Keraguan Menlu AS Mencapai Deadline Gedung Putih
-
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson, menyatakan pesimisme tentang potensi perubahan dalam kesepakatan nuklir dengan Iran, sesuai dengan tenggat waktu yang ditetapkan oleh Presiden Donald Trump.
Dalam sebuah statemen di London, Senin (22/1/2018), Tillerson mengatakan, Washington kemungkinan tidak akan bisa mengatasi kekurangan kesepakatan nuklir tepat waktu dan menyesuaikan tenggat waktu yang diumumkan Gedung Putih.
"Kita tidak bisa mengatur jadwal untuk orang lain," tegasnya.
Trump mengancam tidak akan memperpanjang penangguhan sanksi Iran jika tidak ada perubahan dalam kesepakatan internasional itu dalam 120 hari ke depan.
Ancaman ini jelas bertentangan dengan kesepakatan antara Kelompok 5+1 dengan Iran. Tiga negara Eropa yang terlibat dalam negosiasi, Inggris, Jerman dan Perancis bersama dengan Uni Eropa, Rusia dan Cina, menolak perundingan ulang tentang kesepakatan nuklir. Republik Islam Iran juga dengan tegas menyatakan pihaknya tidak akan menerima negosiasi ulang maupun perubahan apapun dalam teks kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, "Kesepakatan tersebut tidak dapat dinegosiasikan ulang. Oleh karena itu, AS – sebagaimana Iran – harus memenuhi kewajibannya berdasarkan butir-butir kesepakatan, daripada mengulangi retorika usang."
"Kebijakan Trump dan pernyataannya (pada 12 Januari lalu) adalah upaya ambisius untuk merongrong sebuah kesepakatan multilateral yang solid, di mana disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Badan Energi Atom Internasional," tegasnya.

Namun, Tillerson selama kunjungan ke Eropa akan berusaha mencari solusi atas kebuntuan yang disebabkan oleh ancaman Trump.
Di satu sisi, AS dengan sendirinya dianggap keluar dari kesepakatan nuklir ketika menolak memperpanjang penangguhan sanksi Iran; sesuatu yang tampaknya tidak dapat diterima oleh tim penasihat keamanan-politik Trump, termasuk Tillerson sendiri.
Di sisi lain, menurut para pejabat Washington, sekarang wibawa Presiden Amerika dipertaruhkan dan jika penangguhan sanksi Iran kembali diperpanjang setelah jatuh tempo, maka ini akan menjadi sebuah kekalahan bagi Trump dan AS.
Untuk alasan ini, AS berharap setidaknya Eropa akan membantu Trump untuk keluar dari kebuntuan ini dengan mengadopsi sikap yang keras untuk melawan "bahaya program rudal dan petualangan regional Iran." Beberapa negara Eropa juga sudah menunjukkan minatnya untuk mengangkat isu-isu lain di keluar kesepakatan nuklir.
Namun, dengan melihat sikap tegas Eropa untuk mempertahankan kesepakatan nuklir, maka tampaknya tidak mungkin akan ada perubahan pada kesepakatan tersebut. Pernyataan Tillerson bahwa akan sulit untuk mengejar deadline yang diminta oleh Trump, adalah indikasi dari keputusasaan lembaga diplomasi AS dalam hal ini.
Jadi, ancaman Trump terhadap masyarakat internasional sepertinya tidak akan membawa hasil yang baik bagi pemerintah AS. (RM)