Keinginan NATO Tambah Pasukannya di Afghanistan
-
Sekjen NATO Jens Stoltenberg
Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg menekankan penambahan jumlah pasukan organisasi ini di Afghanistan.
Jens Stoltenberg mengklaim penambahan jumlah personel pasukan NATO di Afghanistan sebuah kebutuhan. Ia juga menyatakan, peningkatan kehadiran pasukan NATO di Afghanistan menunjukkan komitmen organisasi ini terhadap keamanan Kabul.
Saat ini lebih dari 15 ribu pasukan Amerika ditempatkan di Afghanistan dan di samping tiga ribu militer dari berbagai negara lain anggota NATO. Penempatan militer Amerika sejak tahun 2001 di Afghanistan dengan dalih memerangi terorisme bersama negara anggota NATO lainnya sampai saat ini tidak menunjukkan prestasi apapun, kecuali pembantaian ribuan warga sipil dan hancurnya infrastruktur Afghanistan serta instabilitas di negara ini semakin meningkat.
Pidato sekjen NATO terkait pentingnya penambahan militer organisasi ini di Afghanistan digulirkan di saat beberapa tahun terakhir, sikap petinggi Amerika dan NATO tersebut menuai penentangan serius di Afghanistan.
Pengalaman gagal penempatan lebih dari 15 tahun pasukan asing di Afghanistan mendorong masyarakat negara ini baik para pejabat, partai dan warga sipil tidak memiliki perspektif positif terkait penambahan pasukan AS dan NATO di negara mereka. Ada juga pandangan bahwa penambahan pasukan asing di Afghanistan dari sisi mental malah memprovokasi milisi Taliban dan eskalasi kekerasan di negara ini.
Ahmad Saedi, pakar politik di Afghanistan mengatakan, penambahan pasukan asing sama halnya dengan berlanjutnya perang dan pertumpahan darah di negara ini serta tidak memberi bantuan apapun terhadap penerapan perdamaian.
Isu penambahan pasukan diagendakan AS dan NATO setelah mereka memutuskan untuk menarik secara bertahap pasukannya dari Afghanistan. Sementara itu, pemerintah Kabul dan rakyat Afghanistan hanya membutuhkan bantuan pelatihan dan konsultasi militer dari Barat bagi angkatan bersenjata negara ini.
Penambahan jumlah pasukan asing di tahun-tahun akhir periode Presiden AS Barack Obama serta di awal periode Presiden Amerika saat ini Donald Trump sekedar opsi gagal Gedung Putih untuk keluar dari kekalahan militer di perang Afghanistan. Berdasarkan pengalaman politik, Amerika dan NATO tidak akan keluar dari kebuntuan eskalasi kekerasan dan instabilitas di Afghanistan.
Selama tahun-tahun pertama pendudukan Afghanistan oleh Amerika, jumlah pasukan asing yang ditempatkan di negara ini mencapai lebih dari 150 ribu personel. Saat itu, baik AS maupun NATO tidak mampu mengambil langkah signifikan dalam memerangi terorisme dan kekerasan di Afghanistan.
Oleh karena itu, selain penentangan di dalam negeri Afghanistan terhadap penambahan jumlah pasukan asing, bahkan pusat riset Barat pun mengkritik keras pengulangan kebijakan gagal AS dan NATO terkait pengiriman militer baru ke Afghanistan.
Di kondisi seperti ini, tuntutan utama pemerintah dan rakyat Afghanistan kepada Amerika dan NATO, sesuai dengan janji mereka, memberi pelatihan kepada polisi dan militer Afghanistan untuk memerangi ancaman teroris.
Atta Mohammad Nur, ketua eksekutif Partai Gerakan Islam Afghanistan mengatakan, masyarakat dunia menunjukkan sikap tidak peduli terkait mempersenjatai pasukan keamanan Afghanistan khususnya memperkuat sektor udara militer negara ini sehingga pasukan Afghanistan tetap lemah dan bergantung pada asing.
Sepertinya Amerika dan NATO untuk keluar dari kebuntuan dan krisis keamanan di Afghanistan selaih harus menyerahkan secara penuh manajemen keamanan kepada pemerintah Kabul sebagai ganti dari kebijakan penambahan pasukan dan menepati janjinya untuk memperkuat sendi-sendi pertahanan Afghanistan. (MF)