Menelisik Prospek NATO di Usia 68 Tahun
Jens Stoltenberg, Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Kamis sore (24/8), menyinggung hari ulang tahun pendirian NATO dan mengklaim tujuan NATO selama 68 tahun berdiri belum mengalami perubahan dan tetap berusaha menciptakan perdamaian dan stabilias keamanan di kawasan dan dunia, hanya saja metode yang digunakan untuk meraih tujuannya bergantung pada kondisi keamanan yang ada.
Sekjen NATO seraya menyinggung tantangan di masa depan bagi organisasi ini mengatakan, "Saat ini Rusia menjadi tantangan keamanan terbesar bagi NATO." Stoltenberg juga menilai instabilitas di sebagian kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara sebagai bagian dari tantangan NATO dan menambahkan, instabilitas keamanan ini menyebabkan jutaan orang terpaksa meninggalkan negaranya.
Pembelaan Sekjen NATO dari organisasi yang dipimpinnya tampak tidak sesuai dengan kenyataan yang dilakoninya. Sekalipun pendirian NATO pada 1949 di awal periode Perang Dingin dengan tujuan mempertahankan blok Barat dan melibatkan negara-negara Barat samudera Atlantik, tapi pasca runtuhnya Uni Soviet pada 1991 yang berujung pada berakhirnya Perang Dingin, filosofi keberadaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara dipertanyakan. Karena musuh asli NATO, yakni Uni Soviet sudah tiada. Itulah mengapa para pemimpin Barat berusaha mencari alasan lain demi melanjutkan kehidupan NATO.
Sekaitan dengan hal ini, NATO pada awalnya mengklaim dengan perluasan keanggotaan organisasi ini, khususnya bergabungnya negara-negara Komunis lalu di timur dan pusat Eropa lalu merangsek ke timur Eropa untuk menciptakan satu pakta pertahanan dengan luas geografis luar biasa. Itu berarti NATO selain Eropa Barat akan mencakup Amerika dan Kanada di barat Samudera Atlantik, hingga negara-negara Asia Tengah dan Kaukasus di Eurosia.
Tapi anehnya, NATO tidak akan pernah menerima keanggotaan Rusia. Padahal di masa kepresidenan Boris Yeltsin, Moskow telah menunjukkan optimisme terhadap Barat, namun NATO memperlakukan Rusia dengan sinis. Kondisi itu semakin diperparah dengan meluasnya krisis Ukraina, NATO menunjukkan sikap permusuhan dengan Rusia.
Ketakutan akan Rusia tidak boleh berlebih-lebihan. Karena penempatan sistem anti rudal di timur Eropa telah menimbulkan kecurigaan Rusia akan tujuan sejati NATO. Menurut Moskow, tujuan sebenarnya dari langkah NATO ini adalah melemahkan kemampuan pertahanan nuklir strategis Rusia.
Menurut Andrei Kushkin, pakar militer Rusia, "Pada dekade 1990-an, ketika kami [Rusia] dalam kondisi lemah mereka menunjukkan persahabatannya dengan kami dan menyebut kami sebagai mitra. Tapi ketika Rusia menjadi negara mandiri dan independen dalam politik luar negerinya, tiba-tiba NATO dan Amerika menyebut kami agresor."
NATO yang berada di bawah pengaruh Amerika di tahun-tahun terakhir melakukan intervensi militer di kawasan di luar geografisnya, praktis berusaha mencitrakan dirinya sebagai pakta pertahanan internasional dan berbicara tentang kewajiban internasionalnya.
Kinerja NATO pasca periode Perang Dingin tidak lagi berusaha menciptakan stabilitas keamanan, tapi lebih menuju ke arah menciptakan ketegangan dan instabilitas. Sebagaimana perilaku permusuhan NATO terhadap Rusia dan berusaha menambah anggota dari negara-negara dekat Rusia yang akhirnya memaksa Moskow untuk mereaksi perlakuan ini di level militer.