Blunder Trump dan Tingkat Kepercayaan Eropa
-
Presiden AS, Donald Trump
Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas mereaksi strategi America First yang diusung Donald Trump dengan menyatakan bahwa tingkat kepercayaan Eropa terhadap AS yang telah terjalin lama sedang terpuruk akibat krisis baru. Upaya pihak Eropa dan AS untuk membangun saling percaya yang telah terbangun sekian lama terancam akibat ulah Trump. Menlu Jerman menegaskan akan membalas strategi Trump dengan "Eropa Bersatu".
Maas mengatakan bahwa dewasa ini dunia membutuhkan sebuah partisipasi baru yang berimbang dengan AS. Menurutnya, kerja sama yang berimbang dalam bentuk nilai bersama dan kepentingan dua arah. Jika kredibilitas di Uni Eropa meningkat, maka tingkat kekuatan dan kepastian pun akan meningkatkan pula. Dengan begitu, AS akan mundur, sebab saat ini AS sedang melewati garis merah.
Di mata Berlin, partisipasi berimbang Uni Eropa dengan AS dalam konsep kerja sama bisa dilakukan selama Washington tidak keluar dari garis merah kepentingan negara ini. Naiknya Donald Trump sebagai presiden AS yang mulai menjabat sejak Januari 2017 hingga kini, berdampak besar terhadap kebijakan luar negeri dan hubungan Washington dengan negara-negara dunia, termasuk Jerman yang selama ini terjalin relatif baik. Tapi kebijakan sepihak seperti kenaikan tarif impor baja dan aluminium ke AS memicu reaksi keras dari sekutu Gedung Putih sendiri.
Statemen keras menlu Jerman terhadap AS menunjukkan babak baru hubungan negara-negara Eropa dengan Washington. Langkah Trump membatalkan berbagai kesepakatan internasional seperti perjanjian perubahan iklim Paris dalam pandangan Jerman sebagai bentuk pelanggaran terhadap nilai global yang selama ini dianut bersama. Tampaknya, unilateralisme AS di bawah pimpinan Trump telah mengancam kepentingan negara-negara Eropa, terutama kepentingan ekonomi.
Pada saat yang sama, langkah Trump membuat pamor AS terpuruk yang menyebabkan Cina dan Rusia sebagai rival Eropa merasa mendapatkan angin segar, meskipun dalam beberapa hal tetap dirugikan oleh kebijakan AS. Oleh karena itu, para pejabat negara Eropa menyerukan segera diambil skema tandingan terhadap kebijakan Trump dengan menguatkan solidaritas Uni Eropa. Mereka juga menyuarakan penguatan multilateralisme untuk menghadapi unilateralisme AS.
Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte menyerukan sebuah sistem internasional yang berpijak pada aturan bersama dalam menghadapi blunder AS. Rutte mengatakan, kebijakan Presiden AS, Donald Trump menyebabkan sistem multilateral global terancam melebihi sebelumnya. Perdana menteri Belanda menilai keputusan Trump keluar dari perjanjian iklim Paris, JCPOA, dan penerapan kebijakan kenaikan tarif impor baja dan alumunium sebagai langkah yang tidak bisa diterima oleh Amsterdam.
Sejatinya, kebijakan Trump tersebut berjalan berlawanan arah dengan arus kepentingan publik internasional. Akibatnya, AS akan terkucil di arena internasional, yang mulai terlihat dengan runtuhnya kredibilitas negara ini di G7 dan PBB, serta penentangan dari mitra dekatnya sendiri.(PH)