Perselisihan Trump dan Tillerson Soal Aksi Bin Salman
https://parstoday.ir/id/news/world-i46714-perselisihan_trump_dan_tillerson_soal_aksi_bin_salman
Perkembangan cepat di Arab Saudi kembali memperlihatkan perselisihan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson.
(last modified 2026-06-20T17:21:50+00:00 )
Nov 11, 2017 12:57 Asia/Jakarta

Perkembangan cepat di Arab Saudi kembali memperlihatkan perselisihan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson.

Trump dalam cuitan di akun Twitter-nya, menyatakan dukungan kuatnya atas penangkapan sejumlah pangeran Arab Saudi oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Namun, Tillerson justru menyerukan penjelasan yang transparan terkait penangkapan dan tuduhan korupsi terhadap mereka.

Dalam sebuah sikap yang benar-benar berbeda dengan Trump, Departemen Luar Negeri AS juga mengungkapkan keraguan tentang klaim bahwa Iran terlibat dalam penembakan rudal dari Yaman ke Riyadh. Sebelumnya, Trump langsung menuding Iran bertanggung jawab atas insiden tersebut tanpa memberikan bukti apapun.

Setelah itu, koalisi anti-Yaman yang dipimpin Arab Saudi menyebut penembakan rudal itu sebagai agresi militer oleh Iran. Sikap ini mengundang beberapa media untuk berbicara tentang potensi pecahnya konflik militer antara Saudi dan Iran.

Deplu AS berusaha untuk menjauhkan diri dari sikap terburu-buru dan provokatif, yang diadopsi oleh Trump. Tentu saja, ini bukan pertama kalinya di mana Gedung Putih dan Deplu AS memperlihatkan perselisihan mereka ke publik.

Dalam kasus krisis politik antara Saudi dan Qatar, Trump juga langsung membenarkan tuduhan Riyadh terhadap Doha dan memperkenalkan Qatar sebagai pendukung terorisme. Padahal, Deplu AS bersama dengan Departemen Pertahanan, menolak klaim otoritas Saudi dan menyebut Qatar sebagai sekutu dekat Amerika.

Di satu sisi, terulangnya kasus-kasus seperti ini semakin memperkuat asumsi mengenai adanya perseteruan antara Trump dan Tillerson. Dari sisi lain, masalah ini mencerminkan kebingungan para pejabat Washington dalam menyikapi perkembangan global.

Trump sebagai wakil dari aliansi nasionalis Amerika, berusaha memenuhi kepentingan jangka pendek AS, terutama di wilayah Asia Barat, dengan mengabaikan kerangka baku kebijakan luar negeri AS.

Untuk alasan ini, Trump menyuarakan dukungan kuatnya terhadap tindakan agresif Mohammed bin Salman, yang ingin menghapus lawan-lawannya di dalam dan luar negeri dengan imbalan menyetujui kontrak bisnis dengan AS.

Dengan modal dukungan Trump, bin Salman pertama-tama menekan Qatar, dan kemudian mamaksa perdana menteri Lebanon untuk mengundurkan dirinya di Riyadh, dan akhirnya menangkap saudara-saudaranya dan pejabat Saudi atas tuduhan korupsi.

Tentu saja, dukungan Deplu AS terhadap perkembangan di Arab Saudi tidak sebesar seperti dukungan Trump. Selain Saudi dan Putra Mahkota, AS memiliki hubungan tradisional dengan negara-negara Arab lainnya di kawasan, dan jika kemitraan ini terganggu, tentu akan melemahkan posisi regional dan internasional Washington.

Oleh sebab itu, lembaga diplomasi dan militer AS bersikap hati-hati dalam mendukung bin Salman, tidak seperti sikap pemimpin Gedung Putih. (RM)