Kunjungan Menlu AS ke Mesir
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson dilaporkan tiba di Kairo, Mesir dalam rangka kunjungan periodiknya ke sejumlah negara kawasan. Lobi dengan petinggi Mesir terkait kemitraan Amerika-Mesir dan bagaimana memperkuat kemitraan ini serta mengkoordinasi sikap mengenai isu-isu penting regional tseperti isu Palestina dan al-Quds termasuk agenda kunjungan Tillerson tersebut.
Kunjungan Tillerson ke Kairo digelar ketika Mesir tengah menghadapi banyak kendala dalam dan luar negeri. Isu penyelenggaraan pemilu di Mesir dan tensinya, berlanjutnya krisis ekonomi, kemiskinan dan pengangguran, terorisme dan upaya memeranginya termasuk kendala terpenting saat ini di Mesir. Terkait pemilu, saat ini pemerintah Kairo menghadapi hujan kritik mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) dan kebebasan politik.
Meski Mesir, mengingat posisi geopolitik penting di kawasan, memiliki nilai unggul di strategi Timur Tengah Gedung Putih, namun Kairo dan Washington memiliki banyak friksi di berbagai bidang.
Sikap intervensif Washington mengenai pemilu Mesir termasuk masalah yang memicu reaksi petinggi Kairo. Beberapa waktu lalu Departemen Luar Negeri Mesir di statemennya menolak kritikan Senator John McCain terhadap pejabat Mesir soal pelanggaran HAM dan penangkapan kandidat pilpres di negara ini. Deplu Mesir menilainya sebagai omong kosong, kekeliruan dan klaim palsu.
Isu Quds dan langkah Presiden Amerika Donald Trump mengakui secara resmi Baitul Maqdis sebagai ibukota Israel serta instruksi relokasi kedubes AS dari Tel Aviv ke al-Quds termasuk isu lain yang disengketakan Mesir dan Amerika. Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi terkait hal ini mengatakan, sengketa Palestina dan Israel hanya dapat diselesaikan melalui perundingan kedua pihak dan Amerika dalam hal ini juga harus memainkan peran.
Meski ada friksi tersebut, dalam pandangan Amerika, Mesir mengingat posisinya yang serta lokasinya yang bertetangga dengan Libya, Kairo mampu memainkan peran serius dalam menerapkan keamanan dan stabilitas di negara-negara kawasan ini seperti perang melawan kelompok teroris. sejatinya Amerika melalui peningkatan bantuan militer kepada Mesir ingin meningkatkan aksi-aksi intervensifnya di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, pejabat Washington memahami jika mereka memilih kebijakan menjauh dari Mesir, maka Amerika akan kehilangan sekutu tradisionalnya di dunia Arab dan ada potensi Mesir akan mendekat kepada Rusia. Mengingat kekuatan aktivitas Moskow di transformasi Suriah, hal ini sama halnya dengan terciptanya pembatasan lebih besar di kebijakan Timur Tengah Washington.
Stephen Beecroft, dubes Amerika di Kairo mengatakan, eskalasi volume perdagangan Mesir dan Amerika akan memperkuat kerja sama bilateral, karena Kairo sekutu strategis bagi Washington.
Meski kunjungan Tillerson disebut-sebut sebagai upaya menyelesaikan isu dan friksi yang ada di antara kedua negara, namun sepertinya friksi ini tidak mudah untuk diselesaikan. (MF)