Peringatan Keberadaan Puluhan Ribu Teroris di Afghanistan
Penasehat Keamanan Nasional Presiden Afghanistan, memperingatkan ancaman kelompok teroris di Afghanistan, dan mengkonfrimasikan bahwa jumlah teroris lokal dan asing di negara ini telah mencapai 55.000 orang.
Menurut Muhammad Hanif Atmar, sebagian besar sumber dana teroris di Afghanistan berasal dari perdagangan narkoba. Pernyataan pejabat tinggi keamanan Afghanistan ini patut dicermati bersamaan dengan kunjungan delegasi tingkat tinggi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ke Afghanistan.
Karena berlanjutnya kehadiran dan penguatan kelompok teroris di Afghanistan sebelum tertuju pada pemerintah Kabul, justru mengarah pada Amerika Serikat dan NATO, yang selama lebih dari 15 tahun mempertahankan kehadiran militer mereka di Afghanistan, namun bukan hanya gagal memberantas terorisme dan ekstremisme di negeri ini, bahkan dengan politik manajemen krisis telah meningkatkan dan memperkokoh kelompok teroris di Afghanistan. Sedemikian rupa sehingga sekarang kelompok teroris Daesh juga muncul di Afghanistan.
Amerika Serikat menarik sebagian besar pasukannya dari Afghanistan pada tahun 2014, namun tidak meninggalkan perlengkapannya kepada militer Afghanistan. Selain itu, Amerika Serikat dan NATO tidak mengupayakan rekonstruksi dan penguatan militer dan Angkatan Udara Afghanistan, bahkan militer Afghanistan masih belum memiliki peralatan dan senjata modern, atau perlengkapan dan kekuatan udara.
Amerika Serikat, dengan dalih melawan terorisme di Afghanistan pada tahun 2001, menginvasi dan menduduki negara tersebut, bukan hanya tidak mengambil langkah apapun memberantas sumber keuangan kelompok esktrem dan teroris, yaitu produksi narkotika, namun berdasarkan sejumlah laporan, pangkalan militer AS di Afghanistan bahkan bekerjasama dalam relokasi narkotika.
Ron Paul seorang Senator Republikan AS mengatakan, "Kekalahan Amerika Serikat dalam perang Afghanistan sudah pasti, dan pasukan asing di bawah komando AS harus menarik diri dari negara tersebut untuk menghentikan pembunuhan warga sipil dan pasukan militer Afghanistan. Perang Afghanistan telah menjadi perang terpanjang dalam sejarah Amerika, dan Trump harus menarik mundur militer AS keluar dari Afghanistan. Karena tidak ada hasilnya untuk Washington dan Afghanistan."
Hingga 2014, Amerika Serikat dan NATO telah mengerahkan lebih dari 150.000 pasukan ke Afghanistan yang tidak melakukan tindakan serius melawan terorisme. Jumlah pasukan AS di Afghanistan telah berkurang sejak penarikan mundur sebagian besarnya di era pemerintahan Barack Obama. Namun pemerintahan Trump berikeras akan menambah jumlah militer di Afghanistan hingga 15.000 personil dengan alasan pemberantasan terorisme.
Pertanyaannya adalah bagaimana Washington ingin mewujudkan keamanan di Afghanistan dengan hanya sekitar 15.000 personil militernya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Amerika Serikat hanya ingin memperkuat dan melengkapi pangkalan militernya di berbagai wilayah di Afghanistan, dan mengacu tujuan militer baru melampaui Afghanistan melalui pangkalan-pangkalan tersebut, yaitu mengancam keamanan kawasan.
Menurut analis politik, tujuan kelompok teroris yang didukung AS di Afghanistan adalah menciptakan masalah bagi negara-negara tetangga, termasuk Cina dan negara-negara Asia Tengah.
Peningkatan pasukan AS di Afghanistan sebagai negara pendudukan adalah pengulangan pengalaman gagal di Afghanistan selama 100 tahun terakhir oleh militer Inggris dan Uni Soviet, di mana rakyat Afghanistan menunjukkan bahwa mereka tidak menerima aksi penjajahan. Beberapa waktu terakhir, Ismail Khan, veteran pemimpin jihad Afghanistan, memperingatkan bahwa Amerika Serikat harus menyadari nasib para penjajah di Afghanistan.(MZ)