Narkotika dan Terorisme Pasca Invasi AS di Afghanistan
-
Tentara AS di ladang opium Afghanistan
Kehadiran AS selama ini di Afghanistan menyulut eskalasi instabilitas dan menjamurnya kelompok teroris di negara ini. Selain itu, bercokolnya pasukan AS di Afghanistan juga meningkatkan produksi narkotika yang menyebar ke berbagai negara, bahkan antarbenua.
Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Iran, Hossein Naqavi Hosseini hari Kamis (22/3) menyatakan bahwa keberadaan pasukan Amerika Serikat di Afghanistan yang mengklaim sebagai pengusung perdamaian, pada faktanya justru mendorong peningkatan jumlah kelompok teroris serta mendongkrak volume produksi narkotika di negara itu.
Dalam wawancaranya dengan kantor berita parlemen Iran, Hosseini menyebut ladang opium Afghanistan telah berubah menjadi "sumur minyak kedua" bagi Amerika Serikat.
Tampaknya, Washington saat ini sedang menyiapkan tanah baru bagi kelompok teroris Daesh setelah kalah dalam perang di Irak dan Suriah. Tujuannya untuk mengobarkan instabilitas baru di kawasan. Apalagi Afghanistan adalah negara yang memiliki perbatasan darat dengan Iran sebagai negara target Gedung Putih.
AS dan sekutunya melancarkan invasi militer ke Afghanistan pasca peristiwa 11 September 2001 dengan dalih menumpas terorisme dan memberantas penyebaran narkotika. Pada awalnya, tujuan utama agresi militer AS adalah masalah pemberantasan narkotika.Tapi kemudian fakta membuktikan sebaliknya. AS bersama Inggris ikut campur dalam produksi narkotika dengan mengintervensi masalah penanaman opium yang dilakukan secara terbuka.
Nilai ekspor heroin yang dipasok para sindikat penyelundup narkotika Afghanistan ke perbatasan negara ini senilai 3.800 dolar perkilogram. Tapi di negara-negara Eropa dijual dengan harga 70 dolar pergram, itu pun dengan kadar kemurnian heroin yang menurun hingga 30 persen.
Koran Inggris The Independent dalam laporannya menulis, "Pendapatan dari perdagangan narkotika Afghanistan sangat penting bagi negara lain yang memiliki hubungan dengan sindikat narkotika,".
Berdasarkan data statistik PBB, produksi opium di Afghanistan pada tahun 2008 sebesar 200 ton. Tapi kini meningkat beberapa kali lipat mencapai 9.000 ton.
Pejabat PBB urusan penanggulangan narkotika, Marei-Anne mengungkapkan bahwa produksi narkotika di Afghanistan di tahun 2017 naik 78 persen. Peningkatan penanaman opium di Afghanistan tidak hanya mengancam negara produsennya saja, tapi juga menjadi bahaya besar bagi dunia.
Selama ini Iran menjadi negara transit utama jalur perdagangan narkotika dunia dari Afghanistan. Iran juga menjadi korban utama dari jalur transit tersebut. Perang menumpas sindikat narkotika di Iran telah mengorbankan 3.800 nyawa petugas keamanan negara ini, dan melukai bahkan hingga cacat sebanyak 12.000 orang.
Ketua parlemen Republik Islam Iran, Ali Larijani dalam pidato di konferensi antarparlemen dunia yang berlangsung di Moskow pada 5 Desember 2017 menjelaskan bahwa di Afghanistan terdapat 400 laboratorium produksi heroin. Larijani mengajukan sebuah pertanyaan, apakah NATO tidak bisa membombardir laboratorium narkotika itu ? Tapi ironisnya, NATO justru melancarkan serangan menyasar sebuah pesta pernikahan, dan tidak mengetahui keberadaan laboratorium heroin dengan jumlah begitu banyak.(PH)