Penjabaran Kemampuan Nuklir Korut di Konferensi IPU
Wakil Ketua Parlemen Korea Utara pada Konferensi Uni Inter-Parleme (IPU) ke-138 di Saint Petersburg, Rusia, menekankan, Korea Utara memerlukan senjata nuklir karena ancaman militer Amerika Serikat.
An Tong Chun, menjelaskan bahwa pengembangan program nuklir dan rudal Korea Utara sepenuhnya bersifat pencegahan. Seraya menegaskan bahwa Presiden AS Donald Trump selalu mengancam Pyongyang, An Tong Chun menegaskan, keamanan Korea Utara dalam bahaya dan negara ini berhak memperkokoh kekuatan pertahannya.
Pernyataan Wakil Ketua Parlemen Korea Utara terkait program rudal dan senjata nuklir negaranya ini mengindikasikan berlanjutnya dan penguatan atmosfer "perimbangan ancaman" di kawasan Semenanjung Korea.
Meski program rudal dan nuklir Korea Utara sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan rudal dan nuklir Amerika Serikat, akan tetapi Pyongyang dengan politik menebar ketakutan di kawasan, mampu mengurungkan niat Washington dan lengan militernya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk menyerang Korea Utara.
Penyebabnya adalah Korea Utara memiliki kemampuan rudal dan nuklir yang cukup memadai untuk mendaratkan pukulan pertama terhadap pangkalan militer AS di Korea Selatan, Jepang dan bahkan Guam. Oleh sebab itu munculnya segala bentuk perang di Asia Timur akan mengakibatkan kerusakan luas.
Cho Young-choi, analis masalah Korea Utara dalam hal ini mengatakan, "Uji coba rudal Korea Utara adalah langkah sah dalam membela diri sesuai dalam koridor ketentuan internasional, dan bahwa protes Amerika Serikat terhadap langkah Pyongyang itu menunjukkan pelanggaran lancang terhadap kedaulatan dan kehormatan Korea Utara."
Sejak tahun 2011, ketika mantan presiden Barack Obama memfokuskan strategi militer di Asia Timur, pengerahan pasukan militer Amerika ke berbagai wilayah di sekitar Korea Utara dan Cina meningkat tajam sehingga membuat atmosfer di kawasan bergejolak. Sebagai dampaknya, Korea Utara termotivasi untuk meningkatkan uji coba nuklir dan rudalnya. Sedemikian rupa sehingga Pyongyang bahkan mengujicoba bom hidrogen.
John Park, analis soal Semenanjung Korea berpendapat, ketika jangkauan dan lokasi pendaratan rudal-rudal Korea Utara, dapat dipahami bahwa negara ini sedang memamerkan kemampuannya di sektor rudal. Masalah yang harus diperhatikan adalah bahwa target uji coba rudal Korea Utara adalah titik di dekat pangkalan udara AS di Jepang.
Menciptakan atmosfer ketakutan di kawasan Asia oleh Amerika Serikat membuat negara-negara regional saling berlomba meningkatkan persenjataannya. Sejatinya dampak tersebut yang diacu Amerika Serikat dan sangat menguntungkan Washington. Oleh karena itu, Cina berupaya keras menghidupkan kembali perundingan segi enam untuk menyelesaikan krisis nuklir Korea Utara dan mendorong Pyongyang dan Washington untuk bersabar, guna menghindari kerentanan keamanan di Asia Timur yang pasti akan mengakibatkan dampak ekonomi buruk.(MZ)