Keengganan AS Terhadap Traktat Non-Proliferasi Nuklir
https://parstoday.ir/id/news/world-i45535-keengganan_as_terhadap_traktat_non_proliferasi_nuklir
Pemerintah Amerika Serikat kembali menyatakan tidak memiliki program untuk menandatangani traktat non-proliferasi nuklir yang didukung para peraih penghargaan Nobel.
(last modified 2026-05-06T17:35:17+00:00 )
Okt 07, 2017 15:06 Asia/Jakarta

Pemerintah Amerika Serikat kembali menyatakan tidak memiliki program untuk menandatangani traktat non-proliferasi nuklir yang didukung para peraih penghargaan Nobel.

Juru bicara Gedung Putih, pada Jumat (6/10/2017) sesaat setelah pengumuman peraih penghargaan Nobel 2017, mengatakan, tidak ada perubahan dalam sikap Amerika Serikat  terkait traktat tersebut. Washington berpendapat bahwa traktat tersebut tidak akan membuat dunia aman dan bukan hanya tidak memusnahkan senjata nuklir tapi juga tidak akan memperkokoh keamanan negara-negara.

Pada hari yang sama, Kampanye Internasional Pemusnahan Senjata Nuklir (ICAN) meraih penghargaan Nobel. Kampanye ini berperan penting dalam penandatanganan 122 negara pada bulan Juni.

Traktat tersebut lebih bersifat simbolik karena delapan negara pemilik senjata nuklir yaitu Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, Cina, India, Pakistan dan Korea Utara, ditambah dengan rezim Zionis, menolak menandatangani kesepakatan tersebut.

Berdasarkan berbagai laporan, Amerika Serikat memiliki 4.000 hulu ledak nuklir. AS mengklaim kepemilikan senjata nuklir tersebut adalah demi mencegah penggunaan senjata itu oleh negara-negara lain. Akan tetapi klaim itu tidak benar, mengingat AS merupakan satu-satunya negara pengguna senjata nuklir.

Pada era Perang Dunia Kedua, Amerika Serikat menjatuhkan bom nuklir di Hiroshima dan Nagazaki untuk memaksa pemerintah Jepang menyerah. Ratusan ribu nyawa melayang. Saat ini Amerika Serikat juga sedang mengembangkan dan memproduksi lebih banyak senjata paling mematikan dan kejam itu.

Banyak laporan yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat saat ini memiliki bom gravitasi thermonuklir B61 yang telah terupgrade dengan biaya sebesar 10 miliar dolar. Dianne Feinstein, Senator Demokrat AS berpendapat bahwa isi gudang persenjataan strategis Amerika Serikat lebih banyak dari yang diperlukan untuk menghadang serangan ke AS dan sekutunya.

Menurut para pengamat politik, Amerika Serikat tidak akan menandatangani traktat non-proliferasi nuklir dan bahkan akan melakukan berbagi ujicoba serta upaya untuk meningkatkan persenjataan strategisya. Tidak hanya itu, AS juga mendorong negara-negara memiliki senjata nuklir atau meningkatkan kemampuan mereka di bidang ini. Sedemikian rupa sehingga Presiden AS Donald Trump dalam kampanye pilpresnya mengatakan, "Jika diperlukan, kami akan menggunakan senjata nuklir."

Militer Amerika Serikat saat ini sedang memfokuskan perhatiannya untuk memproduksi bom nuklir mini yang dapat digunakan dalam perang-perang regional yang dapat menarget banyak negara serta tidak memiliki kerusakan seperti bom atom konvensional.

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, bukan hanya slogan dunia tanpa senjata nuklir yang tidak terealisasi, bahkan kekuatan-kekuatan adidaya seperti Amerika Serikat meningkatkan kemampuan senjata nuklir mereka dari sisi volume dan kualitas. Poin penting dalam hal ini adalah jika pada suatu hari senjata tersebut jatuh ke tangan kelompok teroris, maka nasib seperti apa yang menanti masyarakat dunia.(MZ)