Trump di Hadapan Kecaman Politik Pro-Rasismenya
https://parstoday.ir/id/news/world-i42870-trump_di_hadapan_kecaman_politik_pro_rasismenya
Meski kecaman verbal oleh Donald Trump terhadap gerakan rasisme terus berlanjut, namun Presiden AS tetap menghadapi gelombang reaksi negatif dari berbagai kalangan karena kelambanan respon Gedung Putih dalam hal ini.
(last modified 2026-06-20T17:21:50+00:00 )
Aug 16, 2017 15:20 Asia/Jakarta
  • protes anti-Trump
    protes anti-Trump

Meski kecaman verbal oleh Donald Trump terhadap gerakan rasisme terus berlanjut, namun Presiden AS tetap menghadapi gelombang reaksi negatif dari berbagai kalangan karena kelambanan respon Gedung Putih dalam hal ini.

Dalam reaksi terbaru oleh Richard Trumka, ketua serikat buruh terbesar Amerika Serikat AFL-CIO, mengundurkan diri dari dewan penasehat Gedung Putih. Secara bersamaan, Paul Ryan, Ketua Republikan DPR AS mengatakan bahwa rasisme harus dikecam secara transparan. Sementara itu, Nancy Pelosi, ketua minoritas Demokrat di DPR  mendesak Donald Trump untuk memecat penasehat strateginya, Stephen K. Bannon, karena dinilai telah mengamini langkah kubu sayap kanan radikal.

Senator Bernie Sanders, kepada Trump mengatakan, "Anda sedang membuat malu negara dan jutaan orang Amerika yang telah berperang dan mengorbankan nyawa mereka untuk menggulingkan Nazisme."

Berbagai reaksi tersebut mengemuka di saat Trump pada pernyataan keduanya pasca insiden berdarah di Charlotteville, secara tegas mengecam kelompok rasis, white supremacies, neo-nazist dan kelompok-kelompok radikal lainnya dengan menyebutkan nama-nama mereka.

Meski demikian, pernyataan Trump itu ternyata tidak mampu memadamkan api kemarahan publik atas kebungkaman Presiden AS pada jam-jam pertama insiden di Charlotteville.  Pada reaksi pertamanya, Trump mengecam tindak kekerasan dari kedua pihak. Namun apa yang membuat opini publik AS khawatir adalah keterkaitan perspektif Trump dan sejumlah penasehatnya dari kubu sayap kanan radikal.  

Kelompok tersebut secara terang-terangan mendukung Trump pada masa kampanye pilpres 2016. William Daniel Johnson, ketua American Freedom Party, salah satu partai sayap kanan radikal yang menggelar aksi konsentrasi di Charlotteville, pada tahun 2016, ditunjuk sebagai perwakilan tim sukses Trump untuk menghadiri konvensi nasional Republikan.

Atau juru bicara kubu neo-nazist Amerika Serikat pada masa itu menyatakan bahwa kemenangan Trump akan membuka jalan bagi pengokohan ideologi white supremacy. Slogan-slogan kampanye Trump pada masa itu seperti pengusiran seluruh imigran ilegal dan pembangunan tembok pemisah dengan Meksiko, telah memberikan harapan efektif bagi kubu-kubu radikal itu.

Trump memang telah berusaha menjaga jarak dengan kubu sayap kanan radikal dan rasis. Akan tetapi sebagian penasehatnya termasuk Stephen Bannon justru tertuduh mendukung kelompok-kelompok tersebut.

Eric Knowles, seorang fisiologis di Universitas New York yang meneliti tentang fanatisme dan berbagai masalah politik, dalam hal ini mengatakan, "Ketika seorang presiden berkuasa di Amerika Serikat, yang tidak mengecam kelompok nazist dan para kubu pro-white supremacy, maka langkah tersebut adalah pesan bagi masyarakat yang memiliki mental rasis. Pesan itu sangat kuat; bahwa meluapkan kekhawatiran dan afeksi ras dan etnis pada masa [pemerintahan] Anda tidak akan menjadi masalah."(MZ)