Eskalasi Friksi AS dan Eropa soal JCPOA
https://parstoday.ir/id/news/world-i57420-eskalasi_friksi_as_dan_eropa_soal_jcpoa
Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas usai bertemu dengan John Bolton, Penasehat Keamanan AS dan Mike Pompeo, Menlu Amerika Serikat di Washington mengungkapkan bahwa Eropa dan Amerika sangat jauh dari rekonsiliasi terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan pada dasarnya Eropa dan AS berada di dua jalur yang sepenuhnya berbeda.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
May 24, 2018 13:59 Asia/Jakarta
  • Friksi UE dan AS soal JCPOA
    Friksi UE dan AS soal JCPOA

Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas usai bertemu dengan John Bolton, Penasehat Keamanan AS dan Mike Pompeo, Menlu Amerika Serikat di Washington mengungkapkan bahwa Eropa dan Amerika sangat jauh dari rekonsiliasi terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan pada dasarnya Eropa dan AS berada di dua jalur yang sepenuhnya berbeda.

Menurut Maas, menlu dan penasehat keamanan nasional AS mengulang sikap mereka terkait kesepakatan nuklir dengan Iran dan tidak ada hal baru yang mereka paparkan.

 

Lobi Jerman sebagai negara terpenting Uni Eropa dengan Amerika terkait JCPOA menunjukkan perhatian besar Eropa terhadap kesepakatan nuklir. Meski ada penolakan Presiden AS Donald Trump kepada Eropa untuk tetap berada di JCPOA serta pengumuman strategi baru AS terhadap Iran oleh Mike Pompeo, kunjungan Heiko Maas ke Amerika mengindikasikan bahwa tetap berada di kesepakatan nuklir merupakan hal terpenting bagi Eropa termasuk Jerman.

 

Tampaknya, kunjungan ini tidak membuahkan hasil. Saat ini Eropa dan AS memiliki banyak pandangan berbeda di bidang perdagangan, kesepakatan iklim, mekanisme partisipasi di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan anggaran pertahanan Eropa. AS dan Jerman khususnya memiliki friksi terkait sanksi sepihak Washington terhadap Moskow.

Menlu Jerman Hieko Maas

 

Namun demikian saat ini JCPOA menjadi pusat friksi transatlantik. Alasannya adalah JCPOA dari berbagai dimensi sangat penting bagi Eropa. Mengingat sensitifitas isu kesepakatan nuklir bagi Eropa, kini bola berada di lapangan Eropa. Apakah Eropa siap melakukan perlawanan sengit terhadap ketidakpedulian Trump atas kepentingan pihak Eropa dan keluar dari JCPOA karena kepentingan serta kebijakannya, atau tidak menunjukkan respon tepat serta mengekor pada tuntutan Washington menjatuhkan saksi kepada Iran. Jika ini pilihan Eropa, maka mereka bukan saja kehilangan independensinya, bahkan juga kepentingan ekonomi dan perdagangannya ketika mereka memilih bungkam dan menunjukkan sikap pasif atas tuntutan Amerika anti Iran.

 

Selain itu, pembatalan JCPOA juga akan menimbulkan dampak keamanan luas di tingkat regional dan internasional serta Eropa dalam hal ini berpotensi menanggung harganya.

 

Menurut Frederic Otran, pengamat isu-isu Amerika mengatakan, untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran sangat rumit dan membutuhkan waktu yang panjang. Dan mengingat tidak adanya stabilitas di Timur Tengah, sangat tidak menguntungkan bahwa setiap penandatangan kesepakatan ini baik itu Rusia, Cina, Eropa dan bahkan Amerika untuk terus memperlemah stabilitas di kawasan.

 

Jika JCPOA dibatalkan bukan saja posisi Eropa di tingkat internasional akan rusak, bahkan kredebilitasnya sebagai motor penggerak perundingan kesepakatan nuklir dan pengawasnya akan dipertanyakan. Sejatinya kesepakatan nuklir dengan Iran merupakan prestasi terbesar yang diraih Uni Eropa di tingkat internasional.

 

Menurut Federica Mogherini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, tidak ada satu negara manapun yang berhak membatalkan JCPOA secara sepihak, karena ini bukan kesepakatan bilateral, tapi sebuah warisan dunia.

 

Friksi yang saat ini terjadi antara Eropa dan Amerika terkait JCPOA belum pernah terjadi sebelumnya. Brussels seraya mereaksi negatif atas keputusan Trump keluar dari JCPOA menekankan bahwa kesepakatan nuklir dengan Iran penting untuk menjaga keberlangsungan keamanan Eropa, kawasan dan seluruh dunia. Oleh karena itu Eropa bertindak demi kepentingan keamanannya.

 

Kini JCPOA sebuah titik balik dan bersejarah bagi Eropa untuk memisahkan diri dari kebijakan haus perang Trump dengan mempertimbangkan kepentingan dirinya serta keamanan dan stabilitas internasional. Namun demikian bukti saat ini menunjukkan kedalaman friksi antara Eropa dan Amerika Serikat terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif. (MF)