ISESCO: Hadiah Nobel Suu Kyi Harus Dicabut
-
Aung San Suu Kyi
Organisasi Pendidikan, Sains dan Budaya Islam, ISESCO, organisasi yang didirikan oleh OKI menuntut pencabutan hadiah nobel perdamaian Aung San Suu Kyi, Menteri Luar Negeri sekaligus Penasihat senior pemerintah Myanmar.
Surat kabar Pakistan Today, Rabu (6/9) melaporkan, ISESCO yang bermarkas di Maroko, Selasa (5/9) mendesak Komisi Nobel Norwegia untuk segera mencabut hadiah Nobel perdamaian dari Aung San Suu Kyi.
ISESCO mengumumkan, Aung San Suu Kyi telah kehilangan kelayakan untuk mendapatkan hadiah Nobel perdamaian, karena negaranya saat ini sedang melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap minoritas Muslim Rohingya.
Dalam pernyataan ISESCO juga disebutkan, persekusi terhadap Muslimin Rohingya di Myanmar bertentangan dengan esensi hadiah Nobel perdamaian, dan masyarakat internasional harus segera menghentikan pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar.
Komisi Nobel Norwegia menyerahkan hadiah Nobel perdamaian kepada Aung San Suu Kyi pada tahun 1999.
Pemerintah Myanmar hingga kini tidak bersedia memberikan status kewarganegaraan bagi sekitar 1,1 juta penduduk Muslim Rohingya meski mereka sudah menempati wilayah Arakan sejak ratusan tahun lalu.
Sejak hari Jumat (25/8) lalu, militer dan kelompok Budha ekstrem Myanmar melancarkan serangan baru terhadap Muslimin Rohingya di negara bagian Rakhine dan menewaskan lebih dari 400 orang. (HS)