Cina: Taiwan Bagian Tak Terpisahkan!
-
Wu Qian, Jurubicara Kementerian Pertahanan Cina
Kementerian Pertahanan Cina menyatakan, kami tidak akan mengizinkan Taiwan terpisahkan dari tanah air ibunya.
Wu Qian, Jurubicara Kementerian Pertahanan Cina mengatakan, Cina cenderung menunjukkan keinginan baiknya dalam tingkat tertinggi bagi terwujudnya persatuan dengan Taiwan secara damai dan pada saat yang sama tidak akan mengizinkan perpisahan Taiwan dari Cina. Hal ini disampaikan Wu Qian setelah Tsai Ing-wen, Presiden Taiwan menyatakan ia tidak menutup kemungkinan akan adanya serangan Cina ke Taiwan.
Cina tetap menilai Taiwan yang terpisah pada 1949 pasca berakhirnya perang saudara di negara ini sebagai bagian dari tanah airnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan aksi militer terhadap daerah ini bila menyatakan kemerdekaannya.
Biasanya, pemerintah Cina ketika menghadapi segala bentuk sikap para pejabat Taiwan atau orientasi dalam hubungan luar negeri mereka yang merusak prinsip Cina bersatu yang berdasarkan satu sistem dengan dua pemerintahan, mereaksi keras dan mengajak negara-negara lain untuk menghormati prinsip ini dalam kerangka hubungan dengan Taipei.
Menurut Beijing, pengambilan sikap yang bertentangan dengan prinsip Cina bersatu dari para pesaing negara ini terkait masalah Taiwan, khususnya Amerika menyebabkan di dalam Taiwan sendiri ada kelompok-kelompok anti Cina yang semakin menegaskan pemisahan dari Cina. Terlebih sejak tahun 2016 dengan kemenangan partai Progresif Demokratik dalam pemilu legislatif Taiwan dan berkuasanya Tsai Ing-wen yang menyebabkan upaya pemisahan diri dari Cina semakin menguat.
Percakapan telepon Donald Trump, Presiden Amerika dengan Tsai Ing-wen, Presiden Cina pada Desember 2017 menyebabkan pemerintah Taiwan merasa mendapat dukungan Gedung Putih di periode pemerintahan Trump. Percakapan telepon ini yang membuat Cina mereaksi keras langkah Amerika menyebabkan Beijing memeringatkan Trump soal pelanggaran prinsip Cina bersatu dalam menjalin hubungan dengan Taiwan.
Ada prediksi bahwa Amerika akan menggunakan masalah Taiwan sebagai alat penekan Cina guna memaksa Korea Utara menghentikan program rudal dan nuklirnya. Benar bahwa mendapatkan konsesi dari Cina, khususnya dalam hubungan dagang dan ekonomi lewat Taiwan sebagai alat penekan termasuk dalam agenda Gedung Putih. Sebaliknya, Cina juga memanfaatkan masalah Korea Utara untuk memaksa Amerika tidak lagi memprovokasi Taiwan dan merusak prinsip Cina bersatu.
Amerika tahu betul betapa tanpa menekan Cina soal Korea Utara dan kerjasama serius Bijing untuk mengembargo negara ini, tidak ada jalan lain untuk menghentikan program rudal dan nuklir Pyong Yang. Makanya boleh jadi dengan alasan inilah, Trump setelah berbincang-bincang dengan Tsai Ing-wen, Presiden Taiwan lewat telepon lebih berhati-hati dalam masalah Taiwan.
Nikita Danuk, Wakil Ketua Institut Riset Strategis dan Universitas Persahabatan Internasional mengatakan, Trump tidak menginginkan rusaknya prinsip interaksi antara Amerika dan Cina.
Pemerintah Taiwan yang berusaha memisahkan diri dari Cina dalam kerangka demokrasi dan referendum sangat berharap pendekatan ini didukung Barat, sehingga Beijing terpaksa mengakuinya. Sementara pemerintah Cina mengajak para pejabat Taiwan untuk belajar dari kegagalan referendum di Catalonia, Spanyol dan segala bentuk upaya di Taiwan hanya mengulangi nasib pahit referendum Catalonia.