Klaim AS Soal Kebebasan Beragama di Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i57800-klaim_as_soal_kebebasan_beragama_di_iran
Departemen Luar Negeri AS dalam laporan tahunan tentang kebebasan beragama yang dirilis hari Selasa (29/5/2018), kembali menuduh Republik Islam Iran melanggar kebebasan beragama.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
May 30, 2018 18:22 Asia/Jakarta
  • Iran menyebut laporan kebebasan beragama yang dirilis AS sebagai tidak realistis dan bertujuan politik.
    Iran menyebut laporan kebebasan beragama yang dirilis AS sebagai tidak realistis dan bertujuan politik.

Departemen Luar Negeri AS dalam laporan tahunan tentang kebebasan beragama yang dirilis hari Selasa (29/5/2018), kembali menuduh Republik Islam Iran melanggar kebebasan beragama.

Selama ini laporan tahunan tentang kebebasan beragama yang diterbitkan oleh AS, merupakan kelanjutan dari kebijakan Iranphobia yang mengejar tujuan politik dan bias.

Laporan ini kembali menggambarkan citra yang terdistorsi dan bias mengenai kondisi kebebasan beragama di Republik Islam Iran, yang disertai dengan tudingan tak berdasar.

Laporan tentang kebebasan beragama dikeluarkan setiap tahun di bawah Undang-Undang Kebebasan Beragama Internasional, yang disahkan oleh Kongres AS pada tahun 1998. Nama Iran telah berada dalam daftar negara-negara yang perlu mendapat “perhatian khusus” sejak tahun 1999.

Amerika menganggap penentangan terhadap rezim Zionis di Iran dan slogan-slogan anti-Zionis sebagai sentimen anti-Yahudi.

Memberikan citra negatif tentang tujuan, esensi, dan visi Revolusi Islam Iran merupakan bagian dari propaganda Washington terhadap Tehran. Film-film Hollywood juga memainkan peran penting dalam propaganda ini.

Tragedi pembantaian pengikut Davidian di Waco.

Di antara film yang digarap dengan tujuan itu adalah Persepolis (2007), Escape from Iran (2005), The Stoning of Soraya (2008), dan Not Without My Daughter (1991).  

Propaganda ini juga dilakukan dengan cara menerbitkan laporan terkait kebebasan beragama di Iran, yang dipenuhi dengan klaim-klaim tak berdasar dan politis.

Tuduhan ini dilontarkan ketika AS sendiri memiliki sejarah kelam dalam masalah kebebasan beragama. Salah satu peristiwa paling kontroversial dalam sejarah AS adalah pembantaian para pengikut Davidian, salah satu cabang agama Kristen di Waco, Texas pada tahun 1993. Lebih dari 80 orang dibakar hidup-hidup setelah 50 hari dikepung. Di antara para korban terdapat 20 orang anak-anak dan dua wanita hamil.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam khutbah Jumat di Tehran pada tahun 2009 mengatakan, "Kekhawatiran para pejabat AS tentang pelanggaran hak asasi manusia di Iran adalah penghinaan. Mereka telah melakukan kejahatan di Irak dan Afghanistan. Mereka memberikan dukungan politik dan finansial kepada rezim Zionis yang kejam. Bagaimana mungkin orang-orang ini mengklaim mendukung hak asasi manusia? Pemerintahan Clinton telah membakar lebih dari 80 pengikut Davidian termasuk wanita dan anak-anak hingga mati. Apakah Anda benar-benar memahami arti HAM?"

Para "pahlawan HAM" di Barat bahkan tidak mau mempelajari Konstitusi Republik Islam Iran, yang menekankan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan agama Ilahi.

AS dengan rapor buruk di bidang HAM, tidak memiliki kompetensi untuk mengomentari hak asasi manusia dan mengeluarkan rekomendasi kepada pihak lain. (RM)