ir/id/news/world-i40766-kebijakan_trump_dan_terisolasinya_as_di_arena_internasional
Ketika Donald Trump, Presiden Amerika Serikat menggambarkan Konferensi Tinggkat Tinggi G20 di Jerman sebagai KTT yang luar biasa, surat kabar The New York Times justru menganggap sebaliknya. Surat kabar itu menulis bahwa dalam KTT G20, AS terisolasi.
(last modified 2026-06-20T17:21:50+00:00 )
Jul 09, 2017 13:02 Asia/Jakarta

Ketika Donald Trump, Presiden Amerika Serikat menggambarkan Konferensi Tinggkat Tinggi G20 di Jerman sebagai KTT yang luar biasa, surat kabar The New York Times justru menganggap sebaliknya. Surat kabar itu menulis bahwa dalam KTT G20, AS terisolasi.

Menurut The New York Times, selama bertahun-tahun AS adalah kekuatan dominan dan menetapkan agenda pada pertemuan tahunan para pemimpin ekonomi terbesar di dunia. Namun pada hari Jumat, 7 Juli 2017 ketika Trump bertemu dengan pemimpin lain dalam KTT G20, ia menemukan bahwa AS terisolasi dalam segala hal mulai dari perdagangan hingga perubahan iklim

Selain itu, lanjut The New York Times, AS menghadapi perkembangan G20 untuk mengeluarkan sebuah pernyataan yang menjelaskan bagaimana AS berdiri sendiri.

Dalam KTT G20 di Hamburg, perselisihan antara AS dan 18 negara anggota G20 lainnya semakin jelas. Perselisihan ini sebagian besarnya terkait dengan kebijakan peradagangan dan lingkungan hidup.

Di bawah kepemimpinan Trump, AS mundur dari dekade kepemimpinan perdagangan bebas dunia dan menekankan penguatan ekonomi nasional dan penutupan perbatasan serta pengambilan  kebijakan ekonomi proteksionis.

Trump mengambil kebijakan proteksionis terhadap perekonomian domestik AS, di mana kebijakan ini tentunya bertentangan de­ngan prinsip perdagangan bebas dan berhubungan erat dengan istilah anti-globalisasi dan anti-imigrasi. Karena AS merupakan Negara Adidaya, maka setiap kebijakan yang diambil negara ini akan berdampak global.

Trump dengan slogan "Make America Great Again" (Jadikan Amerika Hebat Lagi) meraih kemenangan dalam pemilu presiden tahun lalu. Di hari pelantikannya, ia telah menjelaskan slogan "We Will Make America Great Again" atau "American First" dan "Buy American and Hire American."

Dalam konteks pandangan nasionalis dan kebijakan proteksionis terhadap perekonomian domestik AS yang diwakili oleh pemerintah negara ini, maka hasil dari KTT G20 di Hamburg dianggap sebagai kesuksesan besar bagi Amerika. Sebab, dari satu sisi, AS tidak memiliki komitmen apapun kepada pihak lain, dan dari sisi lain, negara itu tidak harus mempertimbangkan kembali masalah keluarnya AS dari Perjanjian Iklim Paris. Dari sisi inilah, Trump menyebut KTT G20 sebagai pertemuan yang luar biasa.

Namun apa yang akhirnya terjadi adalah poin yang disinggung oleh surat kabar The New York Times bahwa AS terisolasi di KTT G20. Selama beberapa dekade, AS merupakan pemimpin dan penguasa dunia Barat dalam mengatur struktur dan hubungan internasional di bidang politik, ekonomi dan keamanan.

Dengan kata lain, di banyak kesempatan, apa yang para pejabat AS inginkan atau menilainya sebagai maslahat, maka hal itu akan dikejar oleh mitra-mitranya di berbagai belahan dunia. Perkembangan demokrasi liberal, nilai-nilai ekspansi kapitalis, penguatan perdagangan bebas dan penyediaan pola globalisasi merupakan bagian dari rencana dan program tersebut.

Tampaknya setelah dunia terpaksa mengikuti AS selama bertahun-tahun, kini mereka mulai memisahkan diri dari jalur negara itu. Contohnya adalah ide Trump untuk kesia-siaan perjanjian internasional lingkungan hidup, di mana ide tersebut tidak memperoleh dukungan dari negara manapun di dunia, bahkan Perdana Menteri Inggris, Theresa May juga tidak mendukungnya.

Selain itu, 18 negara anggota G20 bersama dengan Uni Eropa yang mewakili 28 negara Eropa, tidak memperhatikan pandangan pemerintah AS untuk mengambil kebijakan proteksionis terhadap perekonomian domestiknya. Mereka bahkan mengancam AS untuk mengambil tindakan balasan dan mengobarkan perang perdagangan.

Michael Strain, pakar ekonomi di Lembaga Investasi Amerika, menyinggung dampak tindakan balasan mitra-mitra dagang AS terhadap pasar internal negara ini. Ia mengatakan, tindakan balasan Cina dan Eropa terhadap keputusan Trump akan sangat merugikan pera eksportir AS. Ketika Trump sedang terfokus pada masalah penciptaan lapangan pekerjaan di Amerika, tindakan balasan Cina akan menyebabkan penurunan jumlah pekerjaan di negara itu.

Meskipun perilaku dan kebijakan Trump dianggap sebagai tanda keberhasilan dalam gerakan nasionalisme Amerika, namun kebijakan ini memiliki resiko terhadap posisi unggul negara itu atas tatatan internasional. Hal inilah yang menimbulkan kekhawatiran bagi para pendukung prinsip perdagangan bebas dan globalisasi di kalangan internal AS. (RA)