Indikasi Goyahnya Sikap Anti JCPOA Trump
Setelah 48 jam dari pidato kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terkait menyikapi Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), petinggi Gedung Putih berusaha menekankan komitmen negara ini terhadap kesepakatan nuklir dengan Iran.
Menteri Luar Negeri Amerika, Rex Tillerson dan Nikki Haley, wakil AS di PBB di program televisi terpisah menekankan bahwa AS masih tetap terlibat perjanjian nuklir dengan Republik Islam Iran. Tillerson menyebut pidato Presiden Donald Trump yang tidak menyetujui JCPOA sebagai isu internal dan berdasarkan keputusan Kongres. "Pidato ini bukan berarti Amerika Serikat keluar dari JCPOA," ungkap Tillerson.
Haley yang memiliki sikap lebih keras terkait kesepakatan nuklir dengan Iran ketimbang anggota kabinet Amerika lainnya juga mengatakan, "Untuk saat ini Amerika masih terlibat dengan JCPOA."
Statemen ini dibanding dengan pernyataan keras, provokatif dan melecehan Trump pada hari Jumat dinilai lebih lembut. Tapi seluruh anggota pemerintah Trump selama dua hari lalu berusaha meningkatkan represi kepada pihak-pihak perunding kesepakatan nuklir, khususnya Tehran dengan menggulirkan klaim anti rudal dan aktivitas Republik Islam Iran di kawasan. Meski demikian retorika mereka jika di banding dengan pidato Donald Trump menunjukkan sikap mundur Washington dari ancamannya keluar dari JCPOA.
Reaksi luas masyarakat internasional terhadap statemen anti JCPOA Trump dan penekanan Republik Islam Iran menentang setiap perundingan baru terkait kesepakatan nuklir berpengaruh pada sikap mundur Gedung Putih dari kebijakan pertama Trump. Iran bersama seluruh pihak di perundingan nuklir kecuali AS, serempak menekankan dilanjutkannya JCPOA dan menyatakan tidak akan membiarkan Amerika secara sepihak menghancurkan kesepakatan ini.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini di statemennya secara transparan mengatakan, presiden Amerika meski memiliki banyak kekuatan di isu lain, tapi ia tidak memiliki kekuatan untuk merusak JCPOA.
Bahkan di dalam negeri AS, suara protes terhadap pidato Trump semakin tinggi. Mantan pejabat Amerika, kubu Demokrat dan sejumlah anggota Republik di Kongres memperingatkan bahwa keluarnya negara ini dari JCPOA akan mengucilkan Washington dan merusak kepentingan nasional. Media juga menyatakan bahwa sejumlah anggota pemerintah Trump termasuk menteri luar negeri, pertahanan, penasehat keamanan nasional presiden juga berada di barisan anti keluarnya AS dari JCPOA.
Oleh karena itu dan mengingat penentangan luas di dalam dan luar negeri, kini Gedung Putih berusaha memberikan jaminan kepada masyarakat dunia bahwa Washington akan tetap komitmen dengan JCPOA, setelah Trump lepas dari bayang-bayang warisan Barack Obama.
Meski jaminan ini sedikit banyak meredam kondisi tak menentu pasca pidato kontroversial Trump, tapi begitu ketidakpercayaan masyarakat internasional kepada AS dan pelanggaran janji terhadap berbagai kesepakatan mutlilateral dan internasional akan tetap untuk waktu yang alam. (MF)