Eropa, Koloni AS atau Pemain Independen dalam JCPOA ?
-
kesepakatan nuklir Iran
Amerika Serikat dan Eropa baru-baru ini berbicara soal revisi kesepakatan nuklir Iran atau JCPOA. Hal itu dilakukan setelah Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis Israel menyerang Iran dan menegaskan bahwa JCPOA harus direvisi atau dicabut.
Penegasan Amerika atas revisi kesepakatan nuklir dan statemen dukungan Eropa atas Washington muncul padahal Iran berulangkali mengumumkan penolakannya untuk merevisi atau menggelar perundingan ulang terkait kesepakatan nuklir.
Eropa berupaya menunjukkan kepada dunia seolah-olah mendukung kesepakatan nuklir Iran, namun dalam beberapa hari terakhir, beberapa media Eropa mempublikasikan berita yang menguak langkah di balik layar Eropa untuk menggelar perundingan baru terkait kesepakatan nuklir Iran.
Pertama, Perancis sebagai salah satu negara anggota Kelompok 5+1 berkomentar soal perundingan rudal Iran. Pernyataan itu kemudian direaksi Iran. Tidak berapa lama, surat kabar Jerman, Der Spiegel menulis, Jerman sebagai salah satu anggota Kelompok 5+1 juga sedang berusaha menyusun sanksi baru yang memuaskan hati Trump sekaligus menjaga JCPOA.
Sejumlah laporan juga mengatakan, sekarang Inggris, negara ketiga penandatangan kesepakatan nuklir Iran, bergabung dengan rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terkait JCPOA dengan membentuk sebuah tim kerja untuk merevisi isi kesepakatan nuklir Iran.
Tim kerja ini menuntut penambahan pasal addendum dalam isi kesepakatan nuklir Iran yang memaksakan sejumlah pembatasan atas bidang-bidang non-nuklir kepada Tehran.
Upaya ini dilakukan untuk menekan Iran dan mencegah negara ini agar tidak bisa meraih tujuan penandatanganan kesepakatan nuklir yang sudah berlangsung sejak dua tahun lalu. Oleh karena itu, Iran sama sekali tidak tertarik, jika hanya untuk menjaga kesepakatan yang malah merugikan dirinya sendiri, ia harus melakukan kerja ekstra dan perundingan ulang.
Iran selama ini menganggap kesepakatan nuklir sebagai sebuah kesepakatan internasional dan perjanjian multilateral. Maka dari itu, Tehran menilai desakan untuk menggelar perundingan ulang adalah pelanggaran yang dapat berujung dengan hilangnya kredibilitas negara-negara penandatangan kesepakatan nuklir Iran.
Iran mengetahui dengan baik, jika Eropa bergabung dengan Amerika dalam isu nuklir dan mengesahkan sanksi-sanksi atas nama program rudal Iran atau masalah-masalah regional, tetap saja mereka tidak akan mampu mendorong dikeluarkannya resolusi anti-Iran di Dewan Keamanan PBB dan mengembalikan sanksi-sanksi lama, pasalnya kemungkinan besar, Rusia dan Cina sebagai dua anggota Kelompok 5+1 tidak akan mau ikut melanggar kesepakatan nuklir Iran sebagaimana dilakukan Barat.
Dalam kondisi seperti ini, Iran tidak punya alasan untuk menyerah pada keinginan Eropa dan Amerika. Dari satu sisi, Iran menyadari bahwa sekalipun JCPOA direvisi, tetap tidak ada jaminan pasca revisi, Barat tidak akan melanggar perjanjian yang baru. Di sisi lain, pelaksanaan kesepakatan nuklir dalam kondisi ideal pun tidak menguntungkan Iran, karenanya kesepakatan yang direvisi kelak, tidak lain adalah pembatasan-pembatasan yang lebih besar bagi Iran.
Dengan demikian, lebih baik jika Eropa dan Amerika dengan memperhatikan kenyataan, lebih realistis dalam menuntut Iran dan menghindari tuntutan-tuntutan yang kemungkinan besar ditolak Tehran. Tuntutan-tuntutan yang hanya merupakan bukti pelanggaran komitmen Eropa dan Amerika dan ketidakpedulian atas kesepakatan yang sudah ditandatangani Barat, tidak lagi berguna dan pesannya kepada dunia adalah, Eropa memang koloni dan jajahan Amerika.
Sebaliknya jika Eropa tidak menekan Iran untuk merevisi JCPOA, tapi menekan Donald Trump karena terus melanggar komitmennya atas kesepakatan internasional, maka selain melindungi independensi dan pengaruhnya globalnya, Eropa juga membuktikan bisa memainkan peran kunci dalam transformasi global sebagai pemain yang independen. (HS)